Hijrah dari Selatan ke Utara, Mengubah Nestapa Menjadi Bahagia

Hijrah dari Selatan ke Utara, Mengubah Nestapa Menjadi Bahagia

(Proyek Buku Solo : “Akar dari Pemicu Depresi dan Bipolarku” dan Antologi “Ketika Jiwa Terlahir Kembali”)

Oleh : Ribka ImaRi.

Minggu pagi … kubuka pintu depan rumah dengan menatap takjub. MasyaAllah … pemandangan rumahku yang sekarang memang 180° berbanding terbalik dengan pemandangan rumah di Depok dulu.

Jika dulu rumahku menghadap selatan dengan keadaan yang membuat sumpek mata dan pikiran. Sekarang menghadap utara dengan pemandangan Gunung Slamet menjulang tinggi. Aku merasa ini bukan sekadar kebetulan. Melainkan sudah menjadi rencana Allah SWT yang Maha Baik.

Saat cuaca sedang cerah, gunung itu bisa terlihat lebih tinggi dan lebih biru lagi. Sebuah pemandangan yang sering kali menjadi pelipur laraku, sejak pindah ke rumah ini sedari Juni 2016.

Udara dingin nan segar menyeruak masuk ke dalam rongga hidung. Aku menghirupnya dengan segenap rasa syukur mendalam. Lalu menghembuskannya dengan lembut. Aku melakukannya sambil melafalkan kata alhamdulillah dan istighfar. Selembut mungkin….

Kulakukan dengan berulang-ulang sampai udara memenuhi rongga dada, paru dan perut. Hingga aku merasa lega. Ini merupakan salah satu teknik dalam Mindfulness Parenting.

***

“Bawa Bunda pergi jauh dari rumah ini, Yah.” isakku di subuh yang syahdu.

Suamiku hanya terdiam. Tetapi dari raut wajahnya yang tegang, aku tahu ia sedang memikirkan cara terbaik untuk pindah dari rumah ini. Sesegera mungkin. Karena tersadar istrinya sedang dalam kondisi sangat tertekan. Akibat sering terpicu keadaan. Bahkan hanya sekadar menyibak gorden jendela rumah kala melihat rumah tetangga depan.

“Bunda sudah tidak kuat lagi tinggal di sini, Yah. Tinggal dimana pun Bunda mau. Asalkan segera pindah dari sini, Yah.” pintaku lagi sambil merengek.

***
Ya, kala itu memang selalu terngiang celetuk dari tetangga depan rumah. Padahal celetuk itu sudah beberapa tahun berlalu. Namun seperti nyata setiap saat terdengar di dekat telingaku.

‘Kurang sedekah kali’ celetuk itu ringan tanpa beban. Saat sebelas jahitan di telinga kiri dan kanan belum juga kering akibat suami kecelakaan di gulung mobil.

‘Makanya Om jangan nikah sama anak kecil. Hehehe.’ celetuknya lagi sambil terkekeh. Saat aku pamit mohon doanya karena mau operasi caesar.

‘Ari-arinya ketinggalan di dalam kali.’ celetuk itu lagi tanpa pakai hati. Lagi dan lagi … membuat hati ini teriris bak disayat sembilu. Sebab belum genap seminggu perutku disayat saat operasi caesar.

Celetuk yang mungkin biasa saja bagi ibu lain. Tapi tidak bagiku. Hatiku meradang. Meskipun sudah hijrah dari Depok ke Sokaraja, aku tetap merasa nestapa saat teringat celetuk dari tetangga depan rumah dulu.

Aku bingung. Bagaimana lagi harus menata hati? Kupikir dengan pindah rumah aku bisa melupakan. Nyatanya celetuk itu semakin kuat terngiang di telingaku. Bahkan membuat serangan panik yang kuat saat menyibak gorden jendela. Jantung berdebar kencang. Ulu hati nyeri. Akibat mendendam.

Sampai suatu ketika aku mengikuti suatu pelatihan online di Agustus 2016, yaitu Mindfulness Parenting yang dimentori Pak Supri Yatno. Sebuah petunjuk dari Allah SWT untuk mengikuti pelatihan yang mengubah hidupku. Aku jadi mengetahui banyak hal yang tak pernah kusangka. Termasuk sebuah kenyataan bahwa aku ini pengidap HSP.

Keadaan seseorang yang pribadinya kelewat sensitif; misalnya, sering terlihat terharu atau menangis karena hal sepele, terlalu ‘mengambil hati’ setiap perkataan orang lain, atau bahkan enggan beraktivitas bersama karena takut menyinggung perasaan orang di dekatnya? Jangan salah! Bisa jadi orang tersebut masuk ke dalam golongan Hyper Sensitive Person (HSP). (Info Sehat. 2017. HSP atau Hyper Sensitive Person; Yuk, Kenali HSP di Sini. www.go-dok.com. https://www.go-dok.com/hsp-atau-hyper-sensitive-person/. Diakses 13 Oktober 2019).

Setelah mengenali diriku yang HSP, yang sangat mudah baperan akibat mendengar celetuk. Meski itu tak disengaja diucapkan oleh seseorang. Bahkan suamiku sendiri.

Kemudian pelan-pelan aku belajar menerima keadaan diri sendiri. Aku berusaha jujur pada diri sendiri bahwa memang hatiku sakit akibat mendengar celetuk-celetuk itu. Aku menerima satu per satu celetuk di atas. Sampai benar-benar bisa lega menerima tanpa baper (terbawa perasaan).

Butuh waktu yang tidak sebentar untuk benar-benar bisa menerimanya. Setelah berproses selama tiga tahun lamanya, hingga kini aku tetap rajin berlatih teknik pernapasan seperti yang tertulis di paragraf kedua di atas. Kemudian aku menambahkan hentakan untuk menghempas semua celetuk yang menyesakkan dada.

Termasuk semua celetuk dari orang-orang sekitar yang pernah membuatku meradang. Meski itu celetuk sepele dari suamiku.

Alhamdulillah setelah tiga tahun lamanya aku berproses, sekarang sudah tak ada nyeri hati lagi saat teringat semua celetuk dari mantan tetangga depan rumah sewaktu masih tinggal di Depok dulu.

Akhirnya, aku bisa memahami. Bukan seberapa jauh aku berhijrah dalam arti harfiah. Yaitu hijrah fisik dari yang semula tinggal di Depok menjadi tinggal di Sokaraja. Tetapi hijrah psikis sehingga batinku menjadi tenang. Aku berjuang menerima keadaan hidupku satu per satu. Sampai benar-benar bisa menerima masa lalu. Sehingga saat teringat sudah tidak menimbulkan baper bahkan sampai nyeri hati dan dendam.

Sebab aku tahu … tidak akan bisa melupakan masa lalu. Karena semua sudah terekam nyata di otak bawah sadar. Tetapi aku bisa melakukan (acceptance). Dengan menerimanya, sudah tidak menimbulkan nyeri hati setitik pun. Maha Besar Allah … alhamdulillah sekarang aku sudah bisa bahagia dalam arti sebenarnya.

Based on true story. Cerita ini akan aku tulis di event terbaru NuBar “Ketika Jiwa Terlahir Kembali”. Hijrah yang akhirnya membawa kebaikan pada keluarga kecilku yang terbebas dari beberapa lubang riba. MasyaAllah … alhamdulilah. Sssttt dalam event ini juga aku bakal sebuku bersama Founder Nubar, yaitu Pak Ilham Alfafa. Duh, senangnya.

-Ribka ImaRi-
Sokaraja, 13 Oktober 2019.

Daftar Pustaka :
Info Sehat. 2017. HSP atau Hyper Sensitive Person; Yuk, Kenali HSP di Sini. www.go-dok.com. https://www.go-dok.com/hsp-atau-hyper-sensitive-person/. Diakses 13 Oktober 2019).

#Nubar
#NulisBareng
#Level4
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week2
#day13
#MingguTemaBebas
#RNB33
#rumahmediagrup

Izin setor kepada para Admin :
Asri Susilaningrum
Emmy Herlina
Lelly Hepsarini
Hadiyati Triono
Hayfa Ega Farzana Rafie
Syarifah Nur Adni
Fuatuttaqwiyah El-adiba
Melani Pimpom Pryta Dewi
Siti Rachmawati M
Titi Keke
Terimakasih🙏🏻