Harga Diri Sang Imam

created by canva

Harga Diri Sang Imam

“Ayah, tidakkah engkau menyayangi ibu?” Sebuah tanya di petang jingga. Gadis cantik duduk bersama ayahnya, menatap mentari yang perlahan mengundurkan diri.

Lelaki 40 tahunan itu memandang gadis di sampingnya. “Tentu saja Ayah sayang,” jawabnya. Gadis itu tersenyum mendengar.

“Lantas, mengapa Ayah hendak menikah lagi? Bukankah Ayah sudah memiliki kebahagiaan bersama ibu dan juga aku?” Gadis itu tampak tak puas. Pertanyaan masih mengalir dari bibirnya.

“Menikah lagi, bukan perkara bahagia atau tidak. Ayah bahagia bersama kalian. Tapi, kau juga tentu paham, laki-laki yang mempunyai dua, tiga istri akan sangat disegani di sini.” Gadis itu memasang wajah protes.

“Berapa kali harus Ayah jelaskan kepadamu? Apakah semua fakta dan penjelasan Ayah masih membuatmu tak mengerti?” Gadis itu terdiam. “Laki-laki adalah manusia yang derajatnya jauh lebih tinggi dibanding wanita, kau tahu itu?”

“Aku tahu. Dan Ayah sudah menjelaskan semua kepadaku sebanyak 751 kali.” Laki-laki itu terperangah. “Ya, aku mencatatnya Ayah. Sangat jelas. Tapi, apa yang dijelaskan, semua bertentangan dengan rasa dan pikiranku. Berkali kucoba untuk memahami dan menerima semuanya, tetap… nihil.”

Lelaki itu berdiri dan mendengus kesal. “Cukup! Hentikan perdebatan ini. Kau adalah wanita. Sudah takdirmu menjalani kehidupan seperti ibumu. Lihatlah ia! Cukup diam mengunci mulut dan perasaan, dengan begitu ia akan tetap dihormati. Kau paham?”

Belum sempat mulut gadis itu menyanggah, suara kursi dibanting cukup memberitahunya untuk diam. Ayahnya marah besar.

“Urus anakmu yang tak tahu adat istiadat itu.” Perintah dan maki terdengar jelas dari dalam rumah. tak lama seorang wanita keluar dengan muka murungnya.

“Sudahlah, Jeng. Kau tak akan pernah mampu mematikan tradisi yang telah hidup ratusan tahun. Jauh sebelum kamu ada. Yang ada, kau hanya akan dianggap pemberontak. Harga diri laki-laki begitu mahal di sini, bahkan ikatan darah tak akan menumbuhkan empati jika harga diri mereka terusik. Kau paham?”

Gadis itu mengangguk. Ini bukan pertengkaran pertama, bukan pula nasihat ibu yang pertama ia dengar. Sejak nuraninya tak nyaman dengan perbedaan kehormatan laki-laki dan perempuan, ia mulai tergerak. Gadis itu tumbuh dengan ide baru di kepalanya, ide yang ia ingin semua orang tahu. Tak seperti ibu—wanita yang memiliki bahkan berjuta lebih ide—yang kehilangan kekuatan untuk sekadar menggumamkannya.

Ia tahu, protes tak akan mengubah apa yang telah turun temurun diyakini. Ia hanya tak rela, tradisi ini menyakiti wanita yang telah melahirkannya. Poligami. Wanita mana yang rela berbagi cinta. Ibu mencintai ayah, sangat. Pun sebaliknya. Namun, gadis itu tak mengerti takaran cinta seperti apa yang seharusnya ada dalam sebuah rumah tangga.

***

21 April 1895

Mereka bilang aku anak bau kencur. Anak ingusan yang baru mengenal dunia. Tanpa pengalaman.

PENGALAMAN. Benarkah orang menjadi benar karena pengalamannya? Pertanyaan yang tak seorang pun mampu menjawabnya. Hingga kubertanya pada langit juga mentari yang kadang menatap malu di balik awan. Dan jawaban itu tak jua kutemui.

Kadang kuberjalan menyusuri ombak, mencari empati dan nurani yang bisa jadi terselip di balik karang. Siapa yang mau menjadi durhaka pada sumber aliran darah yang bergemuruh di tubuhku? Sedang nuraniku terus membantah fakta. Manakah yang benar, nuraniku atau fakta ini?

Nurani adalah mata hati yang tak pernah berdusta. Jika itu benar, maka pertanyaan yang menggelitikku adalah, ke manakah nurani mereka?

Ajeng!”

Panggilan keras ayahnya membuat gadis itu terpaksa menutup buku hariannya. “Iya, Ayah. Ajeng datang.”

Lelaki itu rupanya masih menyimpan emosi. “Ajeng, mulai besok kamu tak perlu sekolah lagi. Makin bersekolah, kau malah menjadi pembantah.”

Gadis ayu itu terdiam. Kepalanya tertunduk menekuri lantai. Ini adalah awal reaksi dari ‘pemberontakan’nya. Harga diri ayah, nyatanya lebih dari sekadar masa depannya.

Siapa yang bisa memilih akan dilahirkan di mana dan dari rahim siapa? Satu yang Ajeng tahu, ia bisa memilih hendak menjadi apa kelak. Walau faktanya keinginan itu harus terhenti oleh tradisi tak terbantah.

Di salah satu bagian dunia, ada jiwa wanita-wanita terpasung oleh tradisi. Raga mereka bebas bergerak, namun pikiran mereka terkungkung dalam sel tak kasat mata.

Kubagai rinai membasahi tanah kering

Jiwaku hampa di balik jeruji peradaban

Kini kuhanya menunggu waktu

Bilakah tradisi itu merenggut nuraniku?

Ataukah sang pembebas datang menjemput.

Setetes bening membasahi lembaran kertas berisi goresan hati sang gadis. Ia berharap, tradisi ini berakhir. Hingga empati dan nurani kembali bersinar, di hati mereka yang layak disebut imam.

rumahmediagrup/walidahariyani