Ibu Rumah Tangga, Kenapa Harus Malu

Ibu Rumah Tangga, Kenapa Harus Malu

Ada seorang kawan, ia ini selalu minder jika diajak dalam pertemuan yang diadakan oleh perusahaan, terkadang ia memilih untuk tidak datang dan pada saat datang pun ia memilih untuk menyendiri. Ketika ditanya kenapa tidak pernah mau bergabung dengan yang lain. Jawabannya cukup membuat saya kaget ” Saya minder, saya hanya seorang ibu rumah tangga, bukan wanita karier, bukan juga sarjana. Karena, saya pernah mendengar si A menyampaikan bahwa si B menjadi kesayangannya lantaran si B sarjana, sudah pasti lebih berpendidikan. Meski saat itu tidak menyebut namaku, tapi itu membuatku merasa minder karena memang kenyataanya aku hanya lulusan SMA.

Astaghfirullah, mau gajimu 30jt/bulan, mau kau anaknya direktur, mau kau anaknya pengusaha, tetap saja karier terbaik seorang wanita adalah ibu rumah tangga.

Dalam buku Habibie dan Ainun beliau menuliskan alasan kenapa Ibu Ainun tetap memilih menjadi ibu rumah tangga. Beliau tidak mau menjadi wanita karier. Padahal beliau adalah seorang dokter lulusan Universitas Indonesia.

” Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir, buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan.”

Menjadi ibu adalah tugas mulia. Itulah mengapa islam sangat memuliakan posisi seorang ibu. Lalu, pantaskah jika engkau meremehkannya? Masihkah engkau memandangnya sebelah mata? Tak inginkah engkau menduduki posisi yang mulia itu?

Perlu diketahui, dari seorang ibulah yang akan menciptakan anak-anak yang unggul atau tumpul. Anak-anak yang berprestasi atau nakal penuh sensasi. Anak-anak yang ahli surga atau neraka, yang kelak akan menjadi hero atau zero.

Untukmu emak-emak berdaster, banggalah menjadi ibu rumah tangga, itulah predikat tertinggi seorang wanita, tugasmu begitu mulia. Jika masih ada yang merendahkanmu lantaran pendidikanmu tak setinggi pendidikannya, sekolahmu yang tak sefavorit sekolahnya, beranilah berkata ” Jangan bangga dengan gelar sarjana yang justru dengan mudah membuatmu menghina ibu rumah tangga. Tak taukah engkau, manusia paling mulia (Rasulullah) dilahirkan dari rahim seorang perempuan yang tak ada gelar di belakang namanya.”

Sahabatku, jangan sampai ilmu dunianya sarjana tapi ilmu agamanya SD. Jadilah ibu rumah tangga yang tak pernah bosan untuk belajar memperbaiki kualitas diri. Utamakanlah ilmu agama daripada ilmu dunia. Jadilah seorang ibu yang mampu menerapkan syariat islam dalam keluarganya. Semoga kita mampu menjadi ibu yang menciptakan generasi Qur’ani, berakhlak dan berprestasi.

Sumber referensi buku The Perfect Muslimah.

Rumahmediagrup/Vita