Ginjal Ria (Cerpen)

Ria adalah anak satu-satunya pasangan suami istri Arman dan Poniyati. Bapaknya telah tiada saat ia berumur dua tahun. Selama ini emaknya bekerja sebagai pembantu di rumah juragan Sodik pemilik perkebunan teh.

Karena keterbatasan ekonomi, lulus dari Sekolah Dasar Ria tak melanjutkan sekolah. Ia terpaksa menerima tawaran dari juragan Sodik untuk dijadikan istri ke duanya. Hilang sudah masa-masa ceria yang seharusnya bisa ia nikmati di usianya.

Emaknya tak bisa berbuat banyak. Anak gadis satu-satunya terpaksa mereka relakan. Lima karung beras dan satu kilogram gula merah telah diantarkan oleh anak buah juragan Sodik, sebagai tanda jika Ria telah menjadi milik juragan Sodik.

Kehadiran Ria rupanya telah mengusik ketenangan keluarga besar juragan Sodik. Istri juragan Sodik memperlakukan Ria seperti pembantu. Namun ia tak pernah mengeluh, mengerjakan semua yang diperintahkan kepadanya.

Mengalah dan bersabar itulah yang dipesankan oleh emaknya. Ia bersyukur masih bisa bertemu emaknya setiap hari, hal ini sedikit mengurangi beban hidupnya. Yang terpenting bagi Ria emak dalam keadaan baik-baik saja.

Ria tak merasa khawatir dengan keadaannya seperti ini karena masih ada juragan Sodik yang menyayanginya. Meskipun tak pernah diungkapkannya secara langsung.

Tak terasa dua tahun telah berlalu, rupanya juragan Sodik menyimpan rasa iba pada Ria. Di penghujung tahun Ria diceraikan. Juragan Sodik beralasan karena Ria tak kunjung memberinya keturunan.

Juragan Sodik memulangkan Ria ke rumahnya dengan membawa satu karung beras. Ada gurat kesedihan di hatinya. Selama ini juragan Sodik memperlakukannya dengan baik, ia pasti akan merasa kehilangan.

Hidup terus berputar, yang terpenting bagi dirinya sekarang adalah emak. Mencari kerja tak mudah baginya namun ia tak boleh hanya berdiam diri. Edo kerabat jauh mengajaknya untuk bekerja sebagai penjaga toko di kota.

Tanpa pikir panjang ia mengikuti ajakan Edo. Meski dengan berat hati harus meninggalkan emak sendirian. Ria berjanji akan selalu menjenguk emaknya.

Rasa dingin serasa menembus tulang-tulangnya. Saat matanya terbuka, Ria tak tahu ia berada dimana. Namun yang ia rasakan perut bagian belakangnya terasa sakit dan nyeri seperti teriris. Ia mencoba meraba, ada perban yang membalutnya.

Ria mencoba bangun, namun ia terlalu lemah. Mencoba perlahan Ria duduk di tepi ranjang. Di samping ranjang tergeletak sebuah amplop berisi beberapa lembar uang ratusan ribu, ada catatan di dalamnya.

“Maafkan Aku Ria, terpaksa kulakukan. Jaga kesehatan terutama ginjalmu” tertanda Edo. Demikian bunyi catatan yang tertulis di kertas yang lusuh. Tak terasa bulir air mata mengalir di kedua pipinya.