I Don’t Want to Say

I Don’t Want to Say


Penulis : Allys Setia Mulyati

Kayaknya, melow banget cerita hari ini. Hujan air mata iya, hujan air suci dari awan putih di atas langit, tetap ku mengharap tiba.

Senin. Hari di mana libur sekolah habis dan mulai lagi aktifitas rutin bagi semua yang di takdirkan untuk bekerja di luar rumah. Ya, pekerja yang harus ikhlas, pasrah dan terikat dengan kontrak jam kerja di tempat pekerjaannya masing-masing.

Melky, siswa sekolah di SMK Jayakarta pun, mulai kembali berjibaku dengan tugas rutin harian di sekolahnya. Minggu yang hanya satu hari yang di jadikan waktu libur, kadang membuatnya kesal, ingin menambah hari liburnya. Mana bisa gaes.

Senin, menjadi hal yang teramat sadis bagi mereka yang terpaku dengan dunia pekerjaan. Tak terkecuali Mas Edw, yang harus kembali berpenampilan fresh di kantor agar lebih memberi motivasi bagi semua karyawan dan staf di kantor.

Mr. Sani, bung Hendra, dan juga Pa Ujang sebagai para petugas satuan pengamanan yang bertugas memberikan keamanan di kantor bagi semua karyawan, sangat di apresiasi sehingga kenyamanan di tempat kerja semakin terasa aman dan nyaman.

Bos kita Mr. Hae, sangatlah bijaksana membawahi para staf yang beraneka ragam sifat dan karakternya. Meski begitu, beliau sangat di segani dan di hormati karena kepiawaiannya dalam mengatur pekerjaan semua staf dengan tupoksinya masing-masing.

Miss Ncie dan Miss Maryam, dua wanita yang paling membawa keadaan di kantor semakin ramai dengan kebersamaan mereka yang patut di acungi jempol. Meski kadang sentilan perasaan sebagai seorang wanita nya muncul, ketika masalah kecil menghampiri.

Miss Triyani, dengan segala kesederhanaannya menyatu dengan kebiasaan unik yang tidak perlu di bahas, salah satu staf yang berperan penting dalam pelayanan jasa kepada karyawan yang lain.

Aku, karyawan baru yang merasakan berjuta keberkahan dengan adanya kebersamaan seperti di rumah sendiri. Meski banyak karyawan lainnya yang masih tetap nyinyir, karena aku sebagai pendatang baru sudah banyak bisa merasakan indahnya sebuah kebersamaan ini. Keberuntungan yang DIA titipkan dalam jalan hidupku saat ini.

Ah, aku sama sekali tidak pernah peduli apa kata orang lain. Selama jalanku di rel yang masih lurus dan landai, tak perlu bersungut-sungut menginginkan yang belum bisa termiliki saat ini. Aku sangat cukup bersyukur dengan semua yang Allah SWT anugerahkan hingga saat ini.

Semua bersatu ketika hari Senin menjelang. upacara bendera rutin dilakukan, dengan semangat juang 45, di usahakan para karyawan jangan sampai kesiangan sampai di depan gerbang. Sedikit saja terlambat, jangan harap bisa masuk ke dalam halaman kantor, dengan sigap gerbang di tutup rapat tepat di jam tujuh teng oleh petugas yang sudah kebagian tugas di hari itu.

Kita semua belum menyadari, kalau hari Senin ini Mr. Hae memberikan pengumuman akan ada rapat karyawan di ruangan Dirut. Belum menyadari karena tidak tahu kalau hari itu ada acara sepatah dua patah kata dari beliau, mengingat masa bakti akan habis dalam hitungan hari.

Aku yang sering pecicilan merasa enggan menatap hari. Tetapi semua wajib berkumpul, di jam yang sama, di tempat yang sama pula. Dan semua memang sudah rapi dengan segala penampilan terbaiknya di hari Senin ini. Aku yang datang agak sedikit terlambat, langsung dengan perasaan nyaman duduk di kursi chise hitam yang masih kosong. Entah kursi siapa, yang penting aku bisa hadir dan mengikuti acara rapat pribadi di ruangan Dirut.

Awalnya semua terlihat saling memberikan ke isengan dan menggoda satu sama lain, karena memang ada yang jarang bertemu dalam satu forum. Kita masing-masing sibuk bekerja, terutama dalam hal pelayanan jasa. Meski kita semua dituntut untuk selalu tampil prima dihadapan konsumen. Kebayang kan kalau judulnya pelayan jasa, tetapi enggan memberikan pelayanan.

Rapat di mulai, semua serius memberikan arti. Mencoba lebih dapat saling merasai kalau Bos kita hari itu ternyata memberitahukan kalau masa bhakti bekerja akan mendekati masa penghabisan, dengan kata kerennya yaitu masa pensiun telah menjelang.

Mr. Hae mulai tersendat dan pelan berbicara, meski di hati kita dan di hatinya yang paling dalam, pertemuan ini jangan sampai ada kata akhir.

Begitupun dengan aku, merasa sangat kalau hal ini bukanlah sesuatu yang menakutkan. Berharap beliau selalu tetap membersamai hari dimana kita selalu menganyam asa demi majunya perusahaan yang di bawahinya.

Akhir suasana yang cukup memberi haru, karena di masing-masing individu karyawan memiliki kenangan indah tersendiri dengan sosok beliau. Kesemuanya itu hadir dengan cinta dan kasih dariNya, yang tak akan pernah terlupakan.

Semua saling merangkul dengan tatapan yang masih nyata selalu akan hadir. Meski situasi rapat yang tertutup pada saat itu, daunpun ikut berguguran menyaksikan bersihnya kesan yang terbawa dalam kebersamaan kita.

Satu cerita yang tidak akan bisa aku melupakan, that I don’t want to say goodbye, because you’re one man who give me and all sebuah sentuhan bahagia dalam memaknai arti sebuah kehidupan. Rasa terima kasihku yang teramat dalam aku sampaikan.

Aku tak bisa menahan tangis haru yang telah dihadirkan “rasa” saat itu, meski semua mengira kita baik-baik saja, dan tentu tetap akan selalu baik-baik saja, walaupun ada sedikit terselip perasaan takut akan ditinggalkan atau kehilangan.

Janji yang terucap tidak akan pernah aku lupakan. Semasa saja aku tak kan pernah lepas dari semaian do’a yang terpanjatkan. Meski kesadaran penuh meratui jiwa di keheningan malamku saat-saat nanti menjalankan kesepian rasa.

Semua tak ada yang sanggup memberi kata, hanya dengan permohonan maaf, termasuk aku sang pecicilan itu, hanya cukup dengan buliran mengalir deras di ujung kedua mata sayuku.

Sosok yang kan selalu membersamai meski jarak kan membayangi di kejauhan hari.

Sesal tak kan pernah penat mencurahkan kata hati, cukup sapaan do’a yang kan kutulis dalam gerak tapak kaki melangkah pergi.

I don’t want to say‚Ķ
but,
we’re allways LOVE and resfect you BOS! Elsewhere,,, you are there

Cerita indah sekaligus haru, yang telah ditakdirkan untuk-ku pada saat dibersamai di detik ini, merasakan kembali pilu yang kan tersambung kecerahan makna.

Tasikmalaya, 28 Oktober 2019.

rumahmediagrup/allyssetia