Istri Pertama Suamiku (6)

Istri Pertama Suamiku (6)

Adelia telah pergi. Membawa bahagianya di hati.

Tangis kami terpecah di seantero pemakan umum. Sebagian warga yang ikut mengiringi kepergian Adelia telah pergi meninggalkan gundukan tanah basah yang telah mengubur jasad Adelia. Hanya tinggal aku, suamiku dan anak-anak di sini. Meratapi kesedihan atas kepergian Adelia untuk selama-lamanya.

Aku lega sekarang. Setidaknya, keterpurukan yang sempat terjadi padaku telah memberikan waktu untuk Adelia bisa menikmati kebahagiaan bersama suami dan anak-anakku. Mungkin itu cara Allah, memberikan kesempatan pada Adelia untuk sedikit mendapatkan apa yang diinginkannya.

“Semoga Allah menempatkamu di sisi-Nya dengan sebaik-baiknya. Kami akan selalu mendoakanmu di sini, agar kau senantiasa diberikan tempat yang lapang dan cahaya surga-Nya. Aamiin.”

Aku dan anak-anak mengaminkan doa terakhir yang diucapkan suamiku. Tampak kesedihan menggelayut di wajahnya. Ada bulir bening mengalir di pipinya, segera ia sapu dengan tunggung tangan.

Kami berjalan beriringan meninggalkan tanah pemakaman. Meninggalkan duka yang masih tersimpan dalam hati.

**

“Suster menitipkan sebuah surat untuk Ayah, sesaat setelah Adelia pergi, Bun,” ucap suamiku saat kami tiba di kamar.

Aku menoleh ke arah surat yang suamiku keluarkan dari dalam saku celananya.

“Kita baca sama-sama ya,” ajaknya seraya duduk di atas ranjang.

Aku hanya mengangguk, mengikuti duduk di sampingnya.

Suamiku mulai membuka surat beramplop putih itu. Tulisan yang rapi terpampang jelas, menghiasi selembar surat yang mulai dibaca suamiku.

Assalammualaikum Mas Angga,

Semoga kebahagiaan selalu tercurah kepadamu dan keluargamu.

Mas Angga, Suamiku…

Saat menerima surat ini, mungkin aku sudah tak ada lagi di sisimu.

Begitu berat untukku kembali dalam kehidupanmu, setelah sepuluh tahun aku menghilang. Terlebih lagi, saat aku tahu kalau kau sudah memiliki keluarga baru yang bahagia. Istri yang salehah dan anak-anak yang pintar lagi menggemaskan.

Maafkan aku Mas, karena telah kembali dalam kehidupanmu. Mengusik kebahagiaan keluargamu. Tapi, aku hanya ingin menikmati sedikit saja kebahagiaan di sisa umurku yang tidak lama lagi. Merasakan kembali kasih sayang yang sudah lama tak kudapatkan.

Terutama membaur bersama kedua anakmu. Aku sangat ingin dekat dengan mereka. Merasakan menjadi seorang ibu bagi anak-anakmu, yang tak pernah aku dapatkan selama kita hidup berumah tangga.

Sejak kecelakaan itu, aku tak sedikit pun mengingat masa laluku. Selama sepuluh tahun lamanya aku menjadi Laras, nama yang diberikan orang tua yang menolongku. Ingatanku kembali saat aku terjatuh dari tebing. Saat itulah aku ingat dirimu. Aku ingat semua tentang kita. Tentang pernikahan kita yang bahagia.

Aku mencari dirimu kembali ke kota di mana dulu kita tinggal. Tapi kau sudah tak di sana. Belakangan kutahu kalau kau telah memiliki rumah tangga yang baru bersama istri dan anak-anakmu di kota lain.

Aku ragu untuk menemuimu. Pantaskah aku kembali ke dalam kehidupanmu dan mengusik kebahagiaan rumah tangga barumu? Masih adakah tempat di hatimu untukku bisa kembali setelah sepuluh tahun lamanya aku tak di sisimu?

Aku sempat mundur perlahan. Merelakanmu bahagia bersama rumah tangga barumu. Meski sulit, kucoba berusaha ikhlas melepaskanmu bersama kehidupanmu sekarang.

Akan tetapi, takdir berkata lain. Tiba-tiba aku divonis sakit. Dokter mendiagnosa penyakitku, kanker otak stadium akhir. Sangat kecil kemungkinan untukku bisa sembuh secara normal. Artinya, umurku tak akan lama lagi. Kalau pun aku hidup, itu hanya atas kehendak Yang Maha Kuasa.

Aku pun pasrah. Aku ikhlas menerima takdirku. Tapi, terbesit dalam pikiranku, aku tak ingin di sisa usiaku yang tinggal menghitung hari, sepi dan sendirian. Aku ingin kepergianku dikelilingi oleh orang-orang yang aku sayangi. Aku memutuskan untuk masuk kembali ke dalam kehidupanmu.

Maafkan aku, Mas Angga. Maafkan aku, Mbak Mega. Karena aku terpaksa ingin menumpang hidup bersama kalian. Ingin merasakan kebahagiaan seutuhnya sebagai keluarga, karena aku sudah tak memiliki lagi saudara sejak aku remaja. Hanya Mas Angga yang aku punya.

Maafkan aku juga Mas, karena tak memberitahumu akan penyakitku. Aku sengaja merahasiakannya darimu. Aku ingin, bila tiba saatnya nanti aku pergi, aku telah merasakan kebahagiaan dari kalian.

Maafkan aku Mbak Mega, karena telah singgah sesaat dalam kehidupan rumah tanggamu. Meminjam sejenak suami dan anak-anakmu. Menikmati rasanya kebahagiaan bersama kehadiran mereka.

Aku tahu kau pasti sangat terluka dengan kehadiranku. Tapi bila engkau tahu alasanku, semoga kemarahanmu akan sedikit berkurang untukku. Tolong maafkan aku yang sudah mengusik kebahagiaanmu.

Bila suatu hari nanti aku pergi, tolong maafkan segala khilaf yang telah kuperbuat, agar aku bisa pergi dengan tenang. Terima kasih untuk waktu yang telah kulalui bersamamu Mas Angga, Raja dan Putri. Kalian telah membuat sisa umurku begitu berarti.

Terima kasih juga untuk Mbak Mega, yang berusaha menerimaku meski sulit untuk dilakukan, tapi tetap membiarkanku masuk ke dalam kehidupan rumah tangganya.

Aku kembalikan lagi Mas Angga kepadamu. Jagalah dia dengan segenap kasih sayangmu, karena sesungguhnya ia begitu mencintaimu dan hanya akan menjadi milikmu seutuhnya.

Aku tak pernah marah padamu atas sikapmu padaku, Mbak. Kau berhak melakukan itu. Mungkin jika aku berada di posisimu, aku akan melakukan hal yang sama. Butuh waktu untuk bisa menerima kenyataan kalau suami kita terbagi dengan perempuan lain, apa pun alasannya.

Sampaikan rasa sayangku yang teramat besar untuk Raja dan Putri. Aku bahagia bisa menikmati kebersamaan dengan mereka. Semoga mereka selalu menjadi anak yang saleh dan salehah.

Terima kasih untuk semua waktu yang telah diberikan untukku selama ini. Aku sudah cukup bahagia telah menikmati kebersamaan yang hanya sekejap mata, tapi begitu berarti dalam hidupku.

Aku sekarang bisa pergi dengan tenang. Meninggalkan kenangan yang sudah kutinggalkan bersama orang-orang yang kucintai. Semoga Allah senantiasa memberikan kebahagiaan yang hakiki untuk mas Angga dan Mbak Mega beserta anak-anak.

Salam penuh cinta
Adelia

Tangisku pun tertumpah. Suamiku yang juga meneteskan air mata, segera merengkuhku dalam pelukannya. Kami terbuai dalam duka. Mencoba mengikhlaskan kepergian Adelia, dengan doa tulus, mengharapkan tempat terbaik di sisi-Nya.

***

End

Cerita yang pernah ditulis 28 Maret 2018. Pernah dimuat di akun Facebook dan Wattpad.

rumahmediagrup/bungamonintja