Dinner Was Horror

Dinner Was Horror

“Menulis itu Tak Sehoror Makan Malam.” Ulas my master.

Baru tahu loh aku, kalau makan malam itu horror.😁 Jelas bagi kaum yang mempunyai bobot badan lebih sepertiku. Makan sedikit, timbangan tetap ke kanan. Minum saja bisa menggerakkan timbangan ke kanan. Bagaimana dengan makan malam?

Terkadang sengaja kuminum beberapa gelas, hanya sekadar memenuhi kebahagian cacing dalam perutku. Lumayanlah sejenak aku bisa berdamai dengan saudaraku itu.
Belum juga setengah jam, cacing dalam perutku kembali menggangu dan mengajakku berdansa. Beberapa teguk lagi kuminum.

Wangi goreng ikan asin dan belacan membuat cacing-cacing merontak. Kruuk kruuk, bunyi perutku kembali terdengar. Kutahan, dan kututup lubang hidungku sementara menahan cacing agar tidak tergoda.
Kuntilanak tak seseram belacan
Pocong tak seseram bau ikan asin..
Kuntilanak dan pocong tak seseram makan malam.

Tahan, tahan, kruuk, kruuk kembali perut berbunyi. Rasanya ini malam panjang sekali, ingin rasanya menikmati lezatnya nasi bakar dan segelas teh poci.
Tahan, tahan, kruuk, kruuk kembali perut berbunyi. Ingin rasanya menikmati sebungkus nasi uduk hangat ditemani secangkir kopi pahit .πŸ˜‹

Malampun kian larut, kucoba memejamkan mata. Sukses untuk satu malam ini.
πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ›πŸ—

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

2 comments

Tinggalkan Balasan