Hidup Seimbang

Hidup Seimbang

Hidup sesuai kebutuhan aja!

Toh kita akan berakhir hanya menggunakan kain.

Gak ada salahnya sih membeli sesuatu yang kita inginkan, tapi lagi-lagi rasa bahagia ketika memiliki benda tersebut hanya bertahan 3 jam. Just try it! Bukan kata saya lho…!😊

Saya pribadi, jika akan membeli sesuatu yang dirasa bukan kebutuhan mendesak, tidak akan dibeli. Jika ada pakaian baru, maka yang di dalam lemari mesti ada yang keluar untuk dihibahkan. Karena lemari pakaian gak pernah nambah maka isinya juga menyesuaikan.

Kebahagiaan adalah rasa, lalu dari mana rasa tercipta?…(jawab aja sendiri yak)

Semua yang terlihat saat ini hanyalah tipuan mata.
Maka tak heran tokoh-tokoh terkenal dunia hidupnya sangat bersahaja, meski mereka punya fulus yang gak ada serinya.

Ingat, “Kebahagiaan ‘Memiliki’ Hanya 3 Jam.”

Kita pasti mengenal tokoh Peter Parker, yang sangat terkenal dalam film Spiderman. Karena melakukan kesalahan, Peter Parker diskorsing oleh Toni Stark. Peter Parker tidak boleh lagi menggunakan baju Spiderman. Peter Parker protes:

Peter Parker:  I’m nothing without the suit!
Tony Stark: If you’re nothing without the suit, then you shouldn’t have it.

Jawaban Tonny Stark ini jleb banget. Kalau kamu bukan apa-apa tanpa barang itu, berarti kamu tak pantas memiliki barang tersebut.

Peter Parker begitu tergantung dengan seragam Spiderman. Sehingga dia bukan apa-apa tanpa seragam itu. Peter Parker merasa dia memiliki seragam hebat, tapi sebetulnya seragamnya lah yang menguasai dia.

What you own, ended up own you. Apa yang kamu miliki akhirnya akan menguasai kamu.

Ini bukan cuma problem Peter Parker. Ini problem umum orang modern. Yang begitu bernafsu mengaktifkan mode having (ingin memiliki) dari pada mode being (ingin menjadi).

Kita bekerja keras untuk bisa terus membeli dan memiliki. Dengan harapan kita bisa menjadi sesuatu dengan semua yang kita miliki. Hingga akhirnya semua barang itu menguasai dan mengatur hidup kita.

Padahal sejatinya yang kita butuhkan hanyalah segelintir barang dari banyak barang yang kita kumpulkan.

Saat ini para tokoh dan selebriti dunia mulai beralih kepada konsep hidup minimalis. Karena menurut mereka, apa yang mereka dapatkan dengan mudah hanyalah sebuah gempita sesaat. Ketika kita membeli sesuatu atau memiliki hal baru kita pasti merasa senang. Excitment itu yang mendorong kita untuk membeli dan memiliki, bahkan kita rela merogoh kocek yang dalam. Tetapi sebetulnya rasa bahagia itu hanya akan bertahan tiga jam saja. Setelah itu rasa bahagia itu hilang. Mengutip Ben Shahar, seorang ahli psikologi positif dari Harvard. Ben Shahar adalah mantan juara squash internasional. Saat dia memenangi kejuaraan squash internasional, dia begitu bahagia. Tetapi rasa itu hilang tiga jam setelah seremoni pengalungan medali.

Kita bisa melihat banyak contoh dari kehidupan orang terkenal yang kini sudah beralih konsep hidup. Salah satunya almarhum Steve Jobs yang kemana-mana selalu mengguakan turtleneck black t-shirt. Steve Jobs yang terinspiasi oleh gaya minimasli ajaran Zen, juga menerapkan prinsip minimaslis dalam semua product Apple-nya. Atau Mark Zukerberg yang selalu menggunakan kaos abu-abu. Mahatma Gandi hanya memiliki beberapa lembar kain putih yang dia tenun sendiri untuk pakainnya.

Hatta teladan para ummat akhir zaman, yaitu Baginda Nabi SAW yang sangat  sederhana dan bersahaja dalam kehidupannya. Di rumahnya hanya ada alas tidur dari pelepah kurma, beberapa potong pakaian, sandal, sisir, dan alat makan. Suatu ketika Umar Bin Khattab iba melihat keadaan rumah nabi ini, “Raja Persia hidup mewah sementara engkau penguasa jazirah Arab hidup sangat sederhana”. Dengan nada yang agak tinggi, Nabi menegur Umar, “Umar, aku tidak ada urusan dengan dunia.”

Memang tak ada yang salah dengan memiliki barang. Namun ketika barang-barang itu menguasai diri kita, maka ini akan menjadi masalah.

Wallahu a’lam.

rumahmediagroup/afafaulia18

Tinggalkan Balasan