Dilema

Dilema

“Ibu, mengapa ayah ditinggal sendiri di sini. Biar Indah temani ya.” Indah tak mau beranjak dari tempat pemakaman.

Hari itu, kami baru saja menguburkan Mas Heri yang meninggal karena sakit. Semua berjalan begitu cepat, karena Mas Heri tak pernah sekalipun mengeluh sakit.

Ia meninggalkan aku dengan dua anak yang masih kecil. Raka si sulung baru saja masuk Sekolah Menengah Pertama, sedang adiknya, Indah masih berusia tiga tahun.

Aku sebenarnya tidak siap menghadapi cobaan ini. Selama hampir 15 tahun mendampingi Mas Heri, tidak sekalipun aku diperkenankan bekerja membantunya mencari nafkah.

“Tugas kamu adalah merawat dan mendidik anak-anak kita. Mencari uang dan mencukupi kebutuhan rumah tangga itu tanggung jawabku.” begitu selalu kata Mas Heri.

Kini saat ditinggal, perasaan takut menghantuiku. “Akan kunafkahi dengan apa anak-anakku. Terutama Indah yang begitu lekat dengan ayahnya, dan selalu dipenuhi permintaannya.”

Indah masih menarik tanganku, mengajakku untuk kembali ke tempat peristirahatan terakhir ayahnya. Segera kugendong dia dan kupeluk erat. Sulit rasanya memberi penjelasan pada anak seusia Indah. Lidah ini terasa kelu, dan tenggorokan tercekat.
“Ya Allah, apa yang harus kukatakan.”

Sambil berjalan perlahan keluar dari pemakaman, aku berusaha untuk tidak menangis di hadapan Indah. Masih kucari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan peristiwa ini.

Indah yang masih kugendong berteriak keras saat tiba di pintu gerbang pemakaman.
“Ayah, besok Indah kemari lagi ya.”

Sumber foto : Kualalumpurviral.com

rumahmediagrup/hadiyatitriono