Istri Pertama Suamiku (3)

Istri Pertama Suamiku (3)

Aku masih belum bisa ikhlas menerima Adelia dalam kehidupan rumah tanggaku. Mungkin karena sepuluh tahun ini, aku hanya pemilik hati suamiku. Tak ada perempuan lain hadir di tengah-tengah kami.

Namun kini, entah perasaan cinta suamiku tumbuh lagi pada Adelia atau tidak, yang pasti kenangan masa lalu mereka yang tak pernah diceritakannya padaku, kembali menyeruak dalam kehidupan mereka.

Nostalgia masa kebersamaan dulu, menjadi harmoni dalam jalinan kasih yang kembali hadir. Mungkin kerinduan yang selama ini terpisah oleh takdir, telah terobati dan menjadi benih-benih cinta yang tumbuh kembali seiring waktu. Dan aku cemburu memikirkan itu.

Yaa Allah…Apakah aku sejahat itu? Sebagai istri kedua, sudah seharusnya aku bisa menerima kenyataan kalau istri pertama suamiku telah kembali. Mungkin hati perempuan itu sama sakitnya denganku, mendapati kenyataan kalau suaminya telah menjalani biduk rumah tangga yang bahagia bersamaku dan kedua malaikat kecil kami.

Sudah hampir sebulan ini, aku berusaha menahan perasaanku yang masih belum bisa berdamai dengan takdir. Sedikit demi sedikit kedua anakku telah mengetahui mengenai Adelia yang kini hadir di tengah-tengah kehidupan kami.

Meski usia Raja dan Putri masih terlalu kecil, tapi mereka mulai menerima Adelia sebagai ibu baru. Terlebih lagi sikap Adelia yang lembut menghadapi anak-anak, membuat mereka tak sulit untuk menerima kehadirannya.

Adelia memang sosok perempuan penuh kasih sayang. Kelembutan hatinya telah mampu membuat anak-anakku jatuh hati. Kesabaran menghadapi tingkah Raja dan Putri yang sedang banyak maunya itu, selalu bisa Adelia turuti.

Kepandaian Adelia dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an telah mampu membuat kedua anakku terpana. Kepiawaiannya dalam berdongeng pun berhasil membuat Raja dan Putri terkesima.

Hingga mereka terkadang minta didongengkan sebagai pengantar tidur atau sering kali minta diajari membaca Al-Qur’an dengan tartil dan tilawah yang menyayat hati.

Bukan hanya kedua anakku yang telah jatuh hati pada Adelia. Suamiku pun sepertinya mulai kembali menumbuhkan benih-benih cintanya untuk Adelia. Cinta yang selama ini ia jaga hanya untukku, kini ia tumbuhkan kembali untuk istri pertamanya.

Aku mungkin terlalu sibuk dengan perasaanku, sehingga aku lupa menjaga perasaan suami dan anak-anakku. Tak salah bila mereka akhirnya berpaling pada Adelia. Sosok perempuan yang peduli pada mereka di saat aku tengah asyik dengan kesakitanku.

Adelia yang sepertinya tulus menyayangi anak-anakku dengan penuh kasih, mengurus keperluan mereka dengan telaten. Sementara aku kian terpuruk dengan dunia yang kucipta sendiri.

Aku masih bingung harus melakukan apa. Sementara tak akan ada yang berubah dengan posisi Adelia. Bahkan sikap anak-anak dan suamiku yang mulai berubah. Menerima Adelia dengan segala yang dimilikinya, dengan segenap kasih dan cintanya. Lagi-lagi aku cemburu.

“Aku ingin Adelia tak sering datang ke rumah kita, Ayah,” kataku pada Mas Angga.

Tampak suamiku mengernyitkan dahinya. Menatapku nanar penuh prasangka.

“Kenapa, Bunda?”

“Aku tak suka saja.”

“Dia berhak datang ke sini kapan pun dia mau, Bunda. Lagi pula, anak-anak tak keberatan Adelia di sini. Dia ibu mereka juga.”

“Hanya aku ibu mereka, tidak dengan Adelia. Jadi dia tidak berhak dekat dengan anak-anakku.”

“Cukup Bunda. Selama hampir sebulan ini kau begitu asik dengan duniamu sendiri. Lebih banyak menyendiri di kamar tanpa memedulikan kami. Jangan salahkan Adelia jika dia mengambil alih tugasmu saat anak-anak membutuhkanmu. Dia berhak atas diriku, juga anak-anak.”

Hancur rasanya mendengar ucapan suamiku yang terkesan membela Adelia. Apakah suamiku tak merasakan kesakitanku yang harus membagi dirinya dengan perempuan lain?

Begitu mudah baginya melupakan kenangan-kenangan manis kami selama ini dengan kehadiran Adelia yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan kami? Akh, betapa sakitnya menerima perlakuan suamiku seperti itu. Semakin hancur rasanya perasaanku dengan pembelaannya terhadap Adelia.

“Aku hanya belum siap menerima Adelia dalam kehidupan kita, Ayah. Rasanya sulit bagiku untuk menerima kalau ada perempuan lain dalam hidup kita sekarang,” ucapku menangis.

“Bunda, Adelia juga sulit menerima kenyataan kalau suaminya telah menikahi perempuan lain dan memiliki dua orang anak dari pernikahannya itu. Tapi ia berusaha ikhlas menerima semuanya. Bahkan bukan hanya menerimaku yang telah beristri lagi, tapi menerima kedua anak kita. Bahkan menyayangi mereka dengan penuh kasih sayang.”

“Ayah tak mengerti. Berbeda ceritanya bagiku dan Adelia. Kalau aku telah terbiasa dengan kehidupan kita, tanpa kehadiran perempuan lain. Sedangkan Adelia, tiba-tiba datang setelah sepuluh tahun lebih ia pergi dari kehidupanmu, dan kembali lagi sekarang mendapati suaminya telah memiliki keluarga. Mau tidak mau ia harus menerima itu.”

“Apa yang membedakannya, Bunda? Kalian di posisi yang sama-sama harus bisa menerima kenyataan kalau Ayah bukan lagi milik kalian seutuhnya.”

“Kau tak mengerti, Ayah,” rintihku kembali terluka.

“Lalu apa yang harus Ayah mengerti darimu lagi, Bunda. Apa Bunda pikir ini juga mudah bagi Ayah? Harus membagi cinta pada dua perempuan sekaligus. Berusaha bersikap adil untuk kalian berdua. Sangat sulit bagi Ayah, tapi Ayah harus mencoba melakukannya. Demi keutuhan keluarga kita.”

Aku menangis tersedu-sedu. Entah apa lagi yang harus kukatakan pada suamiku untuk mewakili, bahwa perasaanku saat ini sedang benar-benar hancur. Begitu sulitnya aku menerima perempuan lain dalam kahidupan kami. Meski ia begitu baik terhadap kedua anakku.

Justru hal itu pula yang membuatku semakin cemburu padanya. Ia bukan hanya telah mencoba merebut posisiku sebagai istri Mas Angga, akan tetapi telah mencuri hati kedua anakku, Raja dan Putri.

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja