Introspeksi Diri

“Aku butuh sendiri Bu,” ucap Hanif kala itu kuajak untuk bercerita. Hanif seorang siswa yang cerdas dan pandai bergaul. Orangnya supel, ramah terhadap siapa saja. Tak membedakan ini teman, sahabat, wali kelas ataupun bukan. hobinya menyanyi, saat temannya meminta untuk dia menyanyi, tanpa berpikir panjang, diapun bernyanyi dengan senangnya bahkan dia menari sambil menyesuaikan dengan irama lagunya. 

Dia pernah bercerita, “Bu, aku menyukai seseorang, dia cantik dan baik hati.” Hanif tersenyum, matanya menerawang mengingat-ingat apalagi yang akan dia ceritakan. “Suatu saat jika kelak aku sudah lulus sekolah dan telah bekerja, aku akan menikahinya, Bu.” Semangat sekali Hanif bercerita tentang niat dia untuk menikahi gadis pujaannya. 

Siang itu, saat jam istirahat dia ke lantai 3 untuk menemui Ustadz dan sudah terbiasa dia bercerita, terapi kali ini dia setoran hapalan Alquran kepada salah satu Ustdz di sekolahnya. Hanif ini cepat dalam menghapal, dia nampak percaya diri melantunkan ayat demi ayat hapalannya. hingga selesai sampai satu surat. 

Tiba-tiba dalam waktu yang berbeda, Hanif terlihat menjadi pendiam. Dia menemuiku dan bercerita, bahwa dia merasa kehilangan sesuatu. Namun benda yang hilang itu, ternyata pernah dia lihat di temannya. Merk dan warna benda itu sama persis dengan miliknya. Langsung saja dia berkata, “Aku tidak terima Bu, apabila benda saya hilang. Apalagi benda itu adalah benda kesayanganku yang diberika Umi sebagai hadiah. 

“Memang Hanif ada bukti? memang Hanif punya saksi untuk membuktikan bahwa benda itu milik kamu?” Tanyaku dengan pelan-pelan. “Nggak siih bu, aku tak punya saksi dan bukti, akan tetapi benar bu itu milikku. Hanif mempertegas bahwa benda itu miliknya. ”  Ya sudah, nanti akan ibu tanyakan kepada temanmu.”

“Hanif, Hanif, Hanif” suaraku memanggil Hanif. Hanif diam saja, saat kupanggil.
Lalu kudekatinya, dan kusentuh pundaknya. “Hanif” sapaku dalam sepi. “kamu kenapa? kok sendirian saja?” Terlihat Hanif bersedih, raut wajahnya lesu dan tak bergairah. “Aku tak mengapa, Bu. Aku merasa bersedih headset dari mama belum diketemukan. Padahal headset itu, kesayanganku.” jelas Hanif tampak loyo.


“Sudahlah, jangan bersedih, mungkin headset itu sudah bukan milik kamu lagi, mungkin saja kamu lupa menyimpannya. Suatu saat apabila headset itu masih rezekimu, dia pasti kembali padamu. Kita harus bersabar.” Paparku menguatkannya. “Iya Bu, aku hanya membutuhkan kesendirian, aku perlu muhasabah diri, Bu.” jelas Hanif.

rumahmediagrup/suratmisupriyadi