Guru Eksis Atau Usang Selama WFH

Guru Eksis Atau Usang Selama WFH

Efek beberapa minggu sudah berdiam diri di rumah, walau masih dengan tanggung jawab melaksanakan WFH, bekerja dari rumah, adalah semakin terbukanya pemikiran saya akan kemampuan guru untuk tetap eksis di depan kelas setelah  libur darurat Corona dinyatakan selesai, akankah guru semakin dibutuhkan atau malah menjadi obsolete, usang.

Terbukanya kenyataan semakin banyak fasilitas belajar secara online ( e-learning), membuka peluang buat peserta didik yang haus akan ilmu pengetahuan dengan mengorek sisi terdalam suatu  konsep, materi baru bisa diakses dengan mudah. Apalagi semasa   kegiatan bekerja dan belajar dari rumah sudah banyak sekali tersedia tautan yang bisa  dengan mudah diakses, bahkan sejenis aplikasi yang awal terbentuknya harus mendaftar dan membeli salah satu varian paket guna menikmati pelayanan dalam durasi belajarnya, malah menjadi pilihan yang lebih diminati dengan ketersediaan internet gratisnya, yang pastinya ada kerjasama dengan pihak provider tertentu supaya lembaga tersebut tadi makin dikenal dan makin banyak pelanggannya.
.
Kaitannya dengan judul saya diatas adalah, terlintas pertanyaaan yang mungkin suatu saat kehadiran kita sudah obsolete (usang), secara kemampuan teknologi jika saya sebagai guru tidak terus menerus mengembangkan diri, mencari tau hal-hal yang terkait dengan metode pengajaran yang minimal mendekati keterbaruan, walau bukan yang sangat sophisticated, (canggih).

Benar memang tidak akan mungkin kehadiran sosok guru tergantikan secara emosionalnya, terbukti banyak gurauan  diposting di media sosial, kalau para bunda tidak cocok mendampingi putra-putrinya belajar selama libur darurat ini.  Seorang ibu yang latar belakangnya bukan dari kategori pendidikan minimal belum akan faham akan situasi psikologis anaknya dalam kegiatan belajar di rumah, belum lagi jika si anak mendapat aneka tugas online dari masing-masing guru mata pelajarannya. Si ibu akan *kegerahan* dengan aneka pertanyaan putra-putrinyanya, yang ujung-ujungnya meninggikan nada suara si ibu menjadi agak lebih otoriter, harus mutlak dipatuhi tanpa anak bisa menanya kenapa atau menjelaskan opsi alasannya.

Gambaran di atas tentulah yang menjadikan anak-anak di masa libur darurat ini akan selalu lebih menginginkan cepat kembali belajar bersama guru – guru mereka. Kerinduan pada tegur sapa hangat dari guru di awal memulai jam pelajaran, bimbingan dan arahan yang tentunya tidak meninggalkan unsur mempertimbangkan kondisi setiap peaerta didik adalah berbeda, sehingga sang guru akan tetap dinantikan kehadirannya.

Pengalaman selama saya bekerja dari rumah juga ketika melayani dalam  menjawab pertanyaan-pertanyaan, berdiskusi dengan peserta didik saya, adalah harus sangat lebih sabar membimbing kesulitan yang mereka hadapi mereka belajar dengan menggunakan media sosial. Mereka mengeluh lebih baik segera kembali belajar di sekolah.

Akhirnya kesimpulan saya sampai pada satu poin, bahwa walaupun semoderen dan secanggih apapun sarana belajar anak-anak, tetaplah kita sebagai guru akan selalu dibutuhkan, dengan ketentuan siap juga sang guru menyambut dan menyatu dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (ICT), di pelbagai metode dan model pembelajaran.

rumahmediagrup/isnasukainr