Istri Pertama Suamiku (1)

Istri Pertama suamiku (1)

Air menggenang di mataku. Rasa sedih kian membuncah memenuhi perasaanku. Aku tak boleh menangis. Setidaknya di depan anak-anakku. Aku tak ingin mereka mengetahui kalau ibunya tengah bersedih.

Biarlah kupendam sendiri rasa ini. Tanpa siapa pun tahu. Kututup rapat-rapat kedua mata. Mencoba menahan segala rasa agar air mata ini tak jatuh berderai.

Ya Allah, sungguh inikah akhir dari segala rasa yang kusimpan selama ini? Yang sudah tak bisa kutahan lagi, sehingga ingin sekali jatuh luruh bersama derainya air yang keluar dengan tetiba dari kedua bola mataku.

Kuatkan aku, Yaa Rabb. Kuatkan aku menahan rasa ini agar tak tertumpah. Aku tak mau siapa pun tahu akan rasa ini. Aku masih ingin memendamnya jauh di lubuk hatiku. Sendiri.

Biarlah heningnya malam saja yang menjadi saksi bisu kedukaan diri. Aku hanya ingin Engkau saja yang menjadi tumpuan rasa deritaku, yang selalu jadi peneduh gundah gulanaku, yang selalu kusebut kala rasa ini hadir secara tiba-tiba.

Sanggupkanlah aku menerima setiap ujian yang masih Engkau mampukan di kedua pundakku ini. Asalkan bersama-Mu, aku pasti akan bisa melewati setiap duka yang kuderita. Cukupkanlah aku dengan apa yang masih tersisa. In Syaa Allah aku mampu. Kuatkan aku bersamamu, Yaa Rahmanku.

Aku masih bertahan sejauh ini. Selalu untuk tetap tegar berdiri, meski hati menjerit. Menangis adalah satu-satunya upayaku. Kutumpahkan di sepertiga malam, mencurahkan luka yang semakin menganga. Kala anak-anak sudah tertidur dalam lelap mimpinya.

Hanya Allahlah tempatku bersandar, meluapkan semua perasaan yang tersimpan di dada, yang sudah hampir meluap karena terpaan badainya semakin kencang. Aku mengadu, berkeluh kesah, mencurahkan semua isi hatiku, menangis tertahan dengan deraian air mata yang membasahi seluruh wajahku.

Apakah aku mampu menjalani ujian yang masih Allah berikan padaku? Rasanya aku sudah semakin tergopoh-gopoh untuk melalui setiap detiknya. Apalagi jika harus terus dan terus menerima terpaan badai itu. Sanggupkah aku melewatinya, Yaa Rabbiku?

Sujud adalah satu-satunya jalanku, setidaknya agar hatiku merasa lebih tenang. Tak terguncang. Meski sakitnya sudah mencapai ubun-ubun. Perihnya terasa seperti tersayat-sayat, dan lukanya mengganjal di kerongkongan.

Aku masih berusaha tetap kokoh. Ingin aku bercerita, hanya berbagi rasa. Tapi pada siapa kutumpahkan segala duka yang aku tanggung ini? Tak ada siapa pun lagi yang bisa kuajak berbagi kisah pilu ini.

Aku pun manusia biasa, yang terkadang ingin menumpahkan segala rasa kala kesedihan datang. Berbagi duka tanpa harus membantu mengatasi masalahku. Cukup didengarkan saja, dikuatkan saja, dan aku tak mendapatkan itu.

Aku seakan kian terpuruk jauh dari semua sahabat-sahabat yang selama ini kupercayai. Pada akhirnya, hanya Allahlah tempatku mengadu, menumpahkan semua perasaanku.

Masih terngiang dalam benakku, tentang apa yang diucapkan suamiku ketika aku dengan sengaja menemuinya di kantor. Membawakan makan siang kesukaannya, hasil dari masakanku sendiri. Seperti biasa.

“Ayah ingin memperkenalkanmu pada seseorang, Bunda,” katanya dengan nada hati-hati.

Aku menoleh, menatapnya heran. Penuh tanya aku menghampiri suamiku, seraya membawakan kotak makan yang berisi nasi dan daging rendang.

“Pada siapa, Ayah?” tanyaku masih menatap dengan serius. Menanti jawaban darinya.

Dia menundukkan kepala. Kemudian meraih kedua tanganku dengan penuh kasih.

“Nanti Ayah akan membawanya ke rumah. Yang pasti dia akan menjadi bagian dari hidup kita nanti. Dan Ayah harap, Bunda akan ikhlas menerimanya.”

Deg. Jantungku rasanya berhenti berdetak sesaat. Memacunya untuk memompa lebih cepat. Mengalirkan darah yang berdesir hebat mengalir ke seluruh tubuhku.

“Apa maksud Ayah berkata seperti itu?” tanyaku heran.

“Ayah akan jelaskan nanti di rumah ya, Bunda.”

“Apa tidak bisa beri tahu saja di sini, Ayah?”

“Waktunya belum tepat bila Ayah harus cerita di sini. Bersabarlah, Bunda pasti akan tahu semua nanti.”

Aku pasrah. Kucoba menata perasaan yang mulai tak menentu. Siapakah orang yang hendak suamiku kenalkan padaku? Dan kenapa orang itu akan menjadi bagian dari hidup kami nantinya?

Sementara itu, terlihat semburat bahagia yang terpancar dari wajah suamiku, yang tengah menikmati makanannya dengan lahap. Kebahagiaan yang selalu ingin kurasakan seumur hidup.

Kutepiskan perasaanku yang mulai berpikir tak karuan. Aku harus berpikir husnudzon terhadap suamiku sendiri. Selama ini, ia sudah menjadi suami yang baik untukku dan ayah yang bijak bagi kedua anak kami, Raja dan Putri.

Aku selalu percaya padanya. Pernikahan kami yang sudah berjalan selama sepuluh tahun, sejauh ini baik-baik saja. Aku dan suamiku mempertahankan biduk rumah tangga kami dengan berlandaskan kasih sayang dan kepercayaan.

“Bunda‚Ķ.”

Aku terlonjak kaget saat tangan suamiku meraih pundakku perlahan. Aku menyunggingkan senyum termanisku untuknya. Kami melewati jam makan siang bersama. Menikmati masakan yang kubawa.

Tampak suamiku melahap makanannya dengan penuh sukacita. Bahagia sekali bisa selalu melihatnya seperti itu. Aku mencintai suamiku, sangat mencintainya.

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja