Difusi Teknologi dan Usaha Kreatif

Difusi Teknologi dan Usaha Kreatif

Usaha kreatif biasanya didominasi oleh bisnis keluarga. Usaha ini bersaing dalam pasar domestik bahkan internasional, tetapi memiliki organisasi yang sangat fleksibel dan rentan pada perubahan lingkungan bisnis. Namun, karakteristik dan sikap usaha kreatif ini sangat berbeda dengan kegiatan produksinya. Mekanisme unik yang dimiliki usaha ini membawa dampak pada proses produksi yang mendorong upaya efisiensi dan hasil produk yang unik. Semakin kreatif, semakin unik.

Sementara itu, penciptaan teknologi dan difusi pengetahuan berjalan sangat cepat. Pertanyaan selanjutnya, apakah penciptaan tersebut mampu berperan dalam mendukung keberhasilan usaha kreatif? Apalagi pada usaha kreatif yang sangat berkembang, berubah secepat perubahan teknologi.

Teknologi memfasilitasi usaha kreatif dalam penciptaan kreasi produk mereka. Orientasi teknologi perlu dibangun dalam lingkungan usaha. Ketergantungan pada teknologi menjadi kebutuhan pokok jika dikaitkan dengan produsen produk kreatif. Dengan demikian, para pengusaha harus lebih agresif meletakkan teknologi sebagai input produksi. Teknologi berkontribusi besar pada sumber daya input produksi. Hanya perusahaan yang mampu beradaptasi dengan teknologi, maka ia dapat dipastikan mampu berproduksi dalam jumlah besar. Rutinitas sederhana yang selama ini dilakukan dalam desain produk akan tergantikan pada penggunaan teknologi dalam pengerjaan produksi.

Dengan bantuan teknologi, perusahaan dapat meningkatkan kapasitas produksi. Namun, dengan resiko penggunaan biaya produksi yang lebih besar. Karenanya, banyak perusahaan mengambil keputusan untuk melakukan sub kontrak pada usaha rumahan di sekitar perusahaan. Jadi, keberhasilan usaha kreatif ditentukan oleh kreasi produk, dan menuntut perusahaan untuk menggunakan input produksi yang berteknologi tinggi. Untuk memelihara proses produksi ini, dan jika tidak ingin mengeluarkan biaya tinggi, maka pengusaha harus mampu menciptakan relasi kelembagaan di sekitar mereka.

Usaha kreatif akan bertahan jika pengusaha mampu beradaptasi dengan teknologi, membentuk jaringan perantara yang kuat, dukungan kelembagaan di lingkungan perusahaan. Dengan demikian, toleransi kegagalan usaha kreatif ini akan rendah.

rumahmediagrup/ Anita Kristina