Fenomena Laki-laki Dayuts

Fenomena Laki-laki Dayuts

Fitrahnya laki-laki adalah menjadi seorang pemimpin, baik dalam lingkup terkecil, yaitu keluarganya, maupun dalam tatanan kemasyarakatan.

Peran laki-laki dalam keluarga adalah sebagai nahkoda, penggerak rumah tangga agar tetap berada pada koridor Alquran dan sunnah. Bukan hanya memiliki kewajiban memberikan nafkah saja, namun juga mendidik anggota keluarganya dengan ilmu dan adab, agar kelak terhindar dari api neraka.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Menyayangi keluarga tidak harus dengan membiarkan mereka saat melakukan kesalahan, karena rasa tidak tega. Apalagi jika kesalahan yang mereka lakukan menyangkut tentang masalah akidah, maka sang pemimpin berhak untuk menegurnya dengan baik-baik. Menasehati dengan santun.

Sayangnya, perkembangan zaman yang semakin modern dan berkiblat pada dunia barat, mulai memudarkan nilai dan peran laki-laki sebagai pemimpin dalam keluarga. Banyak dari mereka yang mendiamkan anggota keluarganya tatkala mereka melakukan kesalahan, terutama yang berkaitan dengan syariat. Rasa sayang yang berlebihan membuat para lelaki ini menjadi budak perasaan. Fenomena inilah yang dinamakan dengan Dayuts.

“Ada tiga golongan manusia yang tidak akan dilihat oleh Allah (dengan pandangan kasih sayang) pada hari kiamat nanti, yaitu: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan ad-dayyuts” (HR. An-Nasa-i, no. 2562, Ahmad, 2/134 dan lain-lain. Dishahihkan oleh Adz-Dzahabi dalam Kitabul Kaba-ir, hal. 55 dan dihasankan oleh syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaaditsish Shahihah, no. 284)

Imam Ibnul Qayyim ketika menjelaskan dampak buruk perbuatan maksiat, ad-dayyuts adalah makhluk Allah yang paling buruk dan diharamkan baginya masuk surga. Demikian juga orang yang membolehkan dan menganggap baik perbuatan zalim dan melampaui batas bagi orang lain. Maka perhatikanlah akibat yang ditimbulkan karena lemahnya sifat ghirah dalam diri seseorang. 

Barangsiapa yang tidak memiliki sifat ghiroh maka berarti dia tidak memiliki iman. Karena sifat inilah yang akan menghidupkan hati, lalu menghidupkan kebaikan pada anggota badannya. Sehingga anggota badannya akan menolak perbuatan buruk dan keji yang akan dilakukan orang tersebut. Sebaliknya, hilangnya sifat ghiroh akan mematikan hati, kemudian mematikan kebaikan pada anggota badannya, sehingga sama sekali tidak ada penolak keburukan pada dirinya” (Kitab Ad-Daa-wa-ad Dawaa’, hal. 84)

Perbuatan dayuts ini dikategorikan sebagai dosa besar oleh para Ulama, seperti Ibnu Hajar al-Makki dalam kitab az-Zawajir ‘an Iqtirafil Kaba-ir, juga Adz-Dzahabi dalam al-Kaba-ir.

Boleh saja kita mencontoh teknologi barat, tapi jangan sampai melunturkan iman yang ada di dalam hati. Taat pada syariat adalah kewajiban bagi semua muslim. Oleh karena itu bekal utama bagi laki-laki pemimpin keluarga adalah pemahaman tauhid yang benar. Sehingga mampu menjadi teladan bagi keluarganya.

Tidak mengapa bila memang kita dianggap terbelakang, atau tak mau ikut arus zaman now. Selama memang bertentangan dengan syariat, maka harus tegas berkata tidak.

Semoga anggota keluarga kita terhindar dari fenomena dayuts, dan Allah senantiasa memberikan kekuatan hati untuk selalu istiqomah di jalan yang benar. Bersama dengan keluarga, sampai ke jannah-Nya.

Jangan sampai karena alasan sayang, justru melemahkan kita untuk taat pada syariat. Jangan biarkan rasa sayang berujung membawa keluarga pada panasnya api neraka.

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” 
(QS Al Furqan: 74)

Barakallahu fiikum.

rumahmediagrup/siskahamira