Gaya Loe!

Suasana arisan ibu-ibu menjadi rame dan ricuh, awalnya sih hanya saling sapa dan saling mengomentari penampilan. Tapi justru malah berkembang saling menjatuhkan, gara-gara ada yang berdebat tentang penampilan akhirnya arisan jadi buyar sebelum diundi siapa yang berhak mendapatkan.

“Menyesal aku datang kesini, gara-gara Jeng Katrok akhirnya suasana jadi ambyar. Lihat gamis hijrahku sampai sobek semua, dan kerudungku jadi acak-acakan gara-gara kena jambak makhluk liar. Gregetan aku Jum!” Moncong bibir yu Romlah menuai komentar, sambil meremas sendiri genggamannya. Emosinya seakan memuncak.

“Sabar Yu, istighfar katanya sudah mau hijrah. Jadi harus berusaha istiqomah, jangan mudah terpancing amarah. Bukannya dapat apa-apa malah gamis barumu sobek semua. Lagian kenapa omongannya diladeni sih. Anggep saja orang ngigau barusan bangun tidur.”

“Tapi orang itu sombongnya selangit! Baru kaya beberapa hari saja sudah berani mengomentari penampilan orang lain, yang katanya gamisku murahan dan warnanya noraklah. Gak level, seperti penampilan orang miskin kebanyakan. Untung saja aku sudah hijrah, apalagi barusan pulang dari pengajian, jadi masih ada sisa malaikat yang nempel. Coba kalau gak. Bisa jadi perewangan premanku keluar bisa-bisa mulutnya ku sumpal pakai beha yang ada di jemuran!”

“Haaahaa, sudah jangan emosi. Omongannya jadi tidak terkontrol, mendingan yuk kita pulang.”

“Kamu itu, orang lagi marah malah diketawain. Harusnya tadi kamu belain aku bukan hanya diam saja.”

“Maaf Yu, dalam pemahamanku lebih baik diam daripada berdebat tanpa ilmu, orang yang sombong pasti akan tenggelam dalam kesombongannya. Biasa, orang lagi kena sindrom kaya mendadak jadi lupa asalnya. Padahal kalau kita menyadari lebih baik menjadi orang itu biasa-biasa saja, gak usah banyak gaya. Ngakunya punya gunung emas, rumahnya di mana-mana padahal mati juga gak dibawa, punya Alloh semua kan?

” ya, iya juga sih Jum. Hanya saja aku heran saja sama Yu Katrok itu, kok bisa sombongnya amit-amit. Katanya giginya diputihkan dengan tehnologi marmer yg habis biaya berjuta-juta. Aku gak percaya, wong wajanku saja yg buat masak itu juga lapisan marmer. Kenapa gak pakai lapisan teflon saja yang anti lengket sekalian, heh. Sombong dan barlut!”

“Apa itu barlut?”

“Lebar di mulut.” Tukas yu Romlah cepat, yang masih menimbulkan reaksi tertawa Juminten.

“Ya sudahlah Yu, yuk kita pulang. Sampai rumah ambil air wudhu dan segera salat ashar biar hati tenang.”

Tanpa menghiraukan yu Romlah yang masih penasaran ingin meluapkan emosinya, Juminten segera meninggalkan kerumunan. Takut ketularan edan

-Lelly Hapsari-