DITIPU HATI

Ditipu Hati

Terperangkap dengan pemikiran sendiri. Pemikiran yang tak berdasar kemudian menyalahkan keadaan. Sudah jelas bukan, bahwa urusan seorang muslim itu ajaib, kata Rasulullah, “Bersyukur dalam kebaikan, bersabar dalam keburukan” tak ada pilihan untuk galau karena itu hanya perbuatan hati yang enggan menerima kenyataan.

Ketaatan adalah sesuatu yang tak akan pernah tergantikan namun berpeluang untuk selalu diupayakan. Tangisan pasti berhenti, luka pasti akan kering, badai itu akan pergi,  lalu apa yang membuat kita susah hati? Allah lebih Maha besar dari masalah yang kita punya.

Kita kerap ditipu oleh hati, merasa tak berarti, bahkan takut dengan sesuatu yang belum terjadi, membenci terlalu dalam, sempit memandang rahmatNya, selalu membenarkan keinginan hati padahal hanya tipu daya dan membuat kita semakin tunduk pada dunia, terperangkap dalam pola yang diciptakan makhluk. Menjalani hidup itu perkara pilihan, memilih karena nafsu atau berstandar wahyuNya.

Sang Pencipta yang berhak membuat nilai pada setiap produknya. Setiap muslim itu lebih berharga dari pada bumi seisinya, begitu Allah katakan. Kemudian bagaimana mungkin nilai itu jatuh hanya karena tak memiliki pekerjaan yang bagus, tak berpangkat tinggi, tak memiliki materi berlimpah, atau karena hanya seorang ibu rumah tangga yang tak memiliki jabatan dimata manusia. Ibu rumah tangga itu pendidik generasi, itulah nilai yang Allah sematkan padanya.

Meski bersatu dengan raga, hati kerap menipu tempat ia bernaung. Terasa semua indah, seolah pilihan ini telah tepat dan benar, namun pada hakikatnya kebenaran adalah milik Sang Pencipta. Menjadi lengah ketika harapan menghiasi. Begitu tunduk dengan aturan yang dibuat sesama makhluk.

Hati seperti apa yang menipu tempat bernaungnya?

Hati yang tak dekat dengan penciptanya. Hati yang tak dikenalkan dengan pemiliknya. Perasaan yang dimiliki hati begitu lemah hingga mampu kalahkan akal sehat. Jadikan Iman yang Allah titipkan sebagai penentu, rasa yang dimiliki hati hanya penguat bukan pijakan. Berbahaya jika hati yang berkuasa, rasanya begitu kuat cendrung mencinta karena baik menurutnya.

“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (TQS. Al Baqarah: 216)

Perasan sangat rapuh, sangat mudah jatuh bahkan hancur.  Jangan biarkan hati yang lugu itu menipu, tetap libatkan Sang Pemilik hati dalam segala hal.

rumahmediagrup/firafaradillah