Ibu, Stop Sampai di Dirimu, Jangan Teruskan ke Anakmu

Ibu, Stop Sampai di Dirimu, Jangan Teruskan ke Anakmu

Oleh: Ribka ImaRi

“Bun, Ayah harus pergi ke rumah dokter Di*as,” pamit suamiku sesudah waktu Ashar.

“Hah! Kemana, Yah?” kataku setengah kaget dengan intonasi ketus.

“Emang nggak bisa sekadar teleponan?” tanyaku lagi. Karena aku tahu jarak rumah dokter itu lumayan jauh sekitar 8 km bagi kami yang tinggal di kabupaten.

“Nggak bisa, Bun. Ada webinar. Dia harus login. Kalau harus milih, Ayah juga nggak mau ke luar rumah, Bun” jawab suamiku menjelaskan dengan nada khawatir setengah panik.

“Ya sudah sana. Tapi ingat SOP-nya, loh. Jaga jarak, jangan dekat-dekat. Bawa hand sanitizer, tisu basah, nggak usah bawa tas segala macam, cepat pulang, sampai rumah langsung mandi.” Panjang lebar aku menuturkan SOP yang dikerjakan oleh suamiku sebagai syarat ke luar rumah di saat wabah corona di bulan April 2020 ini.

Jantungku mulai berdegup kencang. Aku mengenalinya sebagai gejala serangan yang mulai berkelebat panik kala melepas suamiku pergi ke luar rumah.

Dengan kondisi negara Indonesia di tengah pandemi global seperti ini, harus ke luar rumah itu bagaikan mau berangkat perang saja.

Aku mulai gelisah menunggu kepulangan suami. Sementara Tyaga dan Jehan semakin aktif di waktu Isya ketika energiku justru mulai lowbat karena belum juga bisa istirahat sejak bangun pukul 4 pagi tadi. Biasanya ada suami yang bisa bergantian mengurus Tyaga Jehan. Setidaknya menanggapi aktifnya keduanya.

Sebenarnya ada rasa ingin marah. Banyak pertanyaan berkecamuk di pikiranku.

“Mengapa juga harus pergi?”

“Apa pulang nanti tidak membawa virus?”

“Pulang kemalaman nanti aku juga yang repot urus semuanya sendiri. Aku sudah capek dan mengantuk.” gerutuku

Namun aku bersyukur sudah punya ilmu mindfulness parenting. Sebuah ilmu mengasuh dengan kesadaran penuh. Sadar bahwa semua kejadian ini sebaiknya dihadapi dengan sabar

Aku sudah bisa mengenali diriku sendiri yang memang sedang sedikit panik akibat memikirkan keselamatan suami. Aku takut suami akan terpapar virus corona dalam perjalanan pekerjaannya. Aku pun tahu suamiku ada rasa panik. Terdengar dari suaranya yang agak keras terkesan membentakku.

Malam ini giliran aku yang hampir terpicu oleh tingkah aktif dari Tyaga dan Jehan. Ini semacam rantai kekerasan. Suami hampir membentakku, aku hampir membentak Tyaga karena mengganggu Jehan terus. Dan sudah dapat dipastikan biasanya Tyaga akan gantian membentak Jehan.

Karena sudah sadar dan paham rantai kekerasan ini, aku segera mengerahkan teknik pausing. Yaitu, jeda sesaat agar tidak sampai membentak Tyaga.

Jeda itu aku lakukan dengan cara, memejamkan mata agar tidak sampai melotot, menggigit bibir supaya tidak mengeluarkan sumpah serapah dan mengepal tangan untuk mencegah aku memukul Tyaga akibat usil terhadap Jehan.

Sambil terus istigfar. Alhamdulillah bisa stabil emosiku melewati malam ini dengan tanpa amarah ke anak. Segala rasa panik itu stop di aku. Tidak ku teruskan kepada kedua anakku. Dengan melampiaskan segala marahku dengan tidak jelas.

Aku “menerima” satu per satu perasaan campur aduk.

Pada akhirnya, atas seizin-Nya aku berhasil menghentikan rantai perlukaan kekerasan akibat rasa panik ini. Sujud syukur.

-Ribka ImaRi-

Pejuang depresi yang 2 tahun lalu masih uring-uringan panik saat ditinggal suami apalagi kembali ke kotanya saat LDM dulu. (Long Distance Marriage).

2 comments

Comments are closed.