Ini Dia Bukti bahwa Inner Child Itu Nyata!

Ini Dia Bukti bahwa Inner Child Itu Nyata!

Oleh Mentor: Ribka ImaRi

“Mati aja kamu sekalian! Pergi sana keluar rumah! Anak diurusin pada gak tahu diri!” Panjang lebar aku merepet kasar. Entah setan apa yang merasukiku.

Sedetik aku tersadar … kok, suaraku mirip suara bapakku saat memarahiku dulu?

Ya, baru saja aku sangat tega menghardik Tyaga, putra sulungku yang baru berusia 4 tahun 3 bulan di bulan Juni 2016. Hanya karena ia menangis kesal akibat salah pilih ukuran dan karakter sandal yang diinginkannya.

Sebenarnya aku yang salah. Karena memaksa Tyaga memilih sandal yang aku sarankan. Namun, aku seperti kesetanan melempar sandal baru Tyaga. Hampir saja aku cabik-cabik jadi serpihan di dalam tabung mesin cuci.

Deg!

Lagi-lagi kelakuanku mirip bapakku yang pernah menggunting-gunting dompet pemberianku. Dompet yang aku beli dengan cara menyisihkan uang gajianku di tahun 2008 kala itu berubah bentuk menjadi serpihan kulit.

Sedetik aku tersadar bahwa perlakuan dari bapak kala itu sangat menyakitkan baitnku. Setelah teringat peristiwa bapakku mengamuk dan merusak dompet itu, aku jadi tersadar untuk tidak melanjutkan amukanku kepada Tyaga.

Akan tetapi, Tyaga masih tetap menangis. Aku benci melihat raut mukanya. Ia persis aku disaat menangis sangat sedih. Telingaku pekak saat mendengar tangis Tyaga yang sesegukan.

Dulu, aku merasa betapa anehnya aku sebagai ibu. Entah kenapa aku benar-benar tidak tahan mendengar dan melihat Tyaga menangis. Demi melihatnya menangis lama di kamar mandi aku semakin kalap.

Ya, Tuhan … lagi-lagi aku teringat kenangan masa remajaku yang sangat sering menangis di kamar mandi. Karena saking sedihnya atas semua perlakuan bapak yang membuat hatiku sangat terluka.

Aku menyembunyikan tangisku yang tertahan dengan cara menangis sambil mandi. Supaya tidak terdengar oleh orang lain. Pun, bersama air di ember yang kusiramkan ke wajahku dapat meluruhkan air mata yang meleleh di pipi.

Setelah menjadi ibu, aku bertekad tidak ingin mengulangi hal yang sama dengan kebengisan bapakku. Namun, apalah dayaku. Pikiran bawah sadarku telanjur merekam yang jelek. Hingga aku sangat sulit mengendalikan amukanku saat Tyaga menangis.

Aku beruntung mengenal mindfulness parenting di bulan Agustus 2016. Sepanjang tahun 2016-2018 adalah tahun-tahun terberatku menjadi ibu. Sebab semua rekaman masa kecilku (inner child) bermunculan semua bagai rekaman film yang diputar ulang.

Melalui mindfulness parenting aku belajar menyembuhkan satu per satu luka batinku itu.

Berat … sungguh berat. Perih. Sebab aku sangat ingin menghindarinya. Tetapi tidak bisa. Karena yang aku hadapi adalah kedua darah dagingku sendiri.

Setiap kali mengasuh kedua anakku Tyaga (4,5 tahun) dan Jehan (2 tahun) kala itu, aku selalu saja meledak-ledak. Kadang meledak marah. Kadang meledak sedih. Terutama saat menghadapi tangis kedua anakku.

Atas pertolongan Tuhan, akhirnya aku bisa mengendikan amukanku di bulan September 2018. Sejak saat itu, sudah tidak ada lagi amukan berarti. Sudah tidak ada lagi tanganku menyakiti tubuh mungil Tyaga. Sudah tak ada lagi caci maki menyayat hati.

Atas kemurahan Tuhan juga, akhirnya aku bisa mengasuh kelas parenting online. Ada banyak ibu yang saat ini mengalami hal yang sama sepertiku dulu.

Oleh karena itu, aku akan terus berbagi kisahku saat bangkit menyembuhkan luka batinku yang memicu ledakan kemarahan hanya karena hal sepele. Ketika anak menangis.

Yuk! Belajar Bersama di Kulwap GRATIS

“Mengenali Inner Child Diri Sendiri, Suami dan Anak yang Terpicu dari Hal Sepele dalam Aktivitas Sehari-hari”

Mentor : Ribka ImaRi (Penyintas Trauma Inner Child)

Hari: Jumat, 24 Januari 2020

Pukul: 19-22 wib

Silakan klik tautan di bawah ini:

https://chat.whatsapp.com/Da67YMqinap18vEcLRP6zd

rumahmediagroup/ribkaimari