Hadiah Untuk Nenek

HADIAH UNTUK NENEK

Namanya Khiyara Arinal Haq, Arin begitu keluarga besar memanggilnya, tumbuh dikelilingi orang-orang yang selalu menyayanginya membuat hidup Arin selalu penuh cinta. Ayahnya seorang polisi, profesi yang sangat membanggakan, namun sayang dua tahun lalu Allah harus memanggilnya saat bertugas di Papua. Bunda Arin adalah seorang wanita hebat dan sholihah, sejak Ayah meninggal Bunda memutuskan untuk pulang ke rumah Nenek yang ada di Kediri, Jawa Timur, Nenek tinggal sendirian disana, saudara Bunda sudah menikah semua dan tinggal di desa lain, jadi sekalian Bunda menemani Nenek karena Kakek pun sudah meninggal.

Arin mengayunkan kaki dengan riang setelah Pak Satpam sekolah membantunya menyebrang jalan. Angin kemarau mempermainkan kerudung Arin yang sedikit berantakan siang itu, tapi anak kelas dua MI itu terus saja melangkah. Bunda hampir tidak pernah menjemput Arin pulang sekolah sejak Arin naik ke kelas 1 di Madrasah Ibtidaiyah. Sekolah Arin dekat dengan pasar di pusat kecamatan. Untuk menambah penghasilan Bunda berjualan sayuran di pasar bersama Nenek. Karena sekolah Arin saat ini dekat dengan pasar, maka tiap pulang sekolah Arin ikut Bunda di pasar.

“Assalamu’alaikum, Nek” sapa Arin sambil mencium tangan Nenek.
“Wallaikumsalam, nah pasti lapar kan pulang sekolah?” tanya Nenek sambil mengangsurkan sebungkus nasi kuning kesukaannya.
Dengan senang hati Arin menerima bungkusan itu. Arin mencari tempat yang nyaman untuk makan, setelah berdoa dimakannya nasi kuning itu dengan lahap. Orang-orang menyebut Arin “anak pasar” karena waktu bermainnya ia habiskan di pasar bersama Nenek dan Bunda.
“Bunda kemana, Nek?” tanya Arin selesai makan.
“Bunda mengantarkan sayur pesanan pelanggan” sahut Nenek sambil membersihkan kulit bawang putih.
“Rin, adzan dzuhur tuh, Nenek ke masjid belakang pasar, kamu jagain lapak bentar ya, sambil nunggu Bunda pulang”
“Iya Nek” sahut Arin.
Diikutinya bayangan nenek sampai tidak terlihat, dalam hati Arin kagum sama Nenek, Nenek selalu menjaga sholat berjamaah, rajin membaca Al-Qur’an dan selalu ikut kajian bersama Bunda. Kata Nenek, Nenek lagi mencari bekal hidup, entahlah Arin tidak begitu paham

Sore ini pembagian raport hasil muroja’ah kamilah di Markaz Talaqi tempat Arin mengaji, Bunda dan Arin ikut larut dengan keseruan para santri yang lagi tasmi’ dihadapan para orang tua dan undangan. Tepat pukul 17.00 acara baru selesai.
“Assalamu’alaikum, Nek” Arin mencium tangan dan pipi Nenek, Bunda juga mencium tangan dan pipi Nenek setiba dari acara.
“Nek, Arin naik level 3 hafalannya” kata Arin sambil menunjukkan raport dari Markaz Talaqi kepada Nenek.
“Wah hebat dong cucu Nenek!” seru Nenek sambil mengusap-usap kepala Arin.
“Mau minta hadiah apa?” tanya Nenek.
“Arin tidak minta hadiah, Nek, uangnya buat ditabung saja buat biaya sekolah” ucapan polos Arin membuat Nenek trenyuh.
“Iya deh, biaya sekolah sudah ada kok, tapi Nenek pingin kasih Arin hadiah, kalau sudah naik level 3 kata Bunda, berarti Arin sudah hafal juz 30 dan juz 29 kan? Berarti Arin setelah ini hafalan surat Al-Baqarah” ujar Nenek sambil menatap bola mata Arin yang bening.
“Arin pingin makan ayam goreng di Rocket Chicken yang dekat pasar Ngadiluwih itu Nek, kata teman-teman ayam gorengnya krispi dan lezat, emmm” kata Arin sambil mengulum bibirnya.
“Itu saja?” tanya Nenek.
“Iya” jawab Arin mantab.
“Baiklah, besok selesai kajian ahad pagi di masjid Al-Ikhlas kita ke Rocket Chicken”
“Asyiiikkk” seru Arin histeris, Bunda yang lagi menghangatkan sayur di dapur sampai tergopoh-gopoh masuk rumah mendengar Arin menjerit kegirangan.

Ketika Nenek, Arin, dan Bunda datang di kajian ahad pagi, acara baru saja dimulai. Bunda harus mengantarkan pesanan sayur ke pelanggan sehingga mereka sedikit terlambat. Bunda memilih tempat yang nyaman disisi utara masjid. Kali ini, pesertanya banyak sekali. Ustadz Tengku Zulkarnain lagi safari dakwah di Kediri, jadi Nenek, Arin, dan Bunda tidak mau ketinggalan. Tema kali ini yang dibahas adalah Rindu Rasulullah karena berkaitan dengan agenda Maulid Nabi Muhammad SAW .
“Bun, lihat Nenek!” Arin menyentuh tangan Bunda dan berbisik pelan, dilihatnya Nenek, air matanya menganak sungai di pipi.
“Kenapa, Mak?” Bunda merengkuh bahu Nenek pelan.
“Ternyata banyak yang belum aku lakukan untuk Rasulullah, tapi, Rasulullah sangat mencintai umatnya, kita tak bisa mengaku mencintainya, sedang banyak syariat yang Beliau bawa banyak yang kita langgar, rindu rasanya bisa bertemu Beliau, setidaknya ziarah kemakam Beliau” Nenek masih tak kuasa menahan air matanya.

Arin tahu sudah lama Nenek ingin ke Baitullah, umrah ataupun haji, sayang tabungan Nenek belum cukup. Arin pernah ikut Nenek ke biro umrah, jadi Arin tahu. Hal itupula yang membuat Nenek berusaha tidak terlambat ikut sholat jamaah, karena dikatakan dalam hadist jika kita sholat berjamaah selama 40 hari dan tidak tertinggal takbiratul ihram, maka pahalanya sama dengan menunaikan ibadah haji. Lagipula, Nenek sangat ingin berziarah ke makam Rasulullah.

“Arin, besok pas Bunda nganter ke Markaz minta tolong suruh nemui ustadzah Faya ya” pinta ustadzah Faya, saat Arin mau pulang.
“Baik Ustadzaah, nanti Arin sampaikan, Arin pulang dulu, assalamualaikum”
“Walaikumsalam” sahut ustdzah Faya.

“Bunda, Bunda tadi sudah ketemu Ustadzah Faya di Markaz?” tanya Arin saat Bunda menjemputnya.
“Sudah, Arin mau ikutan lomba tahfidz kah?” tanya Bunda.
“Mau, Bunda!” sahut Arin cepat
“Tapi, minimal harus hafal 5 juz, Arin masih kurang, gimana?”
“Hadiahnya apa Bunda?
“Haidahnya, uang tunai, juara 1 dapat 10 juta, juara 2 dapat 7,5 juta, dan juara tiga dapat 5 juta” jelas Bunda.
Ada ide cemerlang di pikiran Arin, Arin akan berusaha, siapa tahu dapat juara satu.
“Bunda daftarkan ke Ustadzah Faya, Arin akan berusaha, pasti nanti juara satu” sergah Arin mantap.
“Aamiin” Bunda mengaminkan dengan keras.

Lomba tahfidz yang diselenggarakan Televisi Jawa Timuran ini ada tiga tahapan. Alhamdulillah Arin sudah berhasil melalui tahap satu dan dua. Saat ini menuju tahap 3. Arin terus belajar, menambah hafalan dan muroja’ah. Semangatnya untuk menjadi juara mengalahkan segalanya.

Hingga waktu yang di tunggu-tunggu tiba. Pengumuman juara. Bunda terus mendampingi Arin, serta menguatkan Arin, jika Allah berkendak memberi kemenagan bagi Arin maka Arin akan menang, jika tidak maka itulah keputusan terbaik yang dikaruniakan oleh Allah untuk Arin. Arin pun sudah siap dengan segala kemungkinan.

Juri telah mengumumkan juara satu dan dua, nama Arin tidak kunjung disebut.
“Maka tibalah memanggil juara pertama hafidz cilik kita” sapaan dewan juri makin membuat hati Arin tidak menentu. Bunda mengenggam jemari Arin erat.
“Dan… pemenangnya adalah, Khiyara Arinal Haq, kepada ananda Khiyara Arinal Haq silakan maju kepanggung” subhanallah, walhamdulillah, allahuakbar, Arin dan Bunda tak henti-hentinya mengucap syukur.

Akhirnya cita-cita Nenek terkabul, Arin memberikan semua hadiah uang dari lomba tahfidz kepada Nenek. Sehingga, uang tabungan Nenek ditambah uang Arin bisa untuk memberagkatkan Nenek pergi umrah, dan berziarah ke makam Rasulullah tercinta.


“Nek, jangan lupa, bisikkan ke Rasulullah kalau ketemu disana, Arin rindu, Arin juga ingin ke sana, tapi nanti sama Bunda” bisik Arin pada Nenek saat mengantarkan Nenek di Bandar Juanda Surabaya. Nenek dan Bunda tidak kuasa menahan haru, mereka bertiga saling berpelukan, Nenek mencium kedua pipi Arin dan berjanji menyampaikan pesan Arin.

Rumahmediagrup/endahsulis1234

One comment

Comments are closed.