Hidup Bukan Dongeng

Hidup Bukan Dongeng

Siapa sih yang tidak mau segala urusannya beres. Hasil memuaskan dan mulus berjalan tanpa hambatan.

“Aku jelas mau Bro,” celetuk Beni  teman sekantor. 

“Tapi sayang, itu cuma mimpi,” katanya lagi sambil tersenyum.

“Rasanya mau menyerah saja menjalani hidup ini. Pernah aku berpikir untuk menyudahi semuanya.” Rasti berkata lirih, sambil menyantap bekal makanannya dengan lesu.

“Hai Nona jaga bicaramu, kata adalah doa.” Reno berkata sambil membelalakkan matanya ke arah Rasti.

Yah, saat itu kami sedang istirahat makan siang. Cukup di ruang makan bagi karyawan, dengan bekal yang dibawa dari rumah. 

Kami dari berbagai divisi yang ada di kantor Jasa Konstruksi ini.

“Hei Rasti, kau ini cantik dan terlihat lembut, tapi jorok. Lihatlah ke bawah, nasimu berceceran di sana. Tengok itu, semut mulai berdatangan ke arah tumpahan bekalmu. Siapa cleaning service yang bertugas hari ini, apa tadi belum membersihkan ruangan ini sebelum kita masuk.”

Panjang lebar Reno bicara.

Rasti menunduk ke bawah untuk memungut remah-remah makanannya yang jatuh.

“Wah hebat ya semut-semut itu. Badannya kecil tapi sanggup mengangkat sebutir nasi  yang besarnya melebihi badannya. Ah aku mau lihat, akan dibawa kemana nasi itu.” 

Rasti berkata sambil melirik Reno yang juga tengah melihat ke arah Rasti.

“Rasti, kau kagum dengan semut-semut itu, padahal dia hanya hewan kecil tapi selalu berusaha untuk bertahan hidup sampai batas kemampuannya.” 

Reno menanggapi keinginan Rasti melihat gerak semut-semut itu.

Sementara kami masih menikmati bekal terakhir, Reno melanjutkan bicaranya lagi.

“Coba kau taruh jarimu di jalan tempat dia mengambil remah makananmu. Lihat… dia berbelok mencari jalan lain kan. 

Lihat pula, semut itu saling mendekat seperti menyapa bila bertemu semut lainnya.”

Kami jadi ikut memperhatikan gerak semut-semut itu.

“Kita juga tak tahu bagaimana mereka bisa bertahan hidup di bawah tanah yang gelap dan rentan dirusak oleh tangan manusia maupun hewan lainnya. Mudah-mudahan kamu tahu apa makna hidup semut dibandingkan dengan makna hidup yang kau dambakan, Rasti.” 

Masih terdengar Reno bicara.

“Mereka begitu gigih dan pantang menyerah. Mereka sudah mempunyai dan menjalankan tugasnya masing-masing. Sama seperti kita, semut juga menjalani kehidupan yang keras, tapi mereka tetap sabar bergerak, bersatu dan tidak pernah menyerah untuk mencari jalan keluar sampai tujuannya tercapai. Itu juga yang seharusnya ada dalam dirimu Rasti. Kita manusia, lebih berakal dari semut-semut itu.”

Reno masih melanjutkan lagi, “Kita di sini kerja team, saling mendukung untuk keberhasilan suatu pekerjaan. Tapi bila ada divisi atau rekan kita lebih sukses, jadikan itu sebagai motivasi bagi kita untuk menjadi lebih baik lagi. 

Hidup ini silih berganti, Teman. Kebahagiaan dan kesedihan akan bergilir. Kesedihan tak akan berlangsung lama, begitu juga tak selamanya kita diliputi kebahagiaan.

Semut pun selalu siaga di setiap musim, karena itu mereka tak pernah berhenti bergerak.

Sekarang, semangati dirimu seperti kau antusias melihat semut-semut itu. Bukan karena mereka makhluk kecil yang unik, tapi mereka memberi contoh bagaimana menjalani hidup ini dengan tegar, pantang menyerah dan selalu menjaga kekompakan serta silaturahmi. Kita hidup di dunia nyata bukan dongeng.” 

Reno menutup uraiannya yang panjang, namun banyak mengandung arti. Bukan hanya Rasti yang dapat memetik pelajaran siang itu, tapi semua yang ada di ruang makan.

Jam istirahat usai dan kulihat Rasti yang lembut kini lebih sigap dan bersemangat. Mungkinkah semut-semut itu telah memberinya pelajaran, seiring rangkaian kata nan bijak dari seorang teman.

Wallahualam bishawab

rumahmediagrup/hadiyatitriono