Dingin

Dingin


Rindu yang kembali datang tanpa henti. Ketika setiap kata yang terucap hanya sepatah kata. Artinya pun beribu makna. Pandangan mata hanya tertekuk dengan satu arah.


Namun, aku hanya bisa berfikir. Setiap permasalahan dalam dirimu sedang memenuhi otakmu. Saraf-saraf senantiasa bekerja keras untuk menempuh jalan keluar. Otot-otot mengeras tanpa batas. Air pun keluar tanpa jeda dari sudut wajahmu.


Bertemu itulah obat kerinduan. Tetapi hanya satu ingin aku terucap. Sikapmu berubaj seiring waktu berjalan. Mengalah untuk sejenak diam yang bisa ku lakukan.


Apalah daya diriku hanya sebatang hawa yang lemah. Menitikkan air mata di sujudmu yang aku bisa. Tidak ada satu orang pun yang bisa mengendalikan kegelisahan ini.


Sikap itu terus dingin. Aku yang ada di sampingmu, mendorong terus untuk selalu maju, memberi relung hati yang kosong. Memeluk rengkuh jiwa tak sampai untuk saling menenangkan.


Untaian kata yg terukir dalam aksara menjadi obat diriku di kala renggang waktu. Waktuku tak bersimpuh menjadi candu dalam diri.


Sepatah, dua patah, hingga tiga patah kata yang hanya terucap. Tak mempercayai seorang hawa yg bersandar di dekatnya untuk berbagi cerita. Apa yang bisa diperbuat hawa ini untuk bisa memudarkan segala masalah yang ada.


Do’a itulah yang bisa meluluh lantahkan sikap dingin ini. Allah bersama dengan hambanmNya.

Rumahmediagrup/ummuali

One comment

Comments are closed.