Endless Love

Endless Love

Seperti biasa, Nay membangunkanku dengan sentuhan lembutnya. “Bangun Pah, hampir Subuh.”

Wajah cantik istriku masih berbalut mukena. Dia memang rutin salat malam.

Dengan gusar aku menyingkap selimut. “Aduh Nay, tahu gak sih aku tadi malem kurang tidur. Jangan kepagian napa banguninnya.”

Nay hanya tersenyum sabar sambil melipat selimut yang teronggok di kakiku.
“Ini Senin, Pah. Biasanya Papah berangkat lebih pagi biar gak kena macet, kan?”

Aku berjalan ke kamar mandi. Nay benar, aku tak boleh terlambat. Hari ini ada meeting penting dengan Pak Surya, bosku di kantor.

***

“Nay tahu semuanya, Daf. Ada yang mengirim fotomu bersama Deasy saat kalian ketemuan di sebuah restoran.”
Gio, sahabat sekaligus teman seruanganku membawa kabar mengejutkan itu.

Sh*t. Siapa yang berani bikin kisruh, hah? Mau cari perkara sama aku?”
Aku meninju lengan kursi. Dadaku naik turun menahan emosi.

“Tenang dulu, Daf. Nay istrimu itu bener-bener deh. Aku sampai takjub ngeliat betapa cool reaksinya.”

“Biasanya perempuan sudah ngamuk-ngamuk saat tahu suaminya selingkuh. Laah, dia masih begitu kalemnya saat menanyakan kebenaran perselingkuhanmu itu.”

Aku menatap penuh harap pada Gio, ” Kamu jawab apa ke dia? Kamu gak bilang ‘iya’ kan?”

Gio meringis. Wajah tampannya mengerling menggodaku.

“Hehe Bung, foto itu terlalu jelas berbicara. Aku bilang apa pun, Nay sudah paham. Dia bukan perempuan bodoh.”

Aku mengempaskan tubuh letihku ke kursi. Tiba-tiba ada rasa takut menelusup di dada. Ya, aku takut kehilangan Nay.

***
Malam itu, Nay memasak ayam asam manis favoritku. Setelah menidurkan Bita, putri kecil kami, Nay menyusulku ke meja makan. Dia menyendokkan nasi ke piringku.

“Segini, Pah? Lagi?”
“Cukup.”

Aku memandang wajah ovalnya. Rambutnya yang sebahu dia kuncir ekor kuda, menyembunyikan usianya yang hampir 30. Ya, istriku masih tampak sama seperti 10 tahun lalu, saat aku pertama mengenalnya.

Nay istri yang baik. Sabar, menghadapi temperamenku yang kadang naik turun. Nay ibu yang sempurna. Aku tahu betapa berdedikasinya dia mengasuh anak kami.

Lalu kenapa harus ada Deasy?

Terus terang itu bukan kesengajaan. Aku hanya iseng. Iseng yang keterusan. Tapi, Deasy jauh jika dibandingkan dengan Nay. Itulah kenapa aku sudah tidak berhubungan dengan Deasy lagi.

Ternyata Tuhan hendak mengujiku. Di saat aku sudah tak lagi bersama wanita itu, justru ada yang sengaja mengirimkan foto laknat itu kepada Nay.

Dan, seperti Gio bilang. Nay memang ajaib. Dia tidak langsung mencecarku. Atau mengamuk marah-marah padaku.

Tidak.

Dia tetap bersikap baik. Dia tetap melayaniku seperti biasa. Dia hanya menghubungi Gio, menanyakan kebenaran kabar itu.

Entah, di mana dia simpan tangisnya. Tak kulihat bekas air mata. Atau aku yang abai. Kurang memperhatikan perubahan dirinya?

“Nay, tentang foto itu. Aku minta maaf. Aku salah. Tapi aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya. Sumpah. Maafkan aku, ya.”

Nay tersenyum tipis. Lekuk mungil tercetak manis di pipi kanannya. Ah, itu salah satu pesonanya. Aku ingat dulu begitu tergila-gila pada gadis kalem berlesung pipi ini.

“Iya, Pah. Aku tahu.”

Sunyi. Hanya denting sendok beradu dengan piring yang terdengar sendu. Kesunyian kembali menggantung di udara. Aku menggenggam tangannya. Kutatap mata beningnya. Mencari jawaban di sana.

Benarkah Nay sudah memaafkanku?

***

Malam semakin larut. Nay nyalang menatap langit-langit. Dafa, suaminya sudah terlelap dari tadi. Pelan dia singkirkan tangan suaminya yang memeluk perutnya.

Nay mengambil ponselnya dari nakas. Ada beberapa pesan yang masuk. Dari seseorang yang beberapa hari ini intens berkirim wa dengannya.

Nay menghela napas. Ampuni hambaMu ini ya Allah.

Dia sudah mengambil keputusan.

“Maafkan aku, Gio. Aku tak bisa meluluskan permintaanmu. Aku tak bisa. Aku tak mau membalas Dafa dengan cara seperti ini. Maaf ya, Gio.”

***
Di ujung sana, seorang pria nanar menatap ponselnya. Wanita yang sangat dicintainya, yang lebih memilih menikahi sahabatnya, telah menolaknya untuk kedua kali. Pertama, 10 tahun lalu, saat mereka sama-sama jadi mahasiswa baru. Dan kedua, kini, saat Gio ingin menyelamatkan Nay yang tersakiti oleh Dafa.

“Nay, aku akan selalu mencintaimu.” Gio mengecup foto Nay, yang selalu ada di bawah bantalnya. Di situ juga ada beberapa lembar foto Dafa dan mantan selingkuhannya. Gio memang fotografer handal.

Tamat

rumahmediagrup/meikurnia