Bolehkah istri berada diantara dua hati

Hubungan yang telah lama terjalin diantara pasangan yang sudah berjanji dan berkomitmen, seharusnya menjaga dengan keyakinan penuh dan percaya.

Namun adakalanya rasa percaya ternodai oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu ada. Ya, ketika pasangan sudah tidak lagi memberikan perhatian, sudah tidak pernah memberikan kebaikan, maka besar peluang untuk mencurahkan perasaan kepada orang lain.

Bagi yang mengerti tentang ilmu dalam berkeluarga, tentu hal ini menjadi beban yang menjadikannya pasangan yang merasa tidak dicintai. Apalagi banyaknya dijaman sekarang, kebebasan berinteraksi yang tiada batas melalui teknologi.

Bukankah dengan bebasnya seorang pasangan yang bisa melakukan aktifitas yang kurang baik dalam tanda kutip mulai menyukai orang lain.

Dalam hal ini biasanya kata selingkuh adalah sebutan yang tepat bagi mereka yang mulai mengacuhkan pasangan halalnya dan bahkan lebih hancurnya lagi membiarkan rumah tangganya tidak diperhatikan.

Semua kembali kepada seorang suami yang harus mengambil kendali, kalau ternyata sikap yang tidak semestinya itu harus segera diakhiri dengan kembalinya perhatian dan curahan kasih sayang hanya kepada istri dan anak-anak di rumah.

Berhati-hatilah bagi suami yang sudah mulai lupa akan kehadiran istri dan anak di rumah, karena bisa jadi hal itu hanya godaan sesaat yang akan menyengsarakan diri anda sendiri.

Tidak ada keinginankah untuk bisa memberikan kebahagian dunia akhirat kepada keluarga? Sementara awal mula perjanjian suci berlangsung ketika mengucapkan ijab kepada istri untuk selalu menjadi pemimpin yang baik bahkan sekaligus pelindung mereka dalam rumah tangga.

Biasanya dalam hal ini istrilah yang selalu dirugikan. Karena dengan bebas suami membiarkan istri berlaku dengan diri sendiri mencari nafkah, mencari hiburan untuk kebahagian diluar karena tidak didapatkan dirumahnya.

Lebih berbahaya jika istri akan berbuat balas dendam akan sikap suaminya yang kurang memberi perhatian dengan cara mencari hati yang lebih memberikan nyaman.

Maka dari itu, yuk saling memberi kasih sayang diantara pasangan suami istri, tetap menjaga janji dan mewujudkan kesakinahan didalamnya, agar kebahagian dengan pasangan tetap selalu dihadirkan.

Istri mana yang akan tahan, jika sikap suaminya yang selalu kasar, jauh dari kata kelemahlembutan, memperlakukan istri sebagai pembantu, seolah-olah orang lain yang tidak perlu dihargai.

Maka semua kembali kepada hati nurani, apakah suami mau melaksanakan tugasnya sebagai kepala rumah tangga, atau kalah oleh ego diri yang masih memikirkan keinginann pribadinya sendiri.

Karena di sini suami memberi peluang terhadap istri untuk diperlakukan sama oleh orang lain. Dalam arti jika seorang suami melirik wanita lain, jangan salah maka istri andapun sedang dilirik laki-laki lain.

Bukan bermaksud mengatakan kejelekan, namun disini kita bisa mengambil hikmah, bukankah istri adalah insan yang membutuhkan kasih sayang, sementara ketika suami tidak memberikannya dan malah salah memberikan perhatian kepada yang lain, maka jangan salahkan pula jika tidak akan ada ketentraman.

Jadi intinya jangan biarkan kesempatan itu ada, dengan selalu memberikan istri dan sebaliknya pasangan selalu bahagia. Karena tidak mudah untuk membagi hati bagi mereka yang memiliki keimanan dan menjunjung nilai sakral sebuah pernikahan.

Ingat, jangan biarkan istri memiliki hati yang lebih memberi kasih sayang kepada yang lain. Begitupun istri, jika suami dah sayang maka jangan coba untuk memberi peluang. Eaaaaaa…

So, masih mau memberikan istri untuk ada diantara dua hati? Semua bagaimana kamu memberikan sikap tentunya, mau peduli atau tidak peduli terhadap istri? Kamu sendiri yang akan merasakan setiap hal tidak baik yang telah dilakukan. Maka tetap berlaku baiklah selama hati ingin tetap dijaga baik pula oleh pasangan.

Foto : dokumentasi pribadi.