Emak Hanya Rindu

Emak Hanya Rindu

Suasana rumah jompo siang hari begitu sepi. Semilir angin yang berembus meniupkan kerudung panjangku. Aku dan empat sahabat seperjuangan, yang tergabung dalam sebuah komunitas peduli sosial, berkesempatan menyambangi sebuah rumah jompo.

Tak banyak penghuni di rumah jompo sederhana tapi terlihat asri itu. Hanya empat perempuan yang sudah lanjut usia yang menjadi penghuni tetap rumah jompo itu. Usia yang sudah senja tak menyurutkan langkah mereka untuk tetap semangat menjalani hari.

Kala kaki ini tiba di teras rumah jompo, aku dan keempat temanku disambut senyum hangat seorang perempuan yang meski sudah terlihat renta, tapi masih begitu semangat.

Terbukti saat menyambut kedatangan kami, beliau segera mempersilakan kami duduk di kursi panjang kayu yang tertata di teras depan rumah jompo. Dengan sopan, beliau mohon izin untuk memanggil para penghuni rumah yang tengah berada di dalam.

Satu persatu ibu berusia lanjut itu datang menyambut kedatangan kami dengan sukacita. Aku terenyuh. Salah satu diantara mereka ada seorang ibu yang sudah tak memiliki satu kaki secara utuh. Dengan tongkat yang menjadi penyangganya, ibu yang masih terlihat segar itu tersenyum manis.

Kami terlibat perbincangan dengan ibu yang menyambut kami di awal tadi. Ternyata beliau adalah pengurus rumah jompo. Sudah kurang lebih dua puluh satu tahun, beliau mengabdikan dirinya di rumah jompo, tanpa adanya bantuan.

Seorang diri, bu Hamidah mengurus rumah jompo dan keempat penghuninya. Dengan hanya mengharap belas kasih dari para dermawan dan donatur, beliau mengelola rumah jompo itu dengan susah payah.

Aku, yang berdiri agak pojok, memiliki kesempatan untuk berbincang dengan salah satu ibu yang terlihat paling tua diantara penghuni rumah jompo lainnya. Ibu Marsih, beliau memperkenalkan diri.

“Ibu sudah lama tinggal di sini?” tanyaku seraya menatap wajahnya yang sudah keriput.

Beliau tersenyum.

“Panggil saja Emak,” ujarnya meminta.

Aku mengangguk.

“Emak sudah lama tinggal di sini, mungkin sekitar delapan belas tahun,” lanjutnya sambil menerawang.

“Sudah lama juga ya Emak tinggal di sini,” kataku terkejut.

“Emak merasa, rumah ini sudah menjadi rumah Emak sendiri. Sehari-hari, Emak lakukan semuanya di rumah ini. Emak menemani Ibu Hamidah mengurus panti,” katanya mulai bercerita.

Aku tersenyum.

“Maaf, Mak, kalau boleh tahu, bagaimana mulanya Emak bisa ke sini? Di mana keluarga Emak?” tanyaku mulai mengarah pribadi.

Aku berharap pertanyaanku tidak menyinggung perasaannya.

Emak Marsih terdiam sejenak. Tampak beliau seperti tengah menerawang ke masa silam.

“Dulu, Emak diantarkan sama mamang becak ke sini, keponakan Emak yang nyuruh.”

Deg. Hatiku terenyuh mendengarnya.

“Kenapa keponakan Emak menyuruh Emak ke sini?” tanyaku mulai menyelidik.

Rasa geram mulai menyerangku.

“Dia tidak mau mengurus Emak. Katanya, dia sudah repot mengurus kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Makanya Emak disuruh tinggal di sini saja, supaya ada yang ngurus katanya.”

Yaa Allah, tega sekali keponakannya itu.

“Emak tidak punya anak?” cecarku makin ingin tahu.

Emak menggeleng pelan. Ada genangan air di kedua netranya yang sudah sayu.

“Emak tidak dikaruniai anak selama menikah dengan Bapak. Kami hanya tinggal berdua di rumah kontrakan. Sejak Bapak meninggal, Emak lalu tinggal dengan keponakan Emak. Tapi, dia tak sanggup mengurus Emak,” tuturnya menceritakan kisah pilunya.

“Pernahkah keponakan Emak menjenguk Emak selama di sini?”

“Pernah beberapa kali. Itu pun jika Emak punya banyak makanan atau uang yang diberikan para dermawan yang datang kemari. Emak tak tega, akhirnya memberikan sebagain makanan itu pada keponakan Emak untuk anak-anaknya.”

Kali ini, air menggenang di kelopak mataku. Ada yang menyeruak dari dalam sini, tapi coba kutahan agar tak tertumpah. Meskipun Emak sudah diperlakukan buruk oleh keponakannya, tapi Emak masih saja mau menerima dan memberikan apa yang dimiliki. Semata karena kasih sayangnya.

“Apa yang Emak inginkan saat ini?” tanyaku lirih.

Emak tampak terdiam sejenak. Tersenyum seolah tak pernah ada beban di hatinya.

“Emak hanya ingin bertemu Bapak. Emak hanya rindu sama Bapak,” ucapnya berkaca-kaca.

Aku tak bisa berkompromi dengan hati dan pikiranku. Rasa ini begitu tercabik pilu. Genangan yang tertahan, akhirnya jatuh luruh bersama rasa sedih yang menyesakkan dada.

Yaa Allah, sungguh kau berikan kehidupan yang luar biasa pada Emak Marsih. Semoga beliau tetap kuat melewati hidup yang pastinya tak mudah dijalani.

Aku hanya berkaca diri, mengingat ibu dan nenekku yang masih Allah titipkan untuk kujaga. Meski mereka tak tinggal bersamaku, tapi mereka masih dicukupkan kebutuhannya. Aku bersyukur untuk itu semua.

Aku juga berharap, kelak hari senjaku akan bahagia. Berlimpah kasih sayang dari anak dan cucuku. Tak kekurangan apa pun. Selalu bersyukur dengan apa yang dipunya.

“Neng udah punya anak?”

Pertanyaan Emak membuyarkan lamunanku. Selama beberapa saat aku gelagapan.

“Sudah, Mak,” jawabku tersenyum.

“Beruntung Neng punya anak, tak kesepian seperti Emak.”

Aku meraih tangan Emak. Mengusap punggung tangannya yang sudah keriput.

“Emak yang sabar ya. Emak pasti bisa melewati kehidupan Emak.”

“Sekarang, Emak hanya ingin mendekatkan diri sama Gusti Allah. Emak hanya ingin segera dipertemukan sama Bapak,” pungkasnya sembari tersenyum.

Waktu semakin beranjak sore. Aku dan ketiga sahabatku mohon pamit. Tak lupa, kami menjanjikan akan datang kembali lusa nanti untuk memberikan santunan dan beberapa bingkisan kecil.

Banyak hikmah yang bisa kupetik dari kunjungan ke rumah jompo itu. Terlalu banyak duka dan luka yang tercipta di sana. Diasingkan dari keluarga merupakan kenyataan pahit yang harus diterima. Meski sakit, tapi itu semua harus dijalani.

Aku berharap, semoga mereka kuat dan tegar menghadapi harapan yang tak selaras kenyataan. Karena sejatinya hidup adalah berharap yang terbaik, untuk hasilnya, hanya Allah yang menentukan.

Sumber gambar : Google

rumahmediagrup/bungamonintja