Gina, si tukang selingkuh


By. Gina Imawan

“Ini maksudnya apa?”, Tanyamu. Bola matamu melirik ke kanan.

Kamu berusaha membayangkan seorang tukang selingkuh ya?

“Ya. Aku tuh tukang selingkuh. Selingkuh bacaan. Selingkuh tulisan”, aku menjawab santuy.

Menaikkan kedua kakiku ke lengan sofa ruang tamu. Berselonjor nyaman.

“Selingkuh bacaan? Selingkuh tulisan? Maksudnya?”, Mengikuti tauladanku. Kamu pun menaikkan kakiku ke atas sofa. Santai.

“Aku suka baca buku dari cover belakang dulu. Atau dari halaman belakang. Kalo oke cover belakangnya, aku baca…”,

Kamu mengangguk-angguk.

“Nah, kadang-kadang nih, baca buku satu belum selesai. Aku pindah baca buku yang lain…”, Aku meraih toples berisi keripik. Membukanya.

Dengan cepat tanganmu bergerak. Comot. Comot. Comot.
Ko jadi kamu yang makan sih?

“Nulis juga kayak gitu. Aku lagi nulis sesuatu, tiba-tiba cling, ada ide lain. Aku tinggal tuh yang lagi aku tulis. Ganti nulis yang lain…”, Sambil ngemil keripik.

Keripik otak manusia yang dipake cuman buat ngurusin dan nyinyirin hidup orang lain. Fresh banget rasanya.

Murah pula.

“Makanya tulisanmu nggak selesai-selesai?”, Kejarmu to the point.

“Yups. Itu salah satunya”, aku bergeser pada cemilan selanjutnya.

Hati mati goreng balado.

Hati yang diambil dari manusia-manusia yang punya kekuatan buat bikin kebijakan. Kebijakan menyengsarakan. Menyengsarakan hidupnya sendiri di akhirat nanti.

Kriuk. Kriuk. Renyah sekali.

“Atau aku lagi kumat penyakit mematikan yang bikin aku nggak bisa nulis…”,

Bola matamu membesar. Cemas. Kata penyakit mematikan pasti agak horor buatmu. Buat hatimu yang lembut.

“Penyakit itu nggak ada obatnya. Bikin orang mati sebelum bener-bener mati”,

Aku mendekatkan toples selanjutnya. Kue rasa yang nggak peka. Warna coklat. Topping gila warna pink. Kuenya keras. Kayak hatinya padaku. Bantet sudah…

Aku tak jadi mengunyah. Gigiku bisa patah. Sama kayak hatiku dulu.

“Penyakit apa itu, gin? Kangker?”, Cecarmu. Bola matamu mulai berkaca. Kau memang sahabat setia.

Elaaaah…. Kenapa aku jadi pengen ngasih kamu paket liburan ke Maldives liat kamu kayak gini carenya ke aku?

“Penyakit males”, dan aku segera menghindar.

Bantal yang kamu pegang dari tadi langsung melayang padaku. Kamu mencucu. Manyun. Masih penasaran tapinya. Aku tau itu.

“Jenov Jakarta kemaren itu pengalaman epik buat aku, Sa. Aku mau tulisin setiap detilnya. Gimana disana 2 hari. Perjalanan pulang yang luar biasa…”, Aku menutup mata. Memutar kembali memori di kepala.

“Ada cinta ayah dan keluarga aku lihat. Ada khayalan liar saat kulihat jejalan penumpang commuter dan kereta. Ada versi vampir juga. Banyak yang ingin kutulis…”,

Aku mengubah posisi badanku. Merebahkan badanku di sofa. Berlengan bantal. Mataku masih tertutup.

“Dan kamu nggak tulis semua itu karena malas?”, Cebikmu gemas.

“Ralat. Belum kutulis. Bukan nggak kutulis…”, Aku menguap. Bibirku tersenyum tipis.

“Gin… Gina….”, Kamu memanggilku. Kamu pasti mikirnya aku dah tidur, kan? Bagus deh, hehehe

Aku tetap memejamkan mata. Bernafas semakin rileks…

“Gina… Gin… Bangun dong. Aku seneng nih ngobrol sama kamu…”, Kamu mengguncang pelan lenganku.

Aku tak bereaksi.
Jangan menggantungkan kebahagiaanmu di pundak orang lain, brow…

Akhirnya kamu menyerah. Aku merasakan kamu mengubah posisi dudukmu.

Et daaaah… Kenapa jadi tiduran disebelahku? Sempit nih.

Aku berbalik menghadap sandaran sofa bed. Membuka mata sejenak. Nyengir. Lalu menutup mataku kembali.

Bismika Allahumma ahya wa bismika amuut…

Babang Lee Seung Gi, kita halan-halan yuks…