Kisruh BPJS Kini Menimbulkan Banyak Polemik

Maaf seribu kali maaf, saya hanya seorang penulis yang sedikit peka terhadap permasalahan yang kini sedang membara terjadi.

Keadaan yang Panas sudah pasti karena bukan hanya mereka yang duduk di atas sebagai wakil rakyat, saya yang juga ikutan rutin membayar iuran ini itu, merasa ingin mengeluarkan pendapat. Terlepas dari baik atau tidak baiknya memberi kata untuk diluahkan. Semoga Allah SWT memaafkan.

Pro kontra tentang BPJS ini memang sejak lama. Saya yang bukan seorang pegawai negeri ternyata terseret juga untuk mengikuti iuran ini. Dengan penuh sedikit keterpaksaan saya selalu berusaha melunasi meski belum tepat di waktu ketentuan.

Padahal apakah mereka tidak memikirkan dengan matang, ketika rakyat kecil yang belum cukup penghasilan harus memikirkan hal pelik ini. Bagi mereka termasuk saya di dalamnya, terkadang merasa terbebani. Meski tetap selalu dijalani.

Bagaimana tidak, begitu banyaknya kebutuhan yang hampir semuanya harus saja menggunakan uang, membuat trenyuh perasaan untuk jungkir balik memutar pemikiran agar semua dapat teratasi dengan sesegera mungkin.

Contoh pengalaman kecil saya, dibilang lucu silahkan, mau dibilang sadis juga terserah. Terbayangkan dengan berbagai pengeluaran di dalam keluarga, saya masih harus menyisihkan untuk membayar iuran BPJS, yang merasa manis jika bisa kita tabung.

Mungkin saat ini masih berandai-andai untuk bisa masuk antrean panjang. Terbayang ketika situasi mendesak kebutuhan berbarengan, antara memenuhi kebutuhan keluarga atau membayar iuran setoran BPJS.

Bagi yang berpenghasilan berlebihan mungkin bukanlah hal sulit, bahkan mungkin bisa jadi banyak pula yang enggan membayarkannya.

Namun semua kembali kepada hati nurani, sebenarnya apa yang diharapkan dan diwujudkan dari iuran BPJS yang ternyata sekarangpun ada kenaikan, di kelas III mandiri sekalipun.

Meski beberapa kali saya harus menumpuk tagihan pembayaran BPJS. Yang pada akhirnya kadang suka berpikir, apakah saya mendapatkan penghasilan untuk dibayarkan iuran kesehatan tanpa ada ujung? Wallohu’alam

Foto : dokumentasi pribadi