Istri Bakhil, Suami Karim

Istri Bakhil, Suami Karim

Itu yang dikatakan pria Arab pemilik toko suvenir saat kami berdua iseng mampir dan melihat-lihat dagangannya.

Seperti biasa, saya menawar barang yang saya suka. Apalagi sudah dapat kisikan dari ibu-ibu yang sudah lebih dahulu shopping, bahwa di deretan toko-toko Bin Dawood, Madinah, harus berani menawar supaya tak kemahalan harganya.

“Berapa ini?”
“100 riyal”
“Wah, mahal. 50 riyal, oke?”
Hihi nawarnya Afgan banget, sadis.

Sang penjual, tersenyum lucu sambil menggamit tangan suami saya, “Istri bakhil, suami karim.”

Haha kami berdua tertawa. Pintar penjual itu merayu suami, menyebutnya “karim…karim,” supaya cepat keluar uangnya, membayari belanjaan istrinya yang bakhil.

Para pemilik toko di Arab, terutama kota-kota yang menjadi tujuan jamaah Umroh dan Haji, rata-rata bisa berbahasa Indonesia.

Kosakata seperti, murah, mahal, ayo, beli, harga gak masalah, size apa, dan lain-lain lumayan mereka kuasai. Tentu sambil dibantu isyarat bahasa ala tarzan, dan tara … transaksi pun terjadi.

“Halal … halal.”

Dan kami pun keluar toko menenteng seplastik belanjaan. Begitulah, demi kelancaran urusan perbelanjaan, komunikasi efektif memang sangat diperlukan.

rumahmediagrup/meikurnia

One comment

Comments are closed.