Duwet, sebuah cermin

By. Gina imawan

“Duwet. Bukan duwit. Kalo denger yang bunyinya mirip-mirip aja kamu langsung perhatian. Dasaaaar….dasaar…”, Aku menoyor kepalamu. Gemas.

Sementara kamu? Cuman mencucu. Memonyongkan bibirmu 3 Senti. Lucu ih.

“Duwet itu singkatan apa? Tau nggak?”, Aku mengedipkan mata. Menggodamu.

Kamu melengos. Aku mengulum senyum. Aku tau kamu penasaran. Tuuuh… Kan. Perlahan kepalamu menoleh. Aku menarik turunkan alisku jenaka.

Sinar matamu jengkel. Namun penuh tanya. Aku tertawa. Kamu memang menggemaskan.

“Nih yaaa… Duwet itu singkatan dari…
D-alam
U-rusan
W-ejangan
E-mak
T-ak tertandingi”,

Aku tertawa lagi. Kamu mengerutkan kening tak mengerti. Bola mata cantikmu bergerak-gerak.

Oh, stop it. You make me wanna kiss you…

“Wehehehe. Nggak percaya? Coba deh diinget-inget.
Siapa yang suka ngomong…
Sarapannya diabisin. Bensin buat belajar seharian di sekolah?”,

“Bunda….”, Katamu pelan. Menggigit bibir bawahmu.

“Siapa yang sering bilang,
Ayo bobo. Udah malem. Pipis. Cuci kaki. Sikat gigi. Wudhu nggak boleh lupa…”, Aku mengubah posisi dudukku. Membelakangimu.

“Bunda…”, Katamu. Jernih suaramu menggetarkan relung kalbuku.

“Sering bilang begini juga, minumnya duduk. Pake tangan kanan.
Ayo sholat. Biar Allah sayang…
Jangan takut. Kan ada Allah, ada bunda juga…”,

Kurasakan pelukan di pundakku dan tumpuan dagu di pundakku. Hatiku rasanya kayak coklat diatas dashboard mobil. Meleleh… Lumeeer…

“Atau tegas ngomong kayak gini. Nggak. Bunda nggak akan beliin kamu hp. Kamu belum butuh. Apa? Mau browsing buat tugas. Pake hp bunda…”,

Pelukan itu mengendur. Aku tersenyum. Berbalik. Menghadiahi kecupan kecil di salah satu bagian tubuhmu. Bagian tubuh yang selalu membuatku terpesona padamu.

“Kadangkala menghibur kayak gini, Nggak apa-apa. Nggak usah dibales. Kalo dia ejek kamu. Kamu bales ngejek juga. Apa bedanya kamu sama dia? Nggak ada. Sama-sama buruknya. Istighfar yang banyak. Dia lagi ngasiin semua amal kebaikannya buat kamu…”, Aku merentangkan kedua tanganku.

Kamu menghambur dalam pelukku. Kurasakan senyummu. Juga bola matamu yang mulai berkaca. Kadangkala kita bisa merasa tanpa perlu melihat. Intuisi.

“Bangun nggak sekarang! Subuh!! Bangun! diitung sampe 3 atau bunda siram pake air!”,

Kamu segera menarik diri dari rengkuh ku.  Langsung manyun. Aku terbahak. Tak lama, kamu terbahak juga. Tawa tak henti selama lebih dari 1 menit. Begitu lepas.

“Dengerin bunda, cinta. Nggak ada satu pelatih pun yang sentimen. Dia nggak pilih kamu di tim utama karena dia belum liat apa yang kamu bisa. Naah…mulai sekarang, latihan lebih rajin buat buktiin sama dia kalo kamu layak masuk tim inti futsal…”,

“Aaah… Itu mah waktu bunda ngebujuk dia yang nangis gara-gara jadi pemain cadangan…”, Tukasmu cepat.

Aku mengangguk. Netraku dan netramu bertemu. Saling diam. Membaca ketulusan. Perlahan, kamu pun mengangguk. Tersenyum.

“Dan banyak lagiii…. Bunda yang suka ngomel. Bunda yang ngelarang ini. Ga bolehin itu. Bunda yang pengen ikut aku jalan sama si itu tuuuuh….”, kalimatmu berhenti mendadak.

Wajahmu merona malu. Kamu meletakkan kepalamu di pangkuanku. Tanganku reflek Menggaruk-garuk kepalamu. Kamu selalu suka itu.

“Bunda itu memberi rasa nyaman. Mengukir rasa aman. Menciptakan hangat. Walau kadang sengat. Memupuk percaya. Juga cahaya”, manik mata indahmu menatapku. Begitu lekat.

See what I mean?

DUWET
D-ALAM
U-RUSAN
W-EJANGAN
E-MAK
T-AK TERTANDINGI

“Eeeh tapi jangan salah, bun. Bapak-bapak juga amazing. Be a kid’s hero. With their own ways. Iya kan, Bun?”, Ocehmu cepat. Penuh semangat.

Tanpa sadar tanganmu bergerak-gerak. Gelang charm hadiah ulang tahunmu berdenting ringan. Kaos lengan pendek nyaman berwarna cerah. Celana panjang joger dari kain halus yang kau pakai begitu pas padamu.

Kamu kelihatan begitu santai. Kepala dipangkuan ku. Kaki kanan yang menumpang ke kaki kiri. Karpet empuk yang kita duduki pun begitu nyaman.

“Mungkin DUWET juga singkatan dari
D-UO
U-MAH DAN ABAH
W-ILL
E-ND
T-EARS IN OUR EYES”, kataku lembut.

Kamu bangun dengan segera. Senyum lebar terpampang nyata di wajahmu.

“MOMMA AND DADDA. GIVE US POWER TO FACE THIS WORLD. ALWAYS!”, Tanganmu mengepal ke atas. Mirip mahasiswa demo kenaikan sembako.

Aku tertawa lepas.

Kamu tau betapa bangganya aku padamu, nak?

Aku bundamu. Aku cinta kamu. Dan akan selamanya begitu.

One comment

Comments are closed.