IBUK

IBUK

Sebuah Cerpen, hasil pelatihan Sehari Bisa Menulis Buku bersama Rumedia oleh Aisha Astri.

“Le, kok durung muleh?”

Belum sempat aku mengucap halo, suara Ibuk terdengar dari seberang telepon.

“Baru di rumah Galih, Buk. Mangke bibar Magrib Adek pulange,” sahutku sekenanya.

Setelah berpesan untuk hati-hati dan tidak pulang terlalu malam, ibuk menutup teleponnya. Aku kembali fokus pada layar komputer di hadapanku. Bermain games di rumah Galih sebenarnya sudah menjadi keseharian sejak aku duduk di bangku SMA. Seharusnya ibuk sudah tidak perlu bertanya lagi tentang keberadaanku setiap sore.

Tak terasa, jarum telah menunjuk ke angka tujuh, ketika ponselku kembali berdering. Aku hanya meliriknya dan melihat nama kontak ibuk tertera di layar. Baru juga jam tujuh, batinku. Sekali, kemudian berhenti. Dua kali, berhenti lagi, lalu berganti dentingan tanda pesan masuk. Galih yang dari tadi diam saja, kini angkat bicara.

“Siapa sih, Mal? Gila, bunyi mulu dari tadi enggak kelar-kelar. Diangkat napa?”

​“Biasa, emak nyariin. Tadi aku bilang pulang abis Magrib soalnya,” jawabku enteng, tanpa mengalihkan fokus mata dari layar komputer. 

“Lah, terus kenapa masih di sini? Enggak mau pulang?” penuh kebingungan Galih pun bertanya.

Yaelah, baru juga jam tujuh. Tanggung, satu games …” belum selesai bicara, nada deringku kembali terdengar.

“Mending kamu angkat deh, Mal. Serius,” ucap Galih sembari berjalan ke kamar mandi. “Takutnya ada emergency,” sambungnya lagi.

Aku menghela napas panjang, lalu mengambil ponsel dan menekan tombol hijau di sana.

“Ya Allah, Le. Akhirnya diangkat. Neng ndi, Le?” suara Ibuk terdengar bergetar.

“Hah? Adek masih di rumah Galih. Enten napa, Buk?” balasku kebingungan.

“Oalah, Le, Ya, Allah, gek ndang muleh.”

Aku yang merasa nada ibuku berbeda dari biasanya, segera bergegas mengemasi barang dan bersiap pulang.

“Balik?” tanya Galih yang baru keluar dari kamar mandi lalu menghampiriku.

Yoi, aku duluan, ya. Nanti pamitin ke orang tuamu kalau mereka sudah pulang.”

Butuh 20 menit naik sepeda bagiku untuk sampai ke rumah dari tempat tinggal Galih. Ketika aku membuka gerbang rumah, pandanganku langsung disambut ibuk yang duduk di kursi teras sambil menatapku. Pelan kuparkir sepeda di samping rumah, kemudian berjalan mendekati ibuk yang masih duduk. Baru saja membungkuk untuk mengecup tangannya, tiba-tiba ia memukul punggungku.

“Aduh, ampun, Buk! Ampun!” kataku.

Ibuk menatapku dengan air mata yang menggenangi mata jernihnya. Heran sekali aku melihatnya.

“Kenapa, Buk?” tak menjawab pertanyaanku, ia malah memelukku erat.

Baru sekali ini aku merasakan ibuk memelukku seperti ini. Sedikit kaku, kubalas pelukannya.

Ndue anak siji kok senengane marai khawatir,” sekilas kudengar ibuk berbisik.

Setelah melepas pelukannya, ibuk bercerita padaku bahwa tadi ia mendengar kabar ada anak tetangga yang menjadi korban perundungan. Ibuk melihat keluarga tetangga itu keluar rumah dan berteriak histeris setelah menerima kabar keadaan anaknya.

Selama bercerita, ibuk terus menggenggam dan mengusap tanganku. Kulirik sekilas, wajahnya terlihat kalut. Belum pernah kulihat wajah ibuku seperti itu. Baru kusadari setelah menatapnya lekat, bahwa rambutnya tak lagi hitam legam, dan keriput di sekitar matanya mulai nampak. Kerut di dahinya bahkan semakin dalam menunjukkan kerisauan.

Aku tahu kekhawatirannya tidak akan ada habisnya malam ini. Jadi kuputuskan untuk menggenggam tangannya sambil berkata, “Buk, sekedap, nggih.”

Berjalan ke dapur, kuambil cangkir kesukaan ibuk. Kuseduh dua sendok kopi pahit dari bubuk kopi favoritnya. Dengan menambahkan setengah sendok kecil gula, kuaduk perlahan sambil berjalan kembali ke teras.

Niki, kagem Ibuk. Meskipun mungkin enggak seenak buatan Ibuk, tapi buatanku ini penuh cinta, lho, Buk.”

​Tertegun ibuk menatapku lalu tertawa mendengarnya. Diterimanya cangkir kopi pahit itu dan disesapnya pelan. 

“Enak, Le,” gumamnya. Raut wajahnya menjadi lebih tenang, sehingga membuatku lega melihatnya.

Buk, Adek nyuwun ngapura, nggih. Adek sudah bikin Ibuk khawatir karena ndak ngasih kabar,” ujarku sembil menundukkan kepala, terlalu merasa bersalah untuk menatapnya.

“Ora po po, Le. Wes tugase Ibuk khawatir karo anake. Sing penting Ibuk wes ngerti yen Adek sehat lan selamat. Makasih, ya, Le, kopinya.”

Aku mendongak dan menemukan ibuk tersenyum.

(Tamat)

Glossary:

Le: Panggilan untuk anak lelaki
Durung muleh: Belum
Mangke bibar: Nanti setelah
Neng ndi: Ada di mana
Enten napa: Ada apa
Gek ndang muleh: Segera pulang
Ndue anak siji kok senenge marai khawatir: Punya anak satu senang membuat khawatir
Sekedap, nggih: Sebentar, ya
Niki kagem: Ini untuk
Nyuwun ngapura: Minta maaf
Karo: Pada

(Ilustrasi: ReReynilda dengan Canva Apps)

One comment

Comments are closed.