Iman Adab Ilmu

Iman Adab Ilmu

Sering mendengar berita oknum petinggi sebuah instansi mau pun petinggi sebuah negara terciduk karena tersangkut kasus korupsi? Mereka tertangkap tangan melakukan tindakan tak terpuji tersebut ketika masih menjalankan amanah sebuah jabatan atau pun ketika sudah pensiun dari sebuah jabatan. Suatu hal yang memalukan sekaligus memilukan sebab selalu saja ada oknum-oknum yang akhirnya mencoreng dan mengkhianati kepercayaan masyarakat.

Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah orang-orang itu begitu miskinnya hingga tega memakan uang rakyat yang dipimpinnya? Apakah mereka adalah orang-orang tak berpendidikan hingga tak bisa membedakan mana nafkah halal dan haram? Dan apakah mereka tak mengerti ilmu tentang keburukan dari korupsi itu sendiri?

Fakta bahwa nyatanya para koruptor tersebut bukanlah orang biasa-biasa saja, baik dari segi ekonomi, ilmu, dan agama. Mereka adalah orang-orang dengan gelar sarjana yang mentereng dan panjang seperti rangkaian gerbong kereta api. Mereka adalah orang-orang yang mengenyam pendidikan tinggi, bahkan ada yang sudah melaksanakan kewajiban-kewajiban utama dari ajaran agamanya.

Rupanya ada yang tidak balance di dalam 3 faktor utama yang sangat penting dalam membangun karakter manusia yang hanif atau lurus. 3 faktor yang nyatanya tak ada dalam sistem pendidikan sekuler. Diakui secara terbuka atau pun tidak. 3 faktor yang harus balance itu antara lain :

Faktor pertama adalah iman. Seseorang yang beragama dalam arti mempercayai keberadaan Tuhan, pembalasan di hari akhir, adanya dosa serta pahala, akan berbeda saat berperilaku bila dibandingkan dengan mereka yang tak beragama. Orang-orang yang memiliki iman yang kuat di dalam hatinya senantiasa akan memiliki kontrol dalam dirinya untuk melakukan kebajikan dan menjauhi kejahatan. Mereka akan tahu ke arah mana mesti berjalan. Hal ini selaras dengan inti dari ajaran agamanya. Sebab tidak ada agama yang mengajarkan keburukan pada penganutnya, bukan? Sedangkan bagi mereka yang kurang iman, lemah atau bahkan tanpa iman, cenderung akan lebih banyak menuruti hawa nafsunya dalam menjalani setiap episode dalam hidupnya.

Sumber gambar : Quotes Creator

Faktor kedua adalah adab. Adab adalah kemampuan bertingkah laku baik, sesuai dengan tuntunan agama yang berkaitan dengan moral dan etika. Berakhlakul karimah, artinya berakhlak yang baik. Betapa banyak orang berilmu tanpa akhlak yang baik, pada akhirnya menjadi pelaku dari tindakan kriminalitas penggelapan uang milik negara yang notabene berasal dari rakyat. Mereka tak peduli halal haram. Tak peduli apakah perbuatannya tersebut akan menyengsarakan dirinya dan orang lain. Yang ada di dalam pikirannya hanyalah materi dan materi. Uang, kekuasaan dan kesenangan lainnya. Yang dinikmati tanpa batas.

Sumber gambar : Quotes Creator

Faktor ketiga adalah ilmu. Ilmu tentang dunia bila tak disandingkan dengan ilmu agama maka hanya akan menyisakan ketimpangan dalam memaknai arti kehidupan itu sendiri. Kesempatan hidup yang Tuhan berikan seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan banyak hal yang baik dan berguna. Bila tiada pengetahuan akan ilmu agama maka manusia akan bertindak sewenang-wenang karena tidak merasa memiliki kewajiban untuk mempertanggung jawabkan ilmu yang didapatnya dan yang diamalkannya kelak.

Maka perhatikanlah oleh kita semua, bagaimana kehancuran sebuah instansi atau bahkan sebuah negara yang dipimpin oleh orang-orang yang tiada beriman, tak beradab, dan tak berilmu. Takkan ada kesejahteraan bagi orang-orang yang menjadi bawahannya. Yang akan terjadi kemudian hanyalah kebencian, pemberontakan dan protes dari para bawahan ataupun masyarakat yang menuntut penegakan keadilan.

Wallahu alam bishowab.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah