HERITAGE, TIDAK MESTI SELALU DIJAGA

Adat istiadat dan kebiasaan mewarnai kehidupan, warisan (heritage) dari masyarakat sejak zaman dulu. Adat istiadat mengalami metamorphosis,  dari kebiasaan menjadi dasar dalam kehidupan. Lingkup keluarga maupun masyarakat, adat istiadat menjadi standar dalam menghukumi fakta. Indonesia tak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga kaya dengan ragam suku, bahasa, dan adat istiadat dengan seruan untuk selalu dijaga.

Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal (QS. Al-Hujuraat: 13)

Biasanya untuk mengindentifikasi suku seseorang berdasarkan garis keturunan, bahasa, dan kebiasaan hidup. Jika dirinci suku dapat mencapai ratusan bahkan ribuan sub suku (Badan Pusat Statistik, 18-11/2015.) Setiap suku memiliki kebiasaan,  aturannya masing-masing, mulai dari aturan menyambut kelahiran, pernikahan bahkan kematian.

Misalnya dalam pernikahan, ada ritual adat yang harus dikerjakan secara runut dengan segala persyaratannya, bayangkan jika tidak semua orang mampu melakukanya baik secara materi ataupun non materi. Adanya rangkaian ritual yang bahakan mendekati kesyirikan, seperti meyakini sesuatu atau ritual tertentu agar kelak rumah tangga  langgeng atau hidup makmur, tanpa disadari hal ini mampu menggeser akidah seseorang. Permasalahan materi bisa saja berujung pada tertundanya pernikahan atau bahkan kandas sebelum berlayar.

Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan adat istiadat, tidak ada yang salah juga dengan warisan kebudayaan. Tidak semua warisan harus selalu dijaga. Tak masalah warisan budaya, asalkan tidak melanggar hukum syara, bertentangan dengan akidah islam, dan tidak membebani yang terhukumi adat. Hidup bukan trial and error, karena hidup memiliki panduan yang sempurna.

“Al Quran Ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (TQS. Al Jasiyah: 20)

Islam hadir untuk menyatukan semua perbedaan itu apapun sukunya, apapun adatnya. Jika sudah memenuhi semua rukun sesuai sya’ra maka pernikahanpun dapat dilangsungkan atas Ridho Allah. Itu baru hanya satu perkara dalam kehidupan, masih banyak perkara-perkara dalam kehidupan sehari-hari yang belum berstandar Islam. yang harus kita pahami adalah, ketika ia menyatakan diri muslim makanya berlaku padanya seluruh hukum yang berasal dari Allah. Aturan Islam yang mulia akan menentramkan jiwa, memberikan ketenangan penganutnya

Bagi muslim,   baik dan buruknya tidak dibenarkan berstandar selain Islam.

rumahmediagrup/firafaradillah

2 comments

  1. Setuju sekali..adat yang perlu dilestarikan yang tidak bertentangan dengan syariah. Jangan sampai dengan alasan “kearifan lokal” justru mengundang murka Allah. Tauheed should be number one!🥰

    1. Yupps, masih banyak dari kita yang terjebak dengan pemahaman yang salah. Jika adat harus dijalankan.

Comments are closed.