Diskriminasi Gender Di Tempat Kerja (2)

Sumber gambar : http;//www.lokadata.id/

Diskriminasi Gender Di Tempat Kerja (2)

Bagaimana kondisi laki-laki dan perempuan dimaknai berbeda? Sedangkan seharusnya mereka memperoleh kesempatan yang sama, mendapatkan hak yang sama sebagai manusia. Yakni mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan apapun, begitu juga pada kegiatan ekonomi. Begitu pula dengan kesempatan yang sama dalam menikmati hasil kerja. Keseteraan gender meliputi juga pada upaya menghapus diskriminasi atau ketidakadilan struktural, di antara peran laki-laki dan perempuan dalam dunia kerja.

Dalam hubungan industrial, bisnis juga selayaknya mendukung kebebasan dan kesamaan. Yaitu menghargai hak upah yang sama, jam kerja yang sesuai (adil) dan melakukan perumdingan yang sama di antara pekerjaj laki-laki dan perempuan. Misalnya, melalui upaya menghapus bentuk kerja paksa, menghapus kerja pada usia anak-anak, dan menghapus diskriminasi pekerjaan dan jabatan.

Lalu, bagaimana caranya? Perlu upaya peningkatan pemahaman dan kepatuhan terhadap semua aturan ketenagakerjaan. Karena memang selama ini, masih banyak perusahaan melanggar aturan ketenagakerjaan, terutama pada perusahaan kecil, perusahaan mikro atau rumah tangga. Mengapa perlu dilakukan upaya ini ? Karena secara tidak langsung meningkatnya citra positif atas pengakuan hal-hak pekerja akan menjadi nilai positif bagi perusahaan/bangsa ini di mata dunia. Banyak terjadi upaya diskriminasi yang terselubung maupun yang nampak.

Diskriminasi yang dimaksud adalah banyaknya praktek ketidakadilan di tempat kerja. Merujuk pada kebijakan perusahaan yang menempatkan seseorang pekerja pada posisi yang merugikan dirinya (di lihat dalam pasar tenaga kerja). Diskriminasi ini bersifat tegas terlihat, namun pekerja tidak memiliki kuasa untuk menolak/justru menerima di posisi mana ia diperkerjakan. Diskriminasi biasanya terjadi di awal rekruitmen, sistem pengupahan, waktu kerja/istirahat, cuti, perlindungan, lama kerja, nilai pekerjaan, kesempatan perbaikan kompetensi, promosi karir, dan sebagainya. Adapun jika merugikan pekerja maka sebenarnya ada hak pekerja yang dilanggar. Namun, biasanya pada pekerjaan informal ataupun pekerja yang tidak memiliki ketrampilan lebih, maka tidak berdaya untuk menolak/berontak.

Diskriminasi juga dapat dimaknai sebagai perlakuan yang tidak menyenangkan seseorang/kebijakan perusahaan kepada pekerja atas perbedaan jenis kelamin, ras, agama, warna kulit, kewarganegaraan, cacat fisik/mental, seksual, orientasi seksual, atau juga pada praktek hubungan industrial berkenaan dengan kesetaraan dalam pekerjaan tertentu. Biasanya yang sering terjadi adalah upah tenaga kerja perempuan lebih rendah daripada upah tenaga kerja laki-laki, padahal keduanya melakukan pekerjaan yang sama. Pekerja perempuan yang sudah menikah dan memiliki tanggungan keluarga disamakan perlakuannya pada jam kerja dan upah seperti laki-laki lajang. Salah satu pasangan harus keluar jika yang sudah menikah dan bekerja di perusahaan yang sama, dan biasanya yang berhenti adalah si perempuannya. Maupun juga pada pembagian kerja dan jabatan tertentu tidak diperbolehkan untuk perempuan, walaupun perempuan mampu. Atau sebaliknya hanya dikerjakan perempuan walaupun sebenarnya laki-laki mampu.

Referensi :

Borjas, George. 2000. Labor Economics. The McGraw-Hill. United States

rumahmediagrup/Anita Kristina