FENOMENA COMMUTER LINE

Fenomena Commuter Line

Semilir angin pagi di bulan desember mengiringi langkah menyusuri peron stasiun. Satu dua orang melintas di depan dengan tujuan yang sama. Kerumunan manusia semakin banyak, menunggu satu moda transportasi anti macet.

Peluit panjang tanda kereta langsung melintas menyadarkanku untuk menepi. Biasanya setelah itu kereta yang akan mengantarku sampai tujuan datang. Bersiap kurapikan tas bawaanku seaman dan senyaman mungkin. Bagiku menaiki commuter line di pagi hari merupakan perjuangan besar. Ketahan malangan atau Adversity quotient sangat teruji di sini.

Wajah berseri, aroma parfum yang menguar, warna- warni model baju beragam, dengan tas berbagai merk pemandangan keseharian yang terlihat khususnya dalam gerbong wanita. Kupikir aku sebagai wanita akan lebih aman jika menaiki gerbong ini. Manakala kondisi berdesakan, masih aman dalam menjaga diriku sendiri.

Fenomena masyarakat kekinian, perempuan tak kalah dalam mengisi bidang- bidang pekerjaan. Buktinya setiap pagi banyak kaum perempuan keluar rumah untuk beraktifitas. Menjalankan roda perekonomian menjadi bagian dari perempuan saat ini. Jika ibu Kartini masih ada beliau boleh berbangga bahkan mungkin tersenyum lebar saat ini.

Gerbong- gerbong ini menjadi saksi, betapa kaum perempuan telah menunjukan eksistensi dirinya. Semestinya setiap gerbong kereta yang terisi, harus sesuai prasyarat jumlah penumpang. Namun entah mengapa, di negri tercinta ini berlaku tidak lazim masih menguasai dan dianggap sah saja. Memprihatinkan.

Entah bagaimana niatan seseorang setiap pertama kali membuka matanya untuk beraktifitas. Yang kurasakan saat ini dalam gerbong kereta khusus wanita, mereka memiliki tujuan sama yaitu sampai tepat waktu pada tujuan. Hal tersebut yang mengakibatkan keselamatan diripun menjadi prioritas kedua.

Berdesakan, saling dorong, terjepit dan entah upaya apalagi jika para wanita ini memasuki gerbong kereta. Kewanitaaannya menjadi perkasa. Dorongan kuat itu hanya berasal dari kalimat “jangan sampai tertinggal kereta” luar biasa effortnya.

Masih cerita dalam gerbong wanita. Seringnya bertemu di kereta dan gerbong yang sama akhirnya terjalin silaturahmi. Berbeda profesi dan tempat kerja menjadi peluang topik obrolan pagi di atas gerbong. Itu bagi yang tak kebagian duduk alias berdiri.

Bagi yang telah dapat tempat duduk biasanya langsung pulas tertidur tak peduli. Tak peduli saat ada orang lain yang membutuhkan tempat duduk. Tak peduli pada sekitar yang berdiri bejuang menahan lelah terjepit untuk sampai tujuan. Tak jarang kata- kata tak sopanpun ikut hadir menghangatkan jika situasi sudah tak terkendali seperti ini.

Rasanya seperti terlepas dari beban besar ketika telah sampai di stasiun tujuan. Udara segar diluar gerbong sangat dirindukan, rasa yang menyesakkan dada, setiap sendi terasa kaku akibat badan yang dipress dalam satu gerbong.

Setiap individu pengguna moda transportasi commuter line punya cerita tersendiri, namun bagiku banyak pelajaran hidup yang tak ada kelasnya yang di dapat di sini.

rumahmediagrup/anisahsaleh