Istri Pertama Suamiku (2)

Istri Pertama Suamiku (2)

Air mataku mengalir perlahan. Dunia seakan gelap seketika di mataku. Hatiku porak poranda tertiup angin badai yang tetiba menerpa hidupku. Seperti guntur menggelegar di siang bolong, ucapan suamiku begitu tajam menghujam jantungku. Seakan mimpi buruk dengan kedatangan perempuan itu bersama suamiku.

“Kenalkan Bunda, ini Adelia, istri pertama Ayah.”

Sebaris kalimat yang terlontar dari mulut suamiku, telah mampu meruntuhkan mahligai yang selama ini kutanam dan kujaga dengan sedemikian rupa, agar tak tergoyahkan oleh badai apa pun juga. Tapi ucapan itu, telah mampu meluluhlantakkan semua rasa yang ada dalam hatiku. Teramat sakit kuterima kenyataan kalau istri pertama suamiku telah kembali.

Sejak awal pernikahan kami, memang suamiku jujur mengatakan tentang perkawinannya yang pertama. Sebuah kecelakaan telah merenggut kebahagiaan mereka, yang baru menginjak satu tahun usia pernikahan. Ketika itu, Adelia, istri pertama suamiku, tengah dalam perjalanan dari Jakarta menuju kota kelahirannya, Lhokseumawe, Aceh.

Pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan di tengah perjalanan. Seluruh tempat di sekitar jatuhnya pesawat telah disisir. Hutan di sekitarnya pun ikut dijelajahi demi mencari korban selamat. Dan hanya Adelia yang jasadnya tak ditemukan. Kemungkinan besar ia hilang ditelan dalamnya lautan, yang tak jauh dari tempat jatuhnya pesawat.

Tim SAR yang membantu pencarian para korban selama sebulan lamanya, akhirnya memberi pernyataan kalau Adelia dinyatakan hilang tanpa jejak, yang artinya kemungkinan besar ia telah meninggal dunia.

Namun rupanya takdir telah menyelamatkan nyawanya. Ia berhasil selamat dari kematian yang telah disangkakan padanya. Dan kini, ia kembali ke dalam kehidupan suamiku. Menjadi bagian dari rumah tangga yang telah kubangun bersama suamiku selama sepuluh tahun lamanya. Wajar bila aku merasa terganggu dengan kehadirannya dalam kehidupan kami.

“Adelia selama ini telah kehilangan ingatannya. Sepasang suami istri telah merawat dan memberikan kehidupan, hingga ia bisa mengingat kembali masa lalunya.”

Aku tak tahu harus berkata apa. Derai air mata yang jatuh di pipiku sudah mewakili perasaanku saat ini. Sakit, perih, benar-benar seperti mimpi buruk yang ingin segera kuakhiri.

Perempuan berkerudung putih yang duduk tak jauh dariku itu hanya menundukkan kepalanya. Tampak ia pun terpukul dengan kenyataan bahwa suaminya telah memiliki keluarga baru. Dan ia pun hanya menangis. Sesekali mengusap air matanya dengan ujung kerudungnya.

“Maafkan Ayah, Bunda. Ini semua di luar kuasa Ayah,” ucap suamiku sembari menggeserkan duduknya.

Ia mendekat ke arahku, meraih tanganku. Aku hanya terdiam dalam kebisuan.

“Awalnya, Ayah pun kaget dengan kedatangan Adelia. Rasanya Ayah tak percaya kalau Adelia masih hidup. Tapi Ayah sadar, ini semua sudah menjadi takdir Allah untuk Ayah, untuk kita semua.”

Aku melihat suamiku. Ada bulir-bulir bening menggelinding dari matanya.

“Kapan Ayah tahu kalau istri pertama Ayah telah kembali?” tanyaku sambil terisak.

“Dua hari yang lalu. Adelia menelepon kantor Ayah, dan kami sepakat bertemu. Ternyata memang benar, dia Adelia, istri pertama Ayah.”

“Lalu, apa yang sekarang akan Ayah lakukan?” tanyaku meminta keputusannya.

Suamiku tampak terdiam sejenak. Menarik napasnya panjang. Mengeluarkan beban yang tengah menghimpit jiwanya.

“Kalian berdua adalah sama-sama istriku. Dan aku harus bertanggung jawab atas diri kalian. Maka aku ingin kalian sama-sama bisa ikhlas menerima kenyataan ini.”

Aku dan perempuan itu saling bertukar pandang. Tatapan kami bertemu selama beberapa saat. Dan membuyar oleh luka yang telah tertoreh dalam hati.

“Adelia, apa kau ikhlas menerima pernikahan kita, sementara aku telah memiliki keluarga yang baru?” tanya suamiku pada perempuan itu.

Adelia mengangguk seraya tersenyum. Terlihat ada ketulusan dalam senyuman itu. Wajahnya begitu teduh meski telah bersimbah air mata. Akh, pantas saja suamiku begitu mencintainya dulu.

“Aku ikhlas, Mas. Aku berharap, Mbak Mega pun akan ikhlas menerimaku dalam hidupnya,” ucap Adelia seraya menoleh ke arahku.

Aku menatap Adelia tajam. Luka itu kembali menghempasku bersama kenyataan pahit. Suamiku yang kupikir adalah milikku seutuhnya, kini harus terbagi dengan istrinya yang lain. Istri pertamanya. Apakah aku begitu jahat bila aku tak menginginkan perempuan itu tak pernah hadir dalam kehidupan rumah tangga kami?

“Bunda, apa kau pun ikhlas menerima Adelia sebagai istri pertama Ayah dan menjadi bagian dalam kehidupan kita?” tanya suamiku, menatapku dengan serius. Ia tampak sangat menantikan jawabanku.

Aku hanya bisa terdiam. Derai air mata menetes lagi dari kedua netraku. Aku belum bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Aku belum bisa ikhlas menerima perempuan lain dalam kehidupan kami. Meski ia adalah istri pertama suamiku.

“Aku belum bisa menjawabnya sekarang, Ayah. Masih sangat sulit bagiku menerima kenyataan ini. Beri aku waktu untuk memikirkan semuanya. Aku ingin sendiri dulu.”

Setelah berkata begitu, aku pun melengos pergi meninggalkan suamiku dan perempuan itu yang tertegun membisu.

Sejenak aku ingin lari sejauh mungkin dari mimpi buruk yang telah menghancurkan bukan hanya hati, tapi juga hidupku, perkawinanku. Rumah tangga yang kujaga, harus dihadiri oleh perempuan lain, orang ketiga dalam kebahagiaan kami, istri pertama suamiku.

‘Kuatkan aku menghadapi kenyataan ini, Yaa Allah,’ rintihku perih.

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja

One comment

Comments are closed.