Fakir Cinta

Fakir Cinta

Pernahkan di suatu masa kita merasa begitu nelangsa kala sang kekasih hati tak juga datang meminang? Patah hati kala hatinya memilih hati yang lain untuk dimiliki? Atau terpuruk dalam duka yang mendalam tatkala kekasih, sang belahan jiwa terlebih dahulu memenuhi “panggilan” Rabbnya?

Pernahkan mendengar berita seseorang yang putus asa karena tak bisa memiliki sang pujaan hati lantas memilih jalan pintas dengan membunuh maupun membunuh dirinya sendiri? Ada yang jadi gila karena cintanya tak terbalaskan. Ada yang “menyeberang”, melakukan penyimpangan yang dilaknat Allah SWT dan berdalih kecewa yang tiada terperi sehingga sulit disembuhkan dengan mencintai seseorang yang baru dan berbeda.

Mengapa manusia begitu sengsara kala cintanya kepada sesama manusia tak terbalaskan? Mengapa begitu mudah manusia menghilangkan nyawa orang lain atau bahkan nyawanya sendiri saat menemui kegagalan dalam bercinta? Mengapa begitu putus asa dan frustasinya memandang hidup dalam pandangan yang sempit hingga tak mampu berpikir sehat dan bijak?

Semua itu karena kita fakir. Fakir akan cinta tetapi bukan pada tempatnya. Kita tempatkan rasa haus akan cinta pada seseorang dengan tuntutan yang luar biasa dan angan-angan yang teramat sempurna, sehingga saat menghadapi kenyataan pahit, tak pernah sanggup untuk menerima dengan pikiran terbuka.

Sumber gambar : Quotes Creator

Bandingkan bila fakir cinta itu kita tujukan pada Dia. Yang Maha Menciptakan dan Sang Pemilik segala cinta yang ada di dunia. Akankah kisah hidup kita, manusia, akan berakhir tragis dan penuh dengan kesedihan?

Akankah kita tiada menerima balasan bila mencintai-Nya? Adakah rasa pilu dan pedih yang berkepanjangan bila mencintai-Nya? Apakah Dia akan mengabaikan uluran cinta yang kita persembahkan, yang hanya satu-satunya dan melebihi apa pun yang ada di dunia?

Percayalah. Takkan sedikit pun Dia akan mengkhianati hamba yang mencintai-Nya. Takkan mengabaikan bagi siapa saja yang merasa fakir cinta-Nya, dan setiap saat selalu membisikkan nama-nama agungnya dalam setiap desah napas, dalam setiap pandangan mata dan dalam setiap tetes darah yang mengalir di dalam tubuhnya. Dia takkan pernah mengabaikan hamba yang tak pernah lupa untuk melewati malam-malam sepi menjelang dinihari, bersegera menjumpai-Nya dalam sujud-sujud panjang dan khusyuk.

Maka di manakah sekarang ini kita berada, Sobat? Apakah si fakir cinta yang masih disibukkan dengan mengharap dan mengais cinta makhluk-Nya, ataukan si fakir cinta yang sibuk merayu-Nya agar membalas persembahan cintanya dengan surga?

Wallahu alam bishowab.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah