Ini Caranya Mencegah Inner Child Plin-Plan dalam Mengambil Keputusan

Ini Caranya Mencegah Inner Child Plin-Plan dalam Mengambil Keputusan

Oleh: Ribka ImaRi

Selepas magrib di akhir pekan lalu, aku dan sekeluarga bersiap untuk pergi ke Rita Supermall, Purwokerto. Untuk sekadar bermalam minggu ke toko buku dan makan malam bersama di luar rumah.

Tyaga, anak pertamaku yang berusia 7 tahun 10 bulan dan Jehan, anak keduaku yang berusia 5 tahan 5 bulan, sejak sebelum lulus balita sudah terbiasa menyiapkan dan memakai semua pakaiannya sendiri sampai selesai.

Yang menjadi tidak biasa karena saat itu terjadi kesepakatan yang alot mengenai pilihan baju yang akan menjadi pasangan celana yang sudah dipakainya. Tyaga menginginkan kaos berwarna hijau tua yang biasa dipakainya sebagai pasangan celana hitam bermotif. Namun, kaos tersebut belum di setrika. Karena kami hendak bergegas, aku menyarankan untuk memilih kaos yang lainnya.

Karena Tyaga masih bingung, akhirnya aku berpamitan kepada lelaki kecilku untuk membiarkannya memilih kaos yang dikehendakinya.

“Ya sudah Mas pilih dulu ya. Bunda pamit selesaikan cucian baju dulu. Tinggal sedikit lagi.”

Tak berapa lama, Tyaga keluar dari kamarnya dan menyapaku, “Bunda, Mas sudah siap.”

Aku kaget melihatnya memakai baju dengan motif ramai jadi saling bertabrakan. Aku buru-buru tersadar. Istilah “motif bertabrakan” adalah labelling dari masyarakat selama ini. Aku mengenal istilah ini dari mamaku sejak zaman aku kecil.

Setelah aku tersadar, aku segera pausing, yaitu latihan pernapasan beberapa kali dengan menarik napas dan menghembuskannya sampai aku bisa mengerem nada suara dan tidak melontarkan label, “Pakai bajunya kok tabrakan.” Bisa-bisa membuat Tyaga merengut kesal dan menjatuhkan kepercayaan dirinya.

Melainkan kata-kata yang tetap membangun kepercayaan diri Tyaga, “Sebenarnya lebih baik pasangannya pakai kaos warna polos, Mas. Tetapi kalau Mas suka baju itu, ya sudah pakai saja sesuai pilihan Mas. Ayah dan Bunda izinkan kok, Yang penting Mas PD (Percaya Diri) aja.”

Aku meminta suami untuk menyetujui pilihan Tyaga kali ini. Alhamdulillah sekarang kami bisa kompak dalam pengasuhan seperti kasus kali ini. Kami melepaskan label itu, menerima pilihan Tyaga dan menemani Tyaga menikmati pilihannya. Menjadi dirinya sendiri apa adanya.

Jadilah Tyaga bisa berdiri dengan tetap percaya diri berada di tengah mall yang sedang ramai karena ada acara hari Imlek. Pun, Tyaga belajar mempercayai pilihan terbaik untuk dirinya sendiri. Asalkan tetap dibimbing mengenai sebab akibat dan segala konsekuensi atas pilihannya.

Aku dan suami berjuang mengasuh inner child kami lebih dulu yang sedari kecil terbiasa disuruh menurut apa kata orangtua. Bahkan hingga dewasa, aku harus menurut ketika bapak memaksaku mengambil jurusan fakultas hukum. Sedangkan aku bermimpi bisa kuliah bahasa indonesia. Sepertinya ini ada kaitannya dengan passion-ku untuk bisa belajar menjadi penulis saat ini.

Akibat tidak dibiasakan belajar mengambil untuk diri sendiri sedari kecil, membuatku mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan hingga kini. Bahkan setelah memiliki dua anak, terkadang aku masih harus berjuang mengasuh diri sendiri supaya bisa menentukan pilihan sesuai hati nurani. Masih sering bertanya ke suami, “Bagaimana baiknya menurut Ayah?”

Pengalaman masa lalu membuat aku dan suami bertekad memberi kebebasan kepada kedua anak kami untuk menentukan pilihan atau keputusanya masing-masing. Asalkan tetap sopan, tidak melanggar aturan dan nilai agama serta bertanggung jawab bagi dirinya sendiri. Terutama mengambil keputusan untuk masalah besar dalam hidup keduanya kelak.

Hal ini kami lakukan demi mencegah jiwa masa kecil Tyaga dan Jehan terjebak dalam tubuh yang tumbuh dan berkembang membesar tapi masih plin plan. Karena tidak dibiasakan mengambil keputusan bagi dirinya sendiri.

Pada akhirnya aku dan suami menyadari untuk sepakat memberi kebebasan pada Tyaga dan Jehan untuk terbiasa mengambil keputusan sendiri sejak dini. Karena kami sering mendengar ada banyak orangtua di sekitar yang sering mengeluh, “dia mah gede badannya doang, pikirannya kayak bocah.”

Ya, bagaimana mungkin anak belajar mendewasa dalam pikiran jika masalah sepele seperti halnya memilih dan memakai baju sendiri masih saja terbiasa diurusi oleh orangtua sampai besar.

Jadi sebenarnya bukan anak yang belajar dari orangtua, tetapi orangtua yang belajar mengasuh dirinya lebih dulu untuk mengendalikan kendali atas anak dalam membuat keputusan kecil dalam jiwa masa kecilnya anak atau inner child.

Sokaraja, 28 Januari 2020.

Ribka ImaRi-Penyintas Trauma Inner Child