DIMULAI DARI NOL

Sumber gambar: http;//www.indonesia.go.id/

DIMULAI DARI NOL

Ada mahasiswa datang mengajukan judul ke ruangan saya. Lalu dia bilang, ”Ibu, ini judul saya tentang Peran Kepala Desa pada Pengelolaan Dana Desa”. Emm, saya tiba-tiba teringat saat saya menulis disertasi. Saat itu saya datang ke promotor dan membawa proposal lengkap. Beliau marah dan meletakkan proposal itu, tanpa membuka sedikitpun. “Siapa yang nyuruh buat proposal?” pertanyaan Beliau yang membuat saya kaget. Karena sebelumnya proposal itu telah dibaca oleh Co Promotor, dan baik-baik saja.

“Anda ini sok tau” katanya lagi. Saya tambah kaget. Kemudian Beliau menjelaskan, bahwa penelitian kualitatif itu dibuat seperti kita masuk ke hutan. Dan kita hanya berbekal dengan pengetahuan yang kita miliki, dan mungkin juga kita punya peta (teori) sehingga kita tidak tersesat. Petakan dulu saja permasalahan-permasalahan yang ada, yang ditemui pada identifikasi awal yang sudah dilakukan.

Jadi gitu ya,  petakan dulu masalahnya. Hanya bawa masalah loh ya. Jangan bawa judul. Apalagi proposal. Kemudian, saya lihat judul mahasiswa. “Kamu sudah dapat matakuliah metodologi kan?, dapat nilai apa?”.  Dia menjawab, “Sudah bu, nilai saya B”.

Bukan hanya satu atau dua mahasiswa ya yang datang dengan sudah membawa judul. Kemudian yang harus diketahui bahwa dalam metodologi penelitian tidak pernah meminta judul. Tetapi, seringkali mahasiswa dituntut untuk mengajukan judul penelitian. Nah, mungkin jika ada aturan untuk mengajukan judul maka yang dimaksud judul tersebut adalah judul topik penelitian. Bukan judul yang spesifik ya.

Saya jelaskan kesalahapahaman ini pada mahasiswa tersebut. Persis kesalahan saya yang telah dibuat saat saya menyusun disertasi. Mahasiswa terjebak dalam aturan bahwa harus mengajukan judul untuk memilih atau mengajukan pembimbing. Judul dibuat seperti datang dari langit. Bahkan tanpa adanya observasi terlebih dahulu.

Judul itu kan menjelaskan isi atas naskah. Label yang tepat dan sesuai dengan isi naskah penelitiannya. Dan bukan juga menggambarkan hal-hal yang sudah diketahui jawabannya oleh si peneliti. Kecuali mungkin bagi penelitian pendekatan kuantitatif. Namun, pada penelitian kualitatif, judul dibuat setelah semua teridentifikasi dengan jelas.

Akhirnya, mahasiswa tersebut saya beri PR. Yakni untuk mencari topik, tema, permasalahan yang diperoleh dari observasi. Melakukan penelitian pendahuluan untuk menyakinkan bahwa masalah yang diambil dalam penelitiannya memang benar-benar teridentifikasi. Menemukan situs penelitian yang tepat pula.

Beberapa minggu kemudian, mahasiswa itu datang kembali ke ruangan saya. Dia datang membawa beberapa hasil identifikasi masalah. “Ibu, ini sudah saya petakan masalahnya. Dan ternyata bu, masalah itu disebabkan karena kepala desa memiliki pendidikan rendah, bla bla……”  Dia cerita banyak masalah dan penyebabnya.

“Kamu kalau sudah tahu jawabannya kenapa diteliti?” Jawab saya

Mahasiswanya tambah bingung. “Begini ya, penelitian yang kamu lakukan ini hanya penelitian pendahuluan. Kenapa harus dilakukan? Karena untuk menyakinkan dan mengidentifikasi permasalahan di situs penelitian yang kamu pilih. Jadi, identifikasi masalah. Bukan jawaban dari masalah”

“Lalu apa yang harus saya lakukan Bu?”

“Mulai dari nol” jawab saya, “Bacalah yang banyak tentang metodologi kualitatif. Pilih referensi yang tepat. Lakukan identifikasi masalah melalui observasi. Kalau sudah paham, datang ke saya lagi ya.”

“Siap Bu, Mulai dari nol” jawabnya dengan semangat. Bismilah…

Semoga manfaat.

rumahmediagrup/Anita Kristina