Hatimu Bisa Bicara

Di sela-sela waktu rehat jam kedua, ada percakapan lucu diantara mereka berlima. Windi, Afri, Nurul Salwa, Adinda dan Wulan. Padahal waktu itu, aku masih menahan sedikit rasa yang tak mungkin aku luahkan. Biarlah hanya Tuhan yang tahu, awal rasa yang mulai terpendam.

Brakkk!! Semua sontak terkejut, menoleh seraya melihat sikap Kagan yang tiba-tiba membuat ruangan baca, sepi seketika. Dia menyimpan barbel besi, yang tadi dipakai untuk mengadakan latihan otot, dilapangan olah raga. Semua tertuju pada sorotan mata sayunya Kagan, tetapi kelihatan setitik kemarahan.

“Eh, Kagan, kau kenapa sih? Kok tiba-tiba seperti ini?”

Afri menyapa agak sedikit tergopoh-gopoh menghampiri Kagan, yang memang kelihatan sangat kesal. Seketika masuk ke ruangan baca di Perpustakaan Sekolah.

“Maaf teman, aku hanya sedikit sedang lelah, maaf”.

Sekali lagi Kagan meminta maaf, atas sikapnya barusan, lalu akhirnya duduk di sudut ruangan, dekat jendela monokrom yang agak terbuka.

Semua yang tadinya fokus memandang, mulai mengalihkan perhatian, ke buku dan laptop masing-masing. Ada yang sedang asyik menikmati alur cerita dalam buku yang sedang dibaca, sebagian lagi asyik mengedit tugas di atas laptopnya.

Akhirnya keempat sahabat Kagan menghampiri semua. Sikap kepo yang tidak dapat ditutupi. Mereka semua penasaran dengan sikap Kagan hari ini, yang biasanya selalu ceria dan usil yang kelewatan kepada sahabat-sahabatnya itu.

Siapa juga yang duluan bertanya, Kagan dengan kalem berteriak ke arah lima sohibnya
‘”FRAAANk !!!, Kenapa kalian ! 🤣🤣🤣…”

MasyaAllah semua lemas melihat tingkah aneh Kagan barusan.

“Beneran ini Frank ?, Kamu kelewatan ya!” Afri mulai memancungkan mulutnya ke arah depan, mendahului batas ujung hidungnya sendiri.

Bahkan sekarang semua berbalik merasakan aneh dengan sikap Afri, yang sekalipun dalam seumur hidupnya, duduk di bangku SMK, tidak pernah terlontar sikap kekesalan seperti saat ini.

Adinda yang lembut mendekati Afri, sementara yang lain masih menderaikan tawa.

“Hai, kamu kenapa seperti sedih begitu? Kita kan tahu bagaimana Kagan berkeseharian di sekolah, kita jangan ambil hati lah…” sembari duduk didepan Afri, yang memisahkan diri di meja baca.

“Aku hanya sedikit kesal, dengan sikap teman kita yang satu itu, betul-betul ya!”. Jawab Afri geram, lalu melanjutkan melahap cepat novel dengan judul ‘Assalamu’alaikum Calon Imam’ karangan Ima Madaniah yang sedang di bacanya untuk tugas literasi dan review di minggu ini.

Semenjak kejadian itu, Afri tak banyak berbicara apalagi gabung hanya untuk sekedar berkisah seperti mingg-minggu yang lalu.

Windi dan Nurul mulai membaca suasana. Rupanya Afri memang ada sesuatu dengan Kagan. Apa mungkin Afri mengharapkan sesuatu dari Kagan, entahlah. Yang Pasti Windi dan Nurul mengambil langkah sebagai penengah, agar suasana menjadi cair kembali diantara mereka.

Setelah semua berharap akan ada titik terang dari permasalahan ini, ternyata Kagan menyimpan cerita lalu, yang pernah tersakiti ketika mulai mengenal kata cinta. Padahal semua hanya bohong belaka.

Kesimpulan yang akhirnya dapat ditarik benang merahnya, kalau ternyata Afri memang sudah lama menyimpan rasa, namun biarkan hati yang berbicara. Tak akan ada seorangpun yang tahu bentuk isi hatinya.

Dan keenam anak manusia itupun kembali menghadirkan keceriaan di setiap sesi suasana dimanapun mereka berada. Semoga persahabatan sejati yang bak Flaminggo, tetap bernuansa pink, meski asli warna tubuhnya, tetaplah putih abu-abu.

#Nubar
#NulisBareng
#Level3
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week4
#RNB49

Pict : google share

Quote pribadi