Gantung

Penantian itu akhirnya berakhir jua di ujung asa yang kian pudar di saat senja mulai berganti malam. Sekian lama Ratih mencoba membujuk diri agar mau berdamai dengan hatinya. Konflik batin yang terjadi pada dirinya belum juga menemukan arah dan tujuan.
4 tahun Ratih menanti kepastian Fahmi untuk menikahinya. Cincin yang melingkar di jari manisnya menandakan bahwa dia sudah yakin bahwa Fahmilah suatu saat nanti akan menjadi Imam untuk membimbingnya.

Ratih anak gadis dewasa yang sudah cukup matang dan siap untuk menjadi bagian tulang rusuk untuk sesosok pria yang sudah dinantinya, sekian lama untuk menjadikannya istri. Begitu juga dengan Fahmi, sosok pria yang sudah bekerja dan sudah layak menjadi imam untuk Ratih kekasih hatinya. Kedua sejoli ini sudah lama memadu cinta kasih hanya waktu yang belum mempertemukan mereka dalam naungan pernikahan.

Fahmi melamar Ratih dengan kesungguhan yang begitu meyakinkan Fahmi hadir dengan didampingi kedua kakak beserta keluarganya, bahwa ia hendak serius meminang Ratih untuk dijadikan istrinya. Namun sangat disayangkan kedua orang tua Fahmi tidak turut serta ke kediaman keluarga Ratih dengan alasan jarak yang jauh. Kedua orang tua Fahmi tinggal di Luar Jawa, dan keluarga Ratih pun memahaminya karena ini hanya sekadar pertunangan.

“Sebelumnya Kami memohon maaf kiranya kedatangan kami ke mari mengejutkan seluruh keluarga dari adinda Ratih, kehadiran kami bermaksud untuk meminang adinda Ratih sebagai calon istri dari ananda Fahmi.” Jelas kakak tertua Fahmi menjelaskan niat dan tujuan Fahmi.

“Alhamdulillah, kehadiran ananda Fahmi dan seluruh keluarga diterima dengan tangan terbuka oleh kami sekeluarga.” jawab dari perwakilan keluarga Ratih. Namun untuk pinangan ananda Fahmi sebaiknya kita tanya langsung kepada Ratih, “adinda Ratih bagaimana jawabannya, niat ananda Fahmi ingin meminang adinda sekiranya diterima atau tidak?” tanya dari perwakilan keluarga.

Jantung Ratih kian berdebar, rasanya akan copot ketika ditanya persoalan diterima atau tidak, karena sesungguhnya Ratih sudah kian lama mendambakan pertanyaan ini. Tanpa ragu Ratih menganggukkan kepalanya tanda diterima pinangan Fahmi. Rasa bahagia terpancar dari sudut mata Ratih, senyum yang tersungging disudut bibir Ratih sambil menjawab pertanyaan “Iya Pak, saya menerima pinangannya.”

Semua mengucapkan syukur kepada Allah atas kelancaran pertunangan ini, kakak perempuan Fahmi menyematkan cincin di jari manis Ratih. Tiba-tiba dari pihak keluarga Ratih bertanya, “oya, mohon maaf kapan sekiranya tanggal pernikahannya berlangsung?” tanya keluarga Ratih. Kedua kakak Fahmi saling pandang dan mengangkat kepala seolah bertanya kapan baiknya tanggal pernikahan ini berlangsung. Namun kedua kakak Fahmi tersenyum dan tetap terdiam. “Kalau menurut keluarga kami, dari pihak keluarga Ratih menginginkan agar tidak terlalu lama menunggu.” jelas kembali dari keluarga Ratih.

“Begini saja, bagaimana kalau kita kembalikan kepada Fahmi dan Ratih yang akan menjalani bahtera kehidupannya.” jelas salah satu kakak Fahmi.

“Oh ya sudah kalau begitu, bagaimana Fahmi dan Ratih?” tanya keluarga Ratih. Fahmi dan Ratih saling melirik, tak lama kemudian Ratih menundukkan pandangan. “Terserah Kepada ka Fahmi saja.” jawab Ratih dengan malu-malu dan tersenyum. “Nanti akan kami diskusikan ya Pak.” Jelas Fahmi

Sebulan setelah pertunangan akhirnya bertemulah dengan bulan suci Ramadhan yang penuh limpahan berkah dan karunia. Ratih merasa gelisah, selepas pertunangan itu Fahmi sudah lama tidak menemui Ratih. Fahmi hanya menghubunginya via sms dan telepon. Sekadar menanyakan kabar dan keadaan Ratih. Ada rasa keraguan merasuki pikiran dan hati Ratih, sebenarnya niat tidak ya Fahmi untuk menikahinya?

“Ka, kapan kita bisa melangsungkan pernikahan?” tanya Ratih melalui smsnya.

“Sabar ya sayang, kakak sedang berusaha dan berjuang mengumpulkan segalanya. Untuk biaya pernikahan kita.” balas Fahmi.

Setengah bulan berlalu, Bulan suci Ramadhan kian di ujung, Ratih semakin bimbang dan ragu. Apalagi dengan berbagai pertanyaan dari keluarga, teman dan tetangga. Usia semakin bertambah, namun pernikahan belum kunjung hadir. Keberuntungan belum menghampirinya. Kembali Ratih bertanya.

“Ka, pastinya kakak kapan menikahi Ratih?” tanya Ratih.

“Sabar ya Ratih.” jawab Fahmi dengan singkat

Sepekan lagi hari kemenangan akan tiba, namun belum ada kabar jua menghampiri Ratih. Fahmi yang biasa menanyakan kabar, menanyakan keadaan dengan pesan singkatnya dengan kata-kata yang membuat hati Ratih berbunga-bunga. Pada akhirnya tak pernah ada kabar lagi. Lenyap entah ke mana. Entah ditelan bumi yang mana, sehingga tak ada kabar. Mungkin burungpun malas untuk memberikan kabar keberadaan Fahmi.

Di malam takbiran, malam Lebaran, Ratih merenung. Ada rasa sedih yang mendalam dalam relung hatinya, menangis Ratih sejadi-jadinya. Ia beranikan diri untuk menghubungi Fahmi. “Ka, seandainya kita masih berjodoh, Ratih harap kakak bisa menikahi Ratih setelah bulan Syawal ini.” begitulah bunyi sms Ratih. Apabila kakak tidak juga menikahi Ratih dengan berat hati, aku mengatakan sudahilah hubungan kita sampai di sini. mungkin kita belum berjodoh.”

Fahmi tak menjawab pesan singkat dari Ratih, hancur hati Fahmi kala menerima pesan singkat itu. Dia berusaha untuk menahan emosi dengan sms Ratih, dia mampu memaklumi keadaan Ratih yang setiap hari ditanya dan diolok-olok oleh tetangga karena Ratih belum kunjung menikah. Sepekan setelah lebaran, Fahmi mengirimkan pesan singkat.

“Assalamu’alaikum Ratih, mohon maaf dengan sedalam-dalamnya. Aku belum bisa menikahimu. Mungkin kita belum berjodoh, sekali lagi maafkan aku. Kini aku ikhlas seandainya kau menikah dengan orang lain.”

Bagaikan petir di siang bolong, hancur luluh hati Ratih menerima pesan singkat itu. Tanpa bertemu, Tanpa melihat sosok pria yang diharapkannya kelak menjadi imam, tak ada pertemuan terakhir, dengan mudah Fahmi memutuskan suatu ikatan suci. Fahmi memutuskan pertunangan hanya lewat SMS.

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

One comment

Comments are closed.