Istri Pertama Suamiku (4)

Istri Pertama Suamiku (4)

Aku sudah berusaha menata kembali perasaanku yang sudah hancur berkeping-keping. Kucoba merangkai kembali serpihan hati yang terkoyak bersama kenyataan pahit itu.

Demi keluargaku, demi suami dan kedua anakku, aku harus mengembalikan semuanya seperti sebelum Adelia hadir di tengah-tengah keluarga kami. Meski untuk itu, aku harus mengacuhkan perasaan sakitku. Harus lebih ikhlas menerima kehadiran Adelia yang selalu dibanggakan oleh Raja dan Putri.

“Ibu Adel itu orangnya baik ya, Bunda. Dia selalu memberikan Putri hadiah-hadiah yang dibuat Ibu Adel sendiri. Seperti boneka ini, Ibu Adel yang membuatkannya untuk Putri,” celoteh riang Putri menyesakkan dadaku.

Putri tampak polos menceritakan kekagumannya pada Adelia, seraya memperlihatkan boneka rajut yang dibuat dengan telaten. Boneka berkepang dua itu terlihat lucu dan menggemaskan. Adelia memang ahli membuat kerajinan seperti itu. Ia ahli juga dalam meluluhkan hati anak-anak.

“Iya Bunda. Kaka juga suka dengan Ibu Adel. Dia pintar mengaji. Suaranya bagus sekali. Kata guru tahfidz di sekolah Kaka, kalau seseorang mengajinya fasih dan dilantunkan dengan tilawah yang bagus, maka ia adalah calon bidadari surga.”

Aku menoleh ke arah Raja yang tengah membolak-balikkan buku pelajarannya. Ucapannya terlihat serius. Anak lelaki pertamaku yang usianya masih sembilan tahun itu begitu mengagumi Adelia.

Biasanya Raja begitu memuji-muji diriku dalam segala hal. Entah itu caraku memasak makanan kesukaannya, yang dibilangnya sangat lezat, atau saat aku menelurkan beberapa karya dalam sebuah buku, yang kian hari kian menumpuk di lemari perpustakaan mini kami.

Raja biasanya orang pertama yang akan mengatakan kalau ibunya seorang perempuan hebat, koki hebat, penulis hebat.

Namun entah kenapa, ketika Raja memuji Adelia perihal cara mengajinya, dan mengatakan kalau Adelia adalah calon bidadari surga, hatiku terasa nyeri. Sudah sebegitu dekatnya Adelia dengan anak-anakku? Hingga mereka begitu memuji Adelia dengan penuh kebanggaan.

Apakah aku masih kurang di mata mereka? Terutama dalam membuat kerajinan rajut yang memang tak pernah bisa aku telaten membuatnya. Bahkan untuk mengaji pun, sampai saat ini aku masih diajari ummi Latifah, ustazah yang memimpin di komunitas pengajian yang aku ikuti.

Padahal baru sebulan ini aku mengacuhkan suami dan anak-anakku, tapi rasanya waktu yang sebentar itu telah cukup bagi Adelia mengambil hati mereka. Ia telah berhasil memporak-porandakan hatiku. Kutahan tangis yang ingin tertumpah dari mataku. Aku tak ingin anak-anakku tahu tentang pedihnya perasaanku.

“Maafkan Bunda ya, Sayang, karena selama sebulan ini Bunda mengacuhkan kalian, sehingga segala keperluan kalian harus diurus oleh Ibu Adel.”

“Tidak apa-apa, Bunda. Kami tahu kalau Bunda sedang sakit. Makanya kami tak keberatan kalau Ibu Adel yang mengurus kami,” ucap Raja menatapku.

Aku tersenyum padanya. Senyum yang dipaksakan.

“Kalau Bunda tidak ada, sepertinya kalian akan bahagia karena ada Ibu Adel bersama kalian ya?” tanyaku menyelidik.

“Tidak, Bunda. Bagi Kaka, Bunda yang terhebat,” ucap anak lelakiku itu sambil menghambur ke dalam pelukanku.

Putri yang sebelumnya berada dalam pangkuanku ikut serta memelukku.

“Iya, benar kata Kaka, Bunda yang terhebat,” ucap si kecil menimpali.

Aku tersenyum puas. Bagi mereka aku masih yang terhebat di bandingkan dengan Adelia. Aku tak ingin sosok Adelia semakin melekat dalam diri anak-anakku. Biarlah, cukup suamiku saja yang harus kubagi dengannya. Tidak dengan anak-anakku, pikirku dalam hati.

Yaa Allah, maafkanlah aku yang hina dina ini, yang masih menyimpan rasa cemburu terhadap istri pertama suamiku. Tapi aku melakukan ini untuk kebahagiaanku.

Aku tak ingin semua yang kumiliki selama ini terenggut begitu saja dariku dengan hadirnya Adelia. Aku harus bisa mempertahankan apa yang bisa aku pertahankan.

**

“Aku minta maaf padamu, Mbak,” ucap Adelia saat kami dipertemukan dalam satu kesempatan di rumah.

Adelia datang bersama suamiku sepulang dari kantor. Anak-anak menyambutnya dengan sukacita. Aku melihatnya dengan tatapan tidak suka.

Apa lagi saat Adelia membawakan sekotak cup cake kesukaan anak-anak. Katanya cup cake itu dibuatnya sendiri. Rasanya enak, begitu kata anak-anakku. Aku mencoba mengacuhkan itu, dan melengos ke dapur, melanjutkan pekerjaanku memasak masakan kesukaan suami dan anak-anak. Adelia mengikutiku.

“Aku tidak bermaksud mengusik kebahagiaanmu dan anak-anak, Mbak,” lanjutnya lagi sambil ikut mengupas bawang merah.

“Kebahagiaan keluargaku memang telah terusik semenjak kehadiranmu. Tapi sepertinya aku saja yang terusik, tidak dengan suami dan anak-anakku,” kataku ketus.

“Jika saja aku harus memilih, mungkin lebih baik aku kehilangan ingatanku saja Mbak, agar aku tak bisa lagi kembali pada Mas Angga.”

“Kau melawan takdir kalau berpikir begitu.”

“Ya, mungkin itu lebih baik daripada ingatanku kembali, tapi harus melukai perasaanmu, Mbak.”

“Sudahlah, aku sedang mencoba belajar menerima kenyataan. Semoga aku mampu melakukannya.”

“Aku harap hubungan kita bisa membaik ke depannya, Mbak.”

Aku diam saja. Hanya tersenyum sinis sambil meneruskan pekerjaanku. Sedangkan Adelia, lebih memilih pergi membaur bersama riangnya anak-anak yang tengah menikmati cup cake yang dibawakannya.

Aku mengurut dada pilu. Mencoba menahan rasa sakit yang kembali menyeruak dari dalam dada. Aku tak boleh lemah. Aku harus tetap kuat menghadapi kenyataan ini. Mulai sekarang, aku harus terbiasa, melihat Adelia lalu lalang dalam rumahku.

**

Bersambung..

rumahmediagrup/bungamonintja