Harapku…

Pemakaman korban covid-19 (sumber CNN Indobesia)

Malam itu, kugelar sajadah, kupersiapkan pertenuan denganNya. Kali ini aku ingin lebih dekat denganNya. Banyak hal yang harus kubicarakan, termasuk wabah yang sedang melanda seluruh dunia, tak terkecuali negaraku.

Sepi, tenang sekali kurasa malam itu. Aku larut dalam kedekatanku denganNya. Ada rasa takut yang menghujam ketika teringat berita di salah satu media elektronik. Aku menangis, kekhawatiranku tak bisa lagi dibendung.

Hanya denganNya aku bicara jujur, di depan keluargaku tentu saya yang kuperlihatkan ketegaranku. Aku tak ingin ketakutanku membawa pengaruh yang buruk pada keluargaku. Biasalah, seorang ’emak’ itu memang wonder woman.

Aku miris ketika membaca di media, di beberapa wilayah korban covid-19 ditolak dimakamkan di wilayahnya. Ya Alloh… Ketika sakit, mereka diisolasi, jauh dari keluarga maupun teman. Setelah tutup usia, mereka pun tetap diasingkan, tidak ada keluarga atau pun kerabat yang mengantar kepergiannya dan melepasnya tiba di rumah abadi.

Seperti yang kulihat di salah saru media elektronik sore tadi. Perpisahan seorang anak yang terpapar virus covid-19. Ia dijemput ambulan dengan petugas mengenakan APD lengkap. Perpisahan yang kita belum tahu, sementara atau selamanya.

Aku menangis mengingat semua itu. Kubayangkan jika hal itu terjadi pada diriku. Kesakitan yang kurasakan sendiri, hingga saat kematian tiba, benar-benar sendiri. Memang sih, saat kematian tiba setiap orang pun akan sendirian menghadapinya. Tetapi paling tidak, ada yang mentalqinkan, Saat dimasukan ke liang lahat pun ada keluarga yang menghantarkan. Tetapi untuk korban covid-19, semua dihadapi dan dijalani sendiri.

Begitu pun bila ada yang meninggal karena penyakit lain, jika selama dia sakit ada demam atau sesak, dilakukan protokoler untuk jenasah korban covid-19. Yah, karena memang kita tidak mau ambil resiko jika memang benar jenazah adalah korban covid-19.

Masih di dalam waktuku denganNya, aku lantunkan doa panjangku. Jangan biarkan aku mengalaminya. Biarkanlah masa wabah ini cepat berlalu.

Sedihku bertambah manakala kudengar tak ada sholat taraweh di mesjid selama Ramadhan, tak tda lagi i’tikaf di mesjid saat Ramadhan, tak ada lagi sholat Ied lebaran nanti, tak ada lagi mudik ke kampung halaman. Ahh…

Berapa lama lagikah kebebasan kami dalam beraktifitas terenggut? Aku rindu masa-masa itu. Kini semua kegiatan kami terpusat di rumah. Seminggu masih biasa kami jalani, tetapi memasuki minggu ketiga mulai hati ini bergejolak. Ada kekhawatiran, ada pula kejenuhan. Akankah pada akhirnya nanti kami akan menjadi pemenang melawan virus covid-19 ini, ataukah kami menjadi bagian yang terbuang?

Allohumma as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyata fii diinii wa dunya wa ahlii wamaa lii. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada Mu maaf dan sehat wal afiyat pada agamaku, dan duniaku dan keluargaku, dan harta bendaku”.

Akhirnya, kulipat sajadahku. Kini kurasakan ketenangan, kuikhlaskan semua ketentuanMu…

Bekasi, 5 April 2020

One comment

Comments are closed.