Hutang Kita Kepada Sebatang Pohon

Hutang Kita Kepada Sebatang Pohon

Hari ini saya bongkar pasang pot. Tanaman yang sudah mulai tinggi dipindah ke pot yang besar. Semoga mereka tambah subur dan rimbun.

Allah yang menumbuhkan. Allah yang menyuburkan. Saya mah bisanya cuma nyiram, nambahin pupuk (kalo inget), ngajak ngobrol tanaman (kalo lagi kumat wkwkwk). Eh, beneran loh tanaman yang diperlakukan dengan penuh kasih sayang tumbuhnya juga lebih subur. Tahu dia kalo dicintai.

Tanaman ini kita butuhkan, ya Sobat. Untuk oksigen yang kita hirup. Buat menangkal debu. Buat neduhin suasana. Untuk dipandang saat galau *eh

Coba bayangkan bumi tanpa tanaman. Tak ada rumput hijau. Tak ada pohon mangga, jambu, dhuwet, dan lain-lain. Pasti panas dan gersang, kan. Debu beterbangan. Udara kotor.

Saya jadi ingat dulu pernah baca di majalah Bobo (ketahuan umurnya). Ada kisah tentang bumi di masa depan. Gara-gara manusia yang serakah, ceroboh merusak alam, sampai tumbuhan mati semua. Memang teknologi serba canggih, semua serba otomatis, serba robot. Tapi, tanpa tanaman, dunia jadi berbeda.

Suatu hari, si tokoh, seorang anak perempuan menemukan sesuatu di bawah tanah. Di kawasan terlarang. Sesuatu yang menakjubkan. Apakah itu? Sebuah tunas tanaman. Tumbuh di sela-sela bongkahan batu, di gudang bawah tanah.

Si anak dengan heran memandangi tumbuhan beneran itu. Sesuatu yang belum pernah ditemuinya. Di dekat rumahnya, memang banyak tumbuhan, bebungaan, taman, rumput, tapi semuanya artifisia. Buatan. Palsu.

Anak perempuan itu membongkar gudang bawah tanah itu dan menemukan harta karun. Beberapa kantong bibit tanaman dan catatan rahasia penelitian seorang profesor. Sang profesor telah bertahun-tahun mengembangkan formula untuk menumbuhkan tanaman asli di gudang bawah tanah itu.

Tanah di bumi saat itu memang telah tercemar hebat, tak mampu lagi ditumbuhi tanaman. Namun, sepertinya sebelum dia melihat hasil penelitiannya, profesor itu keburu meninggal dunia.

Si anak perempuan dengan tekun merawat tunas tanaman itu. Dia juga diam-diam selalu kembali ke gudang bawah tanah untuk mencoba menanam bibit-bibit tanaman yang dia temukan.

Dia harus menghindari polisi, saat masuk ke kawasan terlarang gudang bawah tanah itu.

Ada satu masalah lagi yang harus dia hadapi. Air! Saat itu, air adalah barang langka. Air bersih terbatas. Setiap orang mendapat jatah tertentu untuk sekadar minum. Miris sekali keadaan bumi saat itu.

Akhirnya, setelah berbulan-bulan bekerja keras, si anak perempuan tadi berhasil memanen bunga-bunga yang indah di taman rahasianya. Saat dia keluar dari kawasan terlarang sambil membawa sebuket besar bunga, apa yang terjadi? Dia malah menjadi buron. Dikejar-kejar aparat. Dianggap melanggar hukum dan membuat kekacauan.

Beruntung ada seorang profesor di sekolahnya yang menyelamatkannya. Formula hasil penelitian yang ditemukan di gudang bawah tanah itu diserahkan kepada pemerintah, dan si anak perempuan pun dibebaskan.

Fiuuh ceritanya panjang yaa.

Moral of the story:

Marilah kita jaga bumi kita. Jangan karena keserakahan dan kepentingan sesaat, bumi jadi rusak. Kasihan anak cucu kita kalau mereka sampai tidak tahu wujud sebuah pohon, tahunya pohon plastik. Kasihan anak cucu kita kalau sampai tidak tahu wujud asli seekor kupu-kupu. Hanya bisa melihat di buku, sambil didongengi orangtuanya, “Duluuu sekali, Nak. Kupu-kupu yang indah ini beterbangan di atas taman bunga. Duluuu sekali, Nak, ada pohon-pohon hijau yang berdaun lebat, rimbun dan segar. Buah-buahnya bergelantungan, ranum, manis. Sayang semua sudah punah, Nak ….”

rumediagrup/mei kurnia

3 comments

Comments are closed.