Istri Pertama Suamiku (5)

Istri Pertama Suamiku (5)

Aku yang tengah melantunkan ayat ke sebelas dalam surat Az-Zumar, dikejutkan oleh suara dering telepon dari gawaiku. Ternyata suamiku.

[Assalammualaikum, Bunda,] sapa suamiku dari seberang telepon genggamku.

[Waalaikummussalam. Iya Ayah, ada apa?] tanyaku sambil melepaskan mukena.

[Adelia masuk rumah sakit, segeralah Bunda ke rumah sakit ya,] ucap suamiku dengan nada bergetar. Ada kepanikan dalam nada bicaranya.

[Apa yang terjadi dengan Adelia, Ayah?] tanyaku mulai khawatir.

[Nanti Ayah ceritakan di sini, Bunda.]

Aku termenung sejenak. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Adelia, sehingga ia harus masuk rumah sakit?

[Bunda bisa ‘kan ke rumah sakit sekarang?] tanya suamiku lagi, membuyarkan lamunanku.

[Iya tentu, Ayah. Bunda akan segera ke sana. Di rumah sakit mana, Ayah?]

[Rumah sakit Hasna Medika.]

[Baik Ayah, Bunda siap-siap dulu ya.]

[Baik, Bunda. Hati-hati di jalan. Assalammualaikum.]

[Waalaikummussalam.]

Aku meletakkan gawaiku di atas nakas. Segera berganti pakaian untuk segera pergi ke rumah sakit. Aku penasaran juga dengan apa yang terjadi pada Adelia. Apakah ia kecelakaan ataukah sakit?

Setelah kutitipkan anak-anak pada bi Ima, assisten rumah tangga yang baru kembali dari desanya dua hari yang lalu, aku pun segera berangkat menuju rumah sakit, dengan mengendarai taksi online yang sudah kupesan sebelumnya.

Tak memerlukan waktu lama untukku sampai di rumah sakit Hasna Medika. Jaraknya tak begitu jauh dari rumah. Setelah membayar ongkos taksi, aku pun masuk menuju rumah sakit.

Bau obat menyeruak masuk lewat penciumanku. Kutahan hidung dengan kerudung panjangku yang tergerai, agar baunya tak kurasakan lagi.

Setelah bertanya pada bagian informasi mengenai identitas pasien bernama Adelia, aku pun langsung saja menuju ke ruangan tempat Adelia dirawat.

Setelah berdiri di depan pintu ruangan, aku tertegun sejenak, untuk pertama kalinya aku berusaha peduli pada Adelia. Enggan sejenak kakiku melangkah masuk lebih dalam lagi, tapi naluri terdalamku berontak, bagaimana pun juga Adelia adalah perempuan yang baik, ia sudah menjadi contoh yang baik pula bagi anak-anakku.

Aku coba menata perasaanku yang mulai sakit lagi. Aku harus tetap kuat menghadapi ini. Adelia tak seburuk dugaanku. Aku yang harus bisa lebih ikhlas menerimanya.

Kubuka pintu ruangan pelan-pelan. Kumelangkah masuk dengan hati-hati. Tampak terlihat suamiku tengah berdiri menghadap ke arah Adelia yang terbaring di ranjang. Di sisi lainnya, dokter sedang memeriksa keadaan Adelia yang masih tertidur dengan lelapnya.

“Bagaimana keadaan, Adelia? Apa yang terjadi padanya, Ayah?” tanyaku saat berada di samping suamiku.

Dokter tampaknya terkejut melihat kedatanganku. Suster yang berdiri di sampingnya, memerhatikanku dengan seksama.

“Adelia terkena kanker otak stadium akhir, Bunda.”

Deg. Aku benar-benar terkejut mendengar ucapan suamiku. Rasanya tak mungkin Adelia menderita penyakit separah itu. Selama ini, ia terlihat baik-baik saja. Tak pernah kulihat ia mengeluhkan sakit apa pun juga.

“Astagfirullah….”

Hanya kata itu yang mampu ke luar dari mulutku. Aku tak menyangka Adelia menderita penyakit separah itu.

Kutatap wajah pucat yang tengah terbaring lemah tak berdaya itu. Ia begitu tenang, seolah tak ada beban dan derita di hatinya. Diam-diam aku mengagumi kekuatannya menghadapi kenyataan yang terjadi.

Tak terasa kaca-kaca menghalangi pandangku. Hatiku bergetar tiba-tiba memikirkan keadaannya saat ini. Aku mulai simpati. Segera kualihkan pandangku pada dokter dan perawat saat mereka mohon pamit.


“Aku meminta keikhlasanmu ya, Bunda. Mungkin selama Adelia dirawat di rumah sakit, Ayah yang akan menjaganya di sini,” ucap suamiku sesaat setelah dokter dan perawat hilang di balik pintu.

Aku menganggukkan kepala seraya tersenyum ikhlas.

“Rawatlah Adelia sebaik mungkin, Ayah. Dia sangat membutuhkanmu. Lagi pula, ia tak memiliki keluarga selain kita,” kataku berusaha tetap tegar.

Entah kenapa saat mengucapkan kata itu ada rasa yang mengalir ringan, keluar dari dalam dadaku, dan rasanya begitu lega.

“Terima kasih atas pengertianmu, Bunda. Semoga Allah senantiasa memberimu kekuatan.”

Aku mengaminkan ucapan suamiku. Sepertinya ia melihat ada keikhlasan dalam mataku, membiarkannya mengurus Adelia yang tengah dalam kondisi sakit.

**

Sudah lima hari ini aku bolak-balik ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi terbaru Adelia. Suamiku dengan kesetiaannya tak pernah beranjak mendampingi Adelia.

Menurut analisa dokter, umur Adelia tinggal menunggu waktu. Sangat kecil kemungkinan untuknya bisa sembuh secara normal.

Saat hari kedua aku menemuinya, kondisinya masih sangat lemah. Ia tak banyak bicara. Senyuman hangat menyambutku. Pertama kalinya, aku menyambut senyuman itu, tulus untuknya.

Senyuman yang begitu ingin aku berikan untuk menguatkannya. Senyuman yang ingin bisa membuatnya kembali bersemangat untuk hidup. Setidaknya untuk menuntaskan kerinduannya bersama suami kami dan anak-anak.

Kugenggam tangannya. Mencoba mengalirkan kekuatan agar ia bisa lebih lama lagi bertahan hidup. Adelia menatapku sendu. Ada genangan air di kedua netranya yang sayu.

“Mbak…,” panggilnya lirih.

Aku tersenyum menyambutnya. Kali ini aku begitu ikhlas memberikan senyuman ini untuknya.

“Maafkan aku, Mbak,” lanjutnya dengan lemah.

Aku menggeleng.

“Aku yang harusnya minta maaf,” kataku mulai berkaca-kaca.

“Aku datang di waktu yang salah.”

Kembali aku menggeleng.

“Sudahlah, jangan kau pikirkan apa pun saat ini. Kau harus fokus pada kesehatanmu,” ucapku masih menggenggam tangannya.

“Aku hanya meminjam sesaat keluargamu. Ingin merasakan sedikit saja kebahagiaanmu. Meski untuk itu, aku harus melukaimu. Aku minta maaf.”

Genangan air di kedua netranya mengalir perlahan.

“Aku sedang belajar ikhlas menerima kenyataan. Kuharap, kau pun bisa ikhlas menerima takdir kita ini, Kak.”

Pertama kalinya, aku memanggil Adelia dengan panggilan itu. Bagaimana pun juga, ia adalah istri pertama suamiku. Usianya lebih tua dariku. Sudah sepantasnya aku menghormati dengan panggilan yang layak.

Adelia tersenyum.

“Aku sudah ikhlas menerima takdirku. Aku bisa lega sekarang. Aku bahagia, Mbak.”

Aku juga sekarang bisa bernapas lega. Setidaknya beban di hatiku sudah berkurang. Aku sudah bisa menerima kehadiran Adelia dalam kehidupan rumah tanggaku.

**

Bersambung..

rumahmediagrup/bungamonintja