Hari Ibu sebagai Momentum Resolusi Tahun 2020 Tanpa Marah-marah

Hari Ibu sebagai Momentum Resolusi Tahun 2020 Tanpa Marah-marah

Oleh: Ribka ImaRi

Menjadi ibu adalah sebuah tanggung mulia terbesar di dunia yang membutuhkan proses belajar seumur hidup. Karena ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ibu juga yang menjaga, merawat, mendidik dan mendampingi setiap tahapan perkembangan anaknya bahkan sejak janin di dalam kandungan.

Dengan memberi asupan nutrisi terbaik dari mulai mengandung agar bayi terlahir sehat, lengkap dan sempurna. Layaknya cita-cita setiap ibu yang ingin menjadi sempurna bagi anak-anaknya. Akan tetapi, cita-cita mulia itu justru berubah menjadi sebuah tuntutan ibu sempurna tanpa cela yang berasal dari dalam diri ibu sendiri maupun lingkungannya.

Hal ini seringkali membuat ibu menjadi stres. Dimulai dari stres ringan sampai stres berat. Akhirnya menjadi stres berkepanjangan yang dapat membuat ibu mengalami depresi saat mengasuh anak seiring pertumbuhan dan perkembangan anak yang semakin membesar. Ketika anak membutuhkan pola pengasuhan yang semakin rumit, sementara ibu baru masih banyak belum tahu bahkan bingung cara mengasuh anak yang baik.

Seperti kita ketahui bersama di era modern ini, permasalahan pengasuhan anak menjadi perhatian serius oleh banyak pakar pengasuhan. Kasus ibu menelantarkan anak dan melakukan kekerasan terhadap anak sepertinya menjadi umum terjadi sehari-hari. Bahkan yang paling parah adalah kasus ibu yang menghilangkan nyawa buah hatinya menjadi ramai diberitakan oleh sejumlah media massa akhir-akhir ini.

Tak bisa dipungkiri lagi, ini semua berawal dari kesehatan jiwa seorang ibu. Karena mengasuh anak dibutuhkan jiwa ibu yang sehat. Sekadar slogan sederhana “ibu hamil harus bahagia agar janin terlahir bahagia” atau “ibu yang tenang membuat anak menjadi anteng” bagai sebuah mimpi yang sulit terealisasi.

Anak adalah peniru ulung yang tidak membutuhkan nasihat panjang dan lebar dari ibunya, melainkan hanya butuh contoh nyata perilaku baik dari ibunya.
Namun, hal ini memperberat pengasuhan anak yang dimulai sejak janin berada di dalam kandungan. Jika ibu hamil mengalami gangguan stres dan depresi bawaan secara genetik yang belum pernah ia ketahui sebelumnya.

Stres yang bersemayam di dalam jiwa, lalu tanpa disadari berubah wujud menjadi depresi pengasuhan di saat anak-anaknya bertumbuh dan berkembang sesuai tahapan usianya yang ternyata memicu ingatan terhadap luka batin masa lalunya.

DEFINISI PARENTING STRESS (STRES PENGASUHAN
Menurut Abidin (Ahern, 2004; Mawardah, dkk, 2012:7) stres pengasuhan digambarkan sebagai kecemasan dan ketegangan yang melampaui batas dan secara khusus berhubungan dengan peran orang tua dan interaksi antara orang tua dengan anak. Model stres pengasuhan Abidin (Ahern, 2004; Mawardah, dkk, 2012:7) juga memberikan perumpamaan bahwa “stres mendorong ke arah tidak berfungsinya pengasuhan orang tua terhadap anak, pada pokoknya menjelaskan ketidaksesuaian respon orang tua dalam menganggapi konflik dengan anak-anak mereka”.

Berikut ini isu-isu yang mengganggu proses pengasuhan anak, adalah :
1. Depresi (dengan diagnosa psikiater)
2. Depresi paska melahirkan (dengan diagnosa psikiater) atau ganngguan mental lainnya.
3. Konflik dengan pasangan
4. Konflik dengan orangtua
5. Konflik dengan mertua atau anggota keluarga pasangan
6. Mendapatkan kekerasan fisik, emotional dari orang tua
7. Mendapat pengabaian dari orangtua
8. Orang tua bercerai
9. Mendapatkan pelecehan seksual
10. Mengasuh anak seorang diri (tidak ada dukungan dari pasangan atau orang lain)
11. Serangan panik
12. Orang tua yang perfeksionis
13. Trauma masa kecil lainnya
14. Bekerja
15. Mengalami kekerasan fisik dan atau emosional dari pasangan
16. Perfeksionis
17. Introvert
18. HSP (Highly Sensitive Person), yakni orang yang sensitif terhadap suara, cahaya, temperatur udara, mudah sakit hati, mudah terbawa perasaan, meraskan penderitaan orang lain, mudah terpengaruh oleh emosi-emosi orang lain). (Yatno, Supri. 2016. Modul Mindfulness Parenting. Bab 1 halaman 6-7).

Pada kenyataannya, semua pembahasan mengenai stres dan depresi pengasuhan di atas, pernah dialami oleh pada penulis sendiri. Penulis berjuang menjadi ibu yang kembali membaik dengan mengunjungi psikolog dan berobat ke psikiater lalu memeriksakan kedua anaknya ke psikolog anak juga.

Hingga semua dinyatakan sehat jiwanya. Hal ini yang membuat penulis ingin berbagi pengalaman hidupnya ketika menjadi ibu muda yang pernah terseok hingga akhirnya menemukan cara mengasuh anak yang dirasa pas untuk ibu rentan stres dan depresi.

Bertepatan dengan Hari Ibu pada hari ini tanggal 22 Desember 2019, penulis yang juga mentor online kelas Mengasuh Inner Child Ibu Lebih Dulu mengadakan Sharing Offline Mindfulness Parenting untuk area Sokaraja, Purwokerto dan Banyumas.

Penulis berbagi cara mengendalikan emosi sebagai pertolongan pertama mencegah ibu melampiaskan emosi berbahaya kepada anak-anaknya. Dengan cara pausing, yaitu mengambil jeda sesaat, sekitar 5 menit untuk duduk bersandar supaya suara tidak semakin meningggi, mengepal tangan supaya tidak melanjutkan marah dengan memukul anak, memejamkan mata supaya tidak semakin melotot, menggigit bibir bawah supaya tidak melanjutkan sumpah serapah atau bicara kasar. Kemudian menarik napas panjang dan dalam secara perlahan melalui hidung. Hingga perut terisi udara dengan penuh. Lalu hembuskan napas panjang, perlahan dan dalam melalui mulut. Ulangi terus beberapa kali latihan pernapasan ini hingga merasa sudah cukup sadar untuk sabar. Menjadi tidak lagi otomatis mengomeli anak karena karena hal sepele. Misalnya tidak mau mandi karena masih mengantuk.

Alhmdulillah … semua peserta yang hadir akhirnya menyadari untuk memutus rantai perlukaan batin demi anak-anak kami semua. Stop sampai di kami saja, jangan meneruskannya kepada anak-anak kami.

Kami pun bertekad dan sepakat bersama untuk menjadikan “Hari Ibu sebagai momentum resolusi tahun 2020 tanpa marah-marah.”

Bismillah … terus memohon kekuatan dari Allah saja. Bersinergi sesama ibu, saling mendukung satu sama lain. Bahwa kita semua tidak sendirian mengalami depresi pengasuhan. Namun kita bisa bersama-sama senasib seperjuangan menjadi ibu yang membaik. Bismillah….

Sokaraja-Purwokerto-Banyumas, 22 Desember 2019

-Ribka ImaRi-

Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC)

“Mengasuh Anak adalah Mengasuh Inner Child Ibu Lebih Dulu.”

wa.me/6285217300183