Filosofi Jilbab

Filosofi Jilbab

Apa kabar keimananmu hari ini, saudari muslimahku tersayang? Masihkah jilbab itu terulur lebar menutupi aurat dengan rapi? Apakah tertutup sudah aurat dan lekuk tubuh? Agar hanya lelaki halal saja yang boleh menikmati dan mengaguminya.

Masihkah ingatkah pergulatan batin dahulu? Kala diri masih berkubang dalam kejahiliyahan. Menimbang beribu rasa dan pikir. Dilema melanda. Kala hati ingin mentaati perintah Illahi namun begitu banyak aral melintang pukang.

Masihkah ingatkah bagaimana rasanya ketika hati memantapkan niat untuk memenuhi perintah-Nya agar berjilbab secara kaffah? Menghijabi hati, tubuh, pikiran dan tindak tanduk agar sesuai dengan keinginan-Nya. Tetap membulatkan tekad akan terus menutup aurat sebagai tanda ketaatan pada-Nya.

Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan menjaga kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra suami-suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau para hamba sahaya yang mereka miliki, atau para laki-laki pelayan (tua) yang tidak memiliki keinginan (terhadap) perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.

(QS. An-Nur, 24:31)

Masih ingat pulakah tatkala berpuluh pasang mata menatapi jilbabmu. Memandang penuh tanda tanya dan seolah muslimah berjilbab adalah jelmaan alien dari angkasa antah berantah. Lantas berbagai julukan tersemat pada jilbab. Fanatik. Islam fundamentalis. Aliran sesat. Ninja. Ah!

Tetapi, saat itu pula datang rangkulan hangat menguatkan. Dari saudari-saudari seiman. Yang terus menggenggam tangan kita agar tak goyah saat berpijak dan melangkah. Yang siap sedia bersama meniti jalan ghuroba. Jalan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Jalan yang semakin penuh onak dan duri, terjal dan curam. Jurang kebinasaan mengintai di sana sini. Menanti saat kelengahan dan kealpaan tiba. Tertawa, bersorak sorai dalam gemuruh bila melihat satu atau beberapa dari barisan kita terperosok dan tergelincir ke dalam jurang kenistaan yang dalam.

Jalan itu tak mudah tapi tak juga mustahil untuk ditapaki selangkah demi selangkah. Jagalah selalu jilbab yang menjadi simbol kemuliaan diri di mana pun, kapan pun dan dalam situasi apa pun. Jangan tukar ia dengan dunia yang murah dan tak seberapa. Jangan gadaikan demi lelaki tak beriman, harta yang melimpah mau pun jabatan yang tinggi. Percayalah, kebahagiaan terletak pada kepatuhan dan keistikamahan dalam berjilbab.

Sumber gambar : canva

Jilbab adalah tanda ketaatan. Bukti tunduk pada Sang Maha Pengatur dunia. Maka kenakanlah sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan-Nya. Tak perlu bertabaruj atau berhias diri berlebihan apalagi melangkah dengan jumawa di hadapan manusia.

Hanya satu saja hadiah yang akan diberikan-Nya bila kita terus istikamah berjalan di jalan-Nya hingga selamat sampai di tujuan yang sesungguhnya, yaitu rida-Nya. Sebab dengan mendapatkan rida-Nya, itulah tiket untuk membuka pintu surga-Nya. Tidakkah kita ingin menjadi bidadari-bidadari tercantik dan teristimewa di surga-Nya?

Saudariku, ingatlah pesanku ini. Pesan yang lahir dari rasa sayangku padamu. Jangan pernah mundur walau sejenak. Taatlah pada-Nya berdasarkan iman. Jika kau merasa lelah, menepilah sejenak. Genggamlah kalam-Nya erat-erat. Gantungkanlah segala lara nestapamu pada-Nya. Pandanglah selalu Dia agar hidup selamat di dunia dan akhirat. Semoga kelak kita semua berkumpul di jannah-Nya. Aamiin.

wallahu alam bishowwab.

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah