Ibu Pasti Datang 

Ibu Pasti Datang

Hari ini Mbah Kung memanggilku sepulang sekolah. 

“Ratih, besok pagi kamu izin dulu dari sekolah, untuk menghadap kepala sekolah adikmu Reno ya,” kata Mbah.

“Reno kenapa lagi Mbah,  dia kan sudah janji tidak berkelahi. Apalagi sekarang sudah hampir ujian kelas tiga. Bikin pusing saja,” sahutku sambil duduk menghadap mbah kung.

“Sudah, besok kamu tanya saja ke bapak Kepala Sekolah, ada apa.” Mbah menatapku lekat.

“Sekarang kamu tidak usah masak untuk makan siang sama malam, tadi Bulik Narti bawain sayur lodeh sama ikan goreng, nasinya sudah Mbah yang nanak.”

Mbah mengambil pakan ayam di rak dapur.

“Ayo ganti bajumu dulu, makan, terus istirahat. Tadi sudah di cari Prapti mau diajak pengajian teruna teruni.”

“Sebelum ngaji jangan lupa cuci baju dulu ya. Sekarang Mbah mau ngurus ayam di belakang.” 

Mbah meninggalkanku sendiri.

Aku segera beranjak ke kamar untuk berganti baju. Sambil berjalan ke arah kamar, kusingkap tudung saji di atas meja makan. Benar, ada lodeh dan ikan goreng, bikin perutku semakin lapar saja.

Bulik Narti memang sayang pada kami. Selalu ada saja hantaran dari warung miliknya. Hanya bulik satu-satunya adik bapak yang dekat dengan kami.

Di rumah ini hanya ada mbah kung, aku dan adikku. Bapak dan mbah putri sudah menghadap Allah.

Ibu…airmata ini tak terasa menetes perlahan. Iya Ibu. Ibulah yang membuat kami bisa hidup normal sampai hari ini, walau ia tak ada di sisi kami. Beliau rela mengorbankan hidupnya untuk kelangsungan hidup kami. 

Segera kuhapus tetes airmata yang masih terasa membasahi pipiku. Hari ini dan hari-hari lainnya, aku harus  menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sebelum berangkat dan sesudah pulang sekolah. 

Menyiapkan kebutuhan mbah kung, dan juga memperhatikan adikku Reno yang sudah di bangku kelas sembilan sekolah menengah pertama.

Sudah kujalani hari-hari penuh rutinitas ini sejak ibu pergi sebagai TKW, delapan tahun yang lalu. Hanya bedanya, di awal keberangkatan ibu, masih ada mbah putri yang menemani kami. Mbah putri yang menguatkan aku dan Reno, untuk melepas kepergian ibu yang berjuang untuk kehidupan kami. 

Di sela-sela hari yang terus berganti, mbah kung dan mbah putri selalu mengingatkan kami untuk mendoakan ibu. 

“Ibu kalian bukan jalan-jalan dan senang-senang. Dia bekerja keras untuk kita. Walaupun jauh, ingatlah selalu,  dia pasti senantiasa memeluk kalian dengan doa dan kecupan, seperti yang dulu dia lakukan saat masih kumpul di sini.”

Begitu kata mbah putri dengan lembut, saat menemani kami tidur.

Kami yang masih kanak-kanak saat itu,  serasa dipeluk hangat oleh ibu, setiap kali mbah putri bilang, “Ibumu saat ini juga tidur sambil memeluk hangat foto kamu Ratih dan juga kamu Reno.”

Ibu sempat pulang ke rumah saat mbah putri berpulang. Saat itu kami sudah remaja. Kami senang sekaligus sedih saat ibu datang. Sayang, ibu datang hanya untuk beberapa hari saja dan harus segera kembali ke tempatnya bekerja karena sudah terikat kontrak.

“Maafkan Ibu, sayang. Kalau ibu tidak kembali nanti harus membayar denda karena menyalahi kontrak kerjanya,” kata ibu sambil memeluk kami berdua.

“Kalian di sini harus nurut sama Mbah Kung ya, jaga dan rawat beliau. Kamu Reno, juga harus dengar kata-kata Kak Ratih ya. Nanti kalau sudah waktunya pasti Ibu akan menemani kalian seterusnya tanpa kembali lagi ke sana.”

Itulah nasehat terakhir ibu saat kami mengantarnya ke terminal.

Aku duduk termangu di meja makan, mengenang masa-masa indah dulu, hingga kurasakan tepukan di pundak. 

“Eh Ren, kamu dari mana. Kata Mbah Kung tadi kamu dipulangkan Kepala Sekolahmu karena berkelahi lagi. Kenapa to Le,” cecarku kepada Reno.

“Kamu sudah makan  apa belum. Ayo temani kakak makan, sambil kamu bilang ke kakak kenapa ada kejadian itu lagi. Besok kakak harus menghadap kepala sekolahmu lho Ren. Malu tau,” kataku sambil memonyongkan bibir ke Reno.

“Kakak lebih percaya mereka atau Reno?” Tanya Reno sambil menyendok nasi ke piring.

“Yah tergantung faktanya dong Ren. Kalau kamu memang salah, ya harus konsekuen untuk menjalani hukuman dari sekolah,” jawabku. 

“Memangnya mereka salah apa sampai kamu menantang mereka,” tanyaku.

“Reno membela ibu, Kak. Membela kehormatan ibu dan keluarga kita. Seenaknya saja mereka mengatakan kalau ibu kerja nggak bener di sana. 

Sabur tu asal ngomong saja, “Duitmu ngalir terus ya Ren, lha Emakmu tinggal ngangkang tok.”

“Jelas aku tidak terima omongan seperti itu Kak. Ibu wanita solehah, cari uang halal walaupun jauh di sana. Aku yakin itu. Makanya kusumpal mulut si Sabur itu dengan bogem mentah.”

Ditunjukkan gayanya saat Reno menghajar teman sekolahnya itu.

Ah aku terenyuh, terharu mendengarnya. Adik laki-lakiku bisa menempatkan kasih sayang ibu di relung jiwanya, walau aku tidak setuju dengan tindakannya yang membabi buta.

Biarlah esok akan ku jelaskan kepada kepala sekolah Reno, kenapa dia berbuat demikian.

“Ya sudah Ren, tolong lain kali kamu tahan emosi. Berlalu saja dari mereka, tidak usah diladeni. Anjing menggonggong kafilah berlalu. Pasti capek sendiri. Tugasmu sekarang itu buat ibu bangga dengan lulus dari sekolah menengah pertama ini dengan nilai bagus dan bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya.” 

Ku usap kepala adikku sambil kutonjok pelan lengan atasnya.

Aku dan Reno tertawa lepas bersama, dan terasa ada ibu di antara kami.

rumamediagrup/hadiyatitriono