Ibu, Aku Rindu Ramadan yang Dulu

Ibu, Aku Rindu Ramadan yang Dulu

Arifa melempar pandangannya ke halaman rumah. Tampak sisa-sisa hujan masih menggenang di beberapa tempat. Menyisakan bau harum tanah yang masih basah. Tanaman yang tertata rapi di taman tampak segar setelah bermandikan air hujan.

Sudut matanya beralih menatap jalan raya di depan rumahnya yang tampak lenggang. Hanya ada satu dua orang bermasker yang melewatinya. Biasanya di sore hari banyak bersliweran pedagang makanan.

Arifa merasa bosan. Berapa lama sudah ia belajar di rumah? Corona mengubah segalanya. Ia rindu teman-temannya, rindu bersenda gurau saat istirahat di kantin, rindu saat mereka bersorak karena mendapat jamkos alias jam kosong. Ia ingin sekolah.

Arifa lalu duduk di sebuah kursi kayu. Dibukanya lagi sebuah sebuah buku bacaan yang belum selesai dibaca. Ya, sejak belajar di rumah, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca.

“Fa, ayo, sudah ditunggu ayah di musala!” Sesosok wajah perempuan paruh baya menyembul dari balik pintu.

Arifa mengangguk. Sejak pandemi Covid-19, ayah menunaikan kewajiban salat lima waktu di rumah. Ia menjadi imam bagi ibu dan Arifa.

“Baik, Bu,” jawab Arifa. Ditutupnya lagi buku itu. Kulanjutkan nanti.

***

Usai zikir, Arifa segera melipat mukenanya. Lalu, dipandangnya wajah sang ayah. Ada yang ingin ia tanyakan kepadanya.

“Yah, tiga hari lagi, kan puasa. Apa kita juga harus salat Tarawih di rumah?”

“Hmm … begini, Fa.” Ayah berdehem,” Seperti yang kamu ketahui pandemi covid-19 membuat kita semua diharapkan tetap berada di rumah. Kamu sendiri juga sebulan tidak sekolah, kan?”

Arifa mengangguk.

“Sejak Covid 19 dinyatakan oleh WHO sebagai pandemi global, banyak kegiatan keagamaan mulai dibatasi atau bahkan dilarang. Pengajian dilarang, salat Jumat dilarang, salat berjamaah juga dilarang,” jelas ayah.

“Kamu tahu kenapa?” tanya ibu turut bergabung.

“Biar nggak menular, Bu,” jawab Arifa.

“Betul sekali, Nak,” tukas ibu.

“Yang sabar ya, kita semua juga ingin semua ini segera berlalu, dan kehidupan kembali normal. Bisa sekolah, bisa berangkat kerja, bisa belanja tanpa takut. Tetaplah taat pada peraturan untuk kebaikan bersama,” ujar ayah.

“Kita salat Tarawih bertiga di rumah, ok?” ujar ayah sambil mengacak jilbab putri semata wayangnya itu.

“Oke, Yah!” seru Arifa.

“Oh ya, Fa. Sudahkah kamu siap menghadapi kedatangan bulan yang penuh rahmat itu?” tanya ibu.

“Ehmm … persiapan fisik, ya, Bu. Kita harus sehat supaya puasa lancar. Betul, kan, Bu?”

Ibu tersenyum, “Tepat! Selain persiapan fisik, kita semua harus mempersiapkan diri untuk menyambutnya, di antaranya membersihkan hati kita dari hal-hal yang tidak baik.”

“Ada lagi, Fa. Persiapan ilmu. Ya, kita harus tahu ilmu tentang amalan di bulan Ramadan. Ada zakat, iktikaf. Itu semua harus tahu ilmunya,” tambah ayah.

“Yang Ifa tahu, kita harus persiapan uang untuk beli makanan selama puasa,” ujar Arifa tak mau kalah. Ia senang sekali dapat berdiskusi dengan orang tuanya.

Kedua orang tua Arifa tersenyum mendengar perkataan anak mereka.

“Nggak hanya itu, Fa. Dengan uang, kita bisa bersedekah, juga dapat membeli makanan untuk buka puasa orang lain.”

Arifa manggut-manggut. Ia bangga memiliki ayah dan ibu yang memiliki pengetahuan agama meki bukan guru agama.

“Nah, sekarang kita bersih-bersih rumah, yuk! Ini juga untuk menyambut datangnya bulan Ramadan. Rumah harus selalu bersih supaya kita sehat,” ajak ibu.

“Siap, Bos!” seru Arifa dan ayah kompak.

Marhaban ya Ramadan.

Semoga kami dapat melaksanakan puasa Ramadan dan juga amalan-amalannya dengan baik.

Foto: winda’s collection

***

Rumahmediagrup/windadamayantirengganis