Interaksionisme Simbolik

Sumber gambar : http;//www.femina.co.id/

Interaksionisme Simbolik

Pemilihan paradigma penelitian seringkali tergantung pada tujuan yang akan dicapai dalam penelitian. Jika penelitian tersebut bertujuan untuk memaknai perubahan diri individu akibat interaksinya dalam masyarakat, maka disarankan pada penelitian tersebut menggunakan paradigma interaksionisme simbolik. Apa itu interaksionisme simbolik? Simak penjelasan berikut ini ya.

Pemahaman ini dimulai dari memahami sifat interaksi dalam masyarakat. Ada banyak penelitian terjadi pada lingkup persoalan dalam interaksi masyarakat. Aktivitas sosial yang dinamis terjadi pada individu-individu. Nah, aktivitas sosial ini akan berdampak pada perubahan diri individu tersebut. Perubahan bertindak, berpersepsi, interpretasi atas aktivitas tersebut, bahkan kemudian beraksi. Demikian maka individu dalam hal ini “diri” adalah fokus dari paradigma interaksionisme simbolik.

“Diri” didefinisikan sebagai mana induvidu beraksi dalam aktivitas sosial. Mereka berkomunikasi, menganalisa, dan merefleksikan penilaian pada dirinya dengan cara memberikan label pada dirinya sendiri. Penilaian diri atas interaksi antar induvidu dan atas upaya respon dirinya yang berfungsi sebagai obyek dari aktivitas sosial.

Dalam interaksionisme simbolik ini, konsep “diri” menjadi fokus utama yang diamati. Karena “diri” akan mengendalikan seorang individu dalam berperilaku dan bertindak dalam masyarakat/aktivitas sosial. Dalam prosesnya, dapat menjadi subyek yaitu didefinisikan sebagai “saya” (I) , dan sebagai obyek yang didefinisikan sebagai “ku” (Me). Demikian maka jika seorang individu memainkan perannya maka ia telah sebagai saya, dan jika ia sebagai seperangkat sikap maka ia telah menjadi bagian dari “ku”. Sehingga, dalam diri seseorang tersebut memiliki sikap yang terorganisasikan oleh “ku” dan ia beraksi pada aktivitas sosialnya sebagai saya.

“Diri” dalam interaksionisme simbolik dimaknai dalam proses sosial. Bukan bersifat given. Berproses dalam sikap (saya) atas reaksinya dalam proses sosial yang ia alami. Faktanya, “diri” akan berubah dalam internalisasi atas intepretasi seseorang atas sebuah realitas tertentu. Internalisasi seseorang atas apa-apa yang terjadi dalam komunitas sosial mereka. Respon pada kebiasaan-kebiasaan komunitas sosial. Setiap “diri” akan memahami, menginterpretasikan dan bersikap serta mengambil tindakan terhadap apa-apa yang ia lihat, dengar, pahami dan lakukan dalam tindakan tertentu.

Ketika “diri” berfungsi sebagai subyek, maka ia menjadi “saya” (I) dan hal ini membuka peluang untuk kebebasan tertentu dalam bertindak. Namun, yang terjadi adalah “saya” akan membentuk “ku” dan mempengaruhinya. Demikian selanjutnya dalam prosesnya akan muncul modifikasi konsep “diri” yang baru. Hal ini terjadi akibat dari keberhasilan internalisasi pada dirinya.

Selanjunya, jika “diri” telah memodifikasikan dirinya akibat keinginan “saya” dalam bertindak, maka “diri” akan berkembang. Perubahan wujud “diri” akan memunculkan simbol-simbol baru yang menyamai tindakan sosial. Simbol ini dapat dimaknai secara bersama-sama, dan dapat diterima oleh masyarakat yang melingkupi “saya”. Belum tentu jika pada lingkungan masyarakat yang lain.

“Diri” juga dipahami sebagai hasil produk dialog pada “saya” dan “ku”. Karena perubahan “diri” sebagai hasil perdebatan implusif individu. Individu ini bereaksi tidak semata-mata karena tindakan orang lain, namun juga akibat dari penafsiran dan proses definisi tindakannya dan orang lain. Reaksi ini didasarkan atas penilaian makna-makna atau tafsir-tafsir tersebut. Penggunaan simbol-simbol penafsiran dilakukan melalui menemukan makna dari tiap tindakan orang lain.

Dengan demikian, seorang individu tidak hanya berinteraksi dengan orang lain, namun juga berinteraksi dengan dirinya sendiri. Nah, merujuk dari hal ini semua maka interaksionisme simbolik berfokus pada karakter interaksi khusus yang terjadi pada diri seseorang. Sehingga dalam penelitian interaksionisme simbolik digunakan untuk memahami interaksi seseorang dengan orang lain dan atau dengan dirinya sendiri. Proses interpretatif dalam tiap interaksi.

Aktor utama dalam pendekatan ini adalah “diri”. Interaksi yang dialami “diri”. Seorang individu yang diamati sebagai informan adalah pelaku yang menunjukkan “diri”. Berproses dan berinternalisasi dalam simbol-simbol. Mengendalikan “diri” sebagaimana mereka mengiyakan tindakan mereka sebagai simbol-simbol yang diyakini benar, berbanding lurus dengan simbol-simbol pada kelompok-kelompok sosial yang berada pada lingkungan aktivitasnya.

Semoga bermanfaat.

rumahmediagrup/Anita Kristina