Epik


By. Gina Imawan

google search

Huff. Aku mengelap keringat. Menormalkan nafas. Ngos-ngosan, brow…

Lari-lari ala Cinta ngejer Rangga. Demi asa yang kian lama kian redup.

Pengen nangis.

“Maaf, mbak. Karcisnya hangus”, kata petugas FO di depan. Senyumnya mengembang sesuai standar.

“Hah? Terus gimana?”, Mulutku membulat.

Jadi kereta yang aku liat tadi adalah kereta yang harusnya bawa aku pergi?

Pergi dari penatnya hari?
Menjauh sejenak dari hiruk pikuk negeri?
Negeri yang aku cinta setengah mati?

Setelah aku mati-matian aku bolak-balik bilang ke mbak ojol terlope?

“Lebih cepat, mbak”,
“Ayo ngebut, mbak”,
“Segera, mbak”,
“Kereta saya berangkat jam 4 sore, mbak”,

“Mbak bisa beli tiket lagi di loket. Tiket yang ini keretanya baru jalan 2 menit yang lalu”, tangannya bergerak menunjukkan arah loket.

2 menit? 2 menit?
2 menit tengik yang bikin aku kehilangan kesempatan buat ngobrol sepanjang jalan sama si tomboy kecil mungil sohib kuliahku?

Eeeh… Alhamdulillah Alaa Kulli haal… Pasti ada hikmahnya. Istighfar… Istighfar…

“Ini saya bisa refund nggak, pa? Uang kembali berapa persen gitu?”, Tetep usaha.

Kuterima gelengan kepala sebagai jawabannya.

Aku menghela nafas.

“Oke, jam berapa ada kereta ke Jakarta lagi, pak?”,

“Ini kereta berikutnya udah lagi nunggu, mbak. Silakan ke loket. Biar bisa berangkat pake kereta berikutnya”,

Aku mengucapkan terima kasih. Lalu ngibrit ke loket. Ditemani potter tinggi kurus berkulit legam.

Ngantri, Marimaaar …

Aku berdiri. Sabar… Sabaaaar… Sabaaaar..

Rasanya udah kayak pen ketemu gebetan setelah sekian lama LDR an…

“Aku harus berangkat ke Jakarta. Aku nggak mau pulang. Ini salah satu mimpiku”,

Aku menggumamkan kalimat itu berkali-kali dalam hati.

“Silakan, mbak… Selanjutnya…”,

Hm… Wangi mas, parfumnya.

“Ini tiket saya. Gimana urusannya?”, Tanyaku pura-pura gak faham.

“Oh ini udah hangus, mbak”, kata si mas berseragam biru dengan list batik mega mendung di pangkal lengannya.

“Refund? Berapa persen gitu, mas?”, Bola mataku pasti keliatan ngarep banget sampe masnya senyum manis.

“Maaf, mbak. Nggak bisa”,

Jadi, kita sampe disini aja, Luis Fernando?

“Oke. Saya mau beli tiket ke Jakarta segera setelah jam ini”, dengan nada suara guwe-harus-pergi-jangan-halangi-kepergian-guwe-atau-lo-bakal-tau-sendiri-akibatnya.

“Baik, mbak. Silakan. Jam 16.45 kosong. Ekonomi 155. Eksekutif 260. Mau yang mana, mbak?”,

“Ekonomi”, ku angsurkan segera sejumlah uang. Tunai. Nggak pake kartu debit apalagi kredit.

Ngapain beli tiket eksekutif kalo yang ekonomi juga ada AC nya n tempat duduknya nyaman. Ye, kaaan?

Kedipin mata ke kamu yang lagi baca. Tambah cium jauh. Emmuuuaaah…

Aku keluar dengan tiket baru di tangan. Dari loket. Bukan dari lampu ajaib. Lu pikir guwe jin piaraan Aladin?

Ransel merahku yang mengenaskan. Jangaaaan…. Jangan bawa dia pergiii… Aah… Tungguuu…

Oke, itu lebay.

Yang bener, ransel merahku langsung dipanggil eh dipanggul bapak portir yang setia. Setia menunggu demi beberapa lembar rupiah dariku untuk nafkah anak istrinya di rumah.

Boarding pass. Check.

Bapak portir yang ternyata bisu (Allaaaah…. Rabbi… Berkah ya paa, pekerjaannya) dengan isyarat memintaku menunjukkan tiket.

Dia ingin melihat gerbong dan nomer kursiku.

Berjalan cepat menuju jalur 5. Et daaaaah… Ujung sodara-sodara. Jalur paling jauh. Gerbong paling buntut.

Baiklah, aku harusnya bawa timbangan berat badan. Before-after jalan cepat sama bapak Porter, hehehe…

Yakinlah, frens semua. Kehilangan yang paling membuat emak-emak macam aku ini bahagia adalah KEHILANGAN BERAT BADAN.

Chat. Chat. Chat.

Sama sohib manisku. Sama coachku yang paling unik sedunia. Sama mbak Sherly Utami yang baiknya tak terkatakan. Ntar kami ketemuan juga sama mbak Nuraini yang beningnya kayak lautan di Raja Ampat.

Chat. Chat. Chat.

Kabar dari bu bidan cantik n fren. Dari fotonya sih, kayaknya berkereta api ria sepertiku.

Kesepakatan diambil. Kami mau ngegeruduk rumahnya bunda Rose. Ngabisin makanannya. Spend the nite there happily. Ever after biar kayak cerita Cinderella.

Bisakah membayangkan pertemuan macam apa yang akan terjadi nanti?

Lebih berisik dari pada kucing kawin kayaknya. Ini kenapa analoginya hewan sih?

Well, just forget it.

Yang jelas, rasa kami semua yang menuju Jenov Jakarta mungkin sama.

EXTRAORDINARY EXTRIMELY EXTRIME EXCITED

Hahahaha… Coba ulang kalimat ini dengan cepat 10 kali.

Udah ah, aku mulai ngantuk. Setelah menghabiskan seporsi siomay dan 6 teguk air mineral.

Aku bobo dulu yaaa… Lagian udah gak ada yang bisa diliat di luar jendela kereta. Gelap semuaaa…

Penumpang lain gak ada yang bisa aku gangguin. Pada autis.

Beberapa jam yang lalu…

“Ini motor kenapa sih?”, Aku menggerutu.

Jalannya mulai gebog-gebog. Mirip bebek bunting cari tempat bertelor.

“Laaah… Ko makin lama makin berat?”,
“Mbak… Mbak… Itu ban belakangnya kempes…”, Seorang ABG pengendara Mio di sebelahku memberitahu.

Elaaaah… Itu penumpang cewek di belakangnya sempet-sempetnya dadah dadah.

Naksir, neng?

Aku menghentikan motorku. Celingak celinguk nyari yang nggak ada…

Ya aku berharap Dateng Spiderman bawa aku berayun dengan jaringnya sampai ke stasiun Kejaksan Cirebon.

Batman boleh deh. Kapan lagi aku bisa cobain naik Batcar-nya?

Mbak Cat woman mana? Katanya kita fren, mbak. Sama-sama suka naek motor. Mengapa kau tak ada disaat aku membutuhkanmu?

Berharap di depan mata ada tulisan
TAMBAL BAN atau BENGKEL SEPEDA MOTOR

Alhamdulillah… Kagak Ade sodara-sodara… Yang ada aku keringetan dorong motornya.

Aku mulai panik.

“Udah lah, pake cara brutal aja. Pesen grab”,

Maka aku memarkir motorku. Depan toserba lokal. Mengeluarkan gawaiku. Membuka aplikasi ojol.

Klik. Klik. Klik.

“Ngebut, mbak”,

TASS.

Tali bahu sebelah kanan ranselku putus.
Oh, ransel 50 ribu ku yang manis. Mengapa memilih putus di saat begini?

Oalaaah… Pantesaaaan… Talinya udah pada brudul kayak kuncir kuda. Kuikat sebelah talinya ke tali tas selempang yang aku bawa.

Satu lagi benda uzur yang kupunya bermasalah. Apa ini semacam kode keras biar aku pensiunkan dia dan cari gantinya ya?

Hihihi pastilah kau tau maksudku, Hu Jun Pyo…

Sip. Selesai.

Kutulis pesan pada orang rumah.

“Mohon dengan sangat menyelamatkan motor uzurku kembali ke rumah. Perlakukan dia dengan baik. Hatinya rapuh seperti hatiku.”

Eaaaaa…